Doa untuk Negeri; Doa Nabi Ibrahim untuk Mekkah
Kota Mekkah adalah tanah yang tandus, Nabi Ibrahim pun melakukan doa untuk Negeri Mekkah agar menjadi wilayah yang aman dan melimpah.
Kota Mekkah adalah tanah yang tandus, Nabi Ibrahim pun melakukan doa untuk Negeri Mekkah agar menjadi wilayah yang aman dan melimpah.
Sebagai manusia, kita semua tentu tidak ingin menjadi Bodoh (Jahil) dan menjalani hidup dengan baik dan benar di mata Allah.
Doa agar Tidak Menjadi Bodoh (Jahil); Doa Nabi Musa saat Berdebat Read More »
Buku-buku sejarah, khususnya yang terkait dengan sejarah Nabi Muhammad Sallallàhu ‘alaihi wasallam (as-sìrah an-nabawiyyah) dan al-maghazi merupakan sumber penting untuk mempelajari pola kehidupan Rasulullah. Fase-fase kehidupan beliau dan para sahabatnya. Umumnya, buku-buku yang terkait dengan sìrah dan maghàzì mendasarkan informasinya pada riwayat-riwayat, baik hadis Nabi Sallallàhu ‘alaihi wasallam, pernyataan para sahabat maupun tabi’in. Terdapat juga
Berikut adalah beberapa kitab yang merupakan sumber pokok dalam mempelajari hadis-hadis Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam: a. al-Muwatta’. Buku ini disusun oleh Imam Màlik bin Anas (w. 179 H), yang disusun dengan berdasarkan bab-bab tertentu. Selain memuat hadis-hadis yang sanadnya bersambung hingga Rasulullah, buku ini juga memuat pendapat beberapa sahabat dan fatwa dari kalangan tabi’in.
Kitab-kitab tafsir Al-Qur’an yang disusun para ulama merupakan salah satu sumber pokok bagi kita untuk mendalami makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Namun, oleh karena buku-buku tafsir demikan banyak dan beragam, maka daftar berikut ini difokuskan pada buku-buku tafsir dengan metode bil-ma’tsur. Yaitu model tafsir yang mengetengahkan riwayat-riwayat hadis sebagai dasar penafsiran yang juga memuat asbàbun-nuzùl
Dha‘ìf Hadis yang tidak memenuhi syarat Hadis maqbùl (dapat diterima) disebabkan sanad terputus, perawi yang cacat dan lemah hafalannya, atau terdapatnya keganjilan atau cacat, baik dalam sanad maupun matannya. Gharìb Hadis yang diriwayatkan hanya oleh satu orang perawi dalam satu atau beberapa tingkatan sanadnya. Haddašanà fulàn atau haddašanì fulàn Ungkapan seorang perawi untuk menjelaskan bahwa
“Perbanyaklah bersujud. Karena tidaklah kamu bersujud sekali, kecuali Allah akan mengangkat satu derajat untukmu dan menghapus satu kesalahan darimu.” (HR. Muslim). Dari sahabat Rabi’ah Ibn Ka’ab al-Aslami radhiyallahu anha, ia berkata, “Suatu hari aku bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, aku menyiapkan air wudhu’ dan keperluan beliau, kemudian beliau berkata, ‘Mintalah sesuatu kepadaku!’ Aku menjawab,
Apakah salat Isyraq sama dengan salat Dhuha? Para ulama berbeda pendapat perihal apakah salat Isyraq adalah sama dengan salat dhuha atau bukan. Sebagian ulama menyamakan salat Isyraq dan salat Dhuha. Tetapi ulama lain membedakan salat Isyraq dan salat sunnah Dhuha. Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadak meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa salat Isyraq adalah salat awwabin (orang
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَۖ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا Pada sebagian malam lakukanlah salat tahajud sebagai (suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji. (QS. 17. Al-Isra’;79) Hadis Qudsi “Tuhan kita, Allah tabaraka wa ta’ala ‘turun’ setiap malam ke langit dunia di saat sepertiga malam akhir. Kemudian Allah berfirman,
Dinamai salat Awwabin sebab orang yang menjalankannya itu kembali kepada Allah dan bertobat dari kesalahan yang ia lakukan pada siang hari. Karenanya, ketika ia melakukannya berulang-ulang, maka hal itu merupakan penanda kembalinya ia (bertobat) kepada Allah ta’ala. Sebagian ulama menyatakan Salat Awwabin juga disebut “salat ghaflah” (salat lalai). Disebut demikian karena umumnya orang cenderung lalai