Apakah salat Isyraq sama dengan salat Dhuha?
Para ulama berbeda pendapat perihal apakah salat Isyraq adalah sama dengan salat dhuha atau bukan. Sebagian ulama menyamakan salat Isyraq dan salat Dhuha. Tetapi ulama lain membedakan salat Isyraq dan salat sunnah Dhuha.
Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadak meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa salat Isyraq adalah salat awwabin (orang yang tobat), yaitu salat Dhuha. Salat sunnah ini dinamai demikian berdasarkan hadits “Tiada yang melazimkan salat dhuha kecuali orang yang tobat.” (HR Al-Hakim. Menurutnya, hadits ini shahih menurut syarat yang digunakan Imam Muslim) (Lihat Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz III, halaman 214)
Sedangkan bagi yang menganggap berbeda, didasarkan atas hadis “Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam berdiri untuk salat dua rakaat ketika matahari terbit dan ketika matahari mulai menjulang tinggi dari arah timur, yaitu saat seperempat siang, Rasulullah kembali melakukan salat empat rakaat” (HR. at-Tirmidzi)
Serta menganggap jumlah rakaat shalat Isyraq hanya terbatas dua rakaat saja. (Syekh Sulaiman al-Jamal, Hasyiyah al-Jamal, juz 4, hal. 311). Sedangkan bagi yang menganggap salat Isyraq sama dengan salat Dhuha mengatakan maksimal salat adalah 8 rakaat. Pada saat rakaat pertama shalat Isyraq disunnahkan membaca surat adh-Dhuha, dan pada rakaat kedua disunnahkan membaca surat al-Insyirah (alam nasyrah).
Berikut adalah niat untuk salat Isyraq, yaitu :
أصلي سنة الإشراق ركعتين مستقبل القبلة لله تعالى
Ushallî sunnatal Isyraq rak‘ataini mustaqbilal kiblati lillaahi ta‘aalaa.
“Saya niat salat sunnah Isyraq dua rakaat karena Allah ta’ala.”
Doa setelah salat Isyraq
اللّهُمّ يا نُوْرَ النُّوْرِ بِالطُّوْرِ وَكِتَابٍ مَسْطُوْرٍ فِي رَقٍّ مَنْشُوْرٍ وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنِيْ نُوْرًا أَسْتَهْدِيْ بِهِ إِلَيْكَ وَأَدُلُّ بِهِ عَلَيْكَ، وَيَصْحَبُنِيْ فِي حَيَاتِي وَبَعْدَ الْاِنْتِقَالِ مِنْ ظُلّامِ مِشْكَاتِي، وَأسْأَلُكَ بِالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا، أَنْ تَجْعَلَ شَمْسَ مَعْرِفَتِكَ مُشْرِقَةً بِيْ لَا يَحْجُبُهَا غَيْمُ الْأَوْهَامِ، وَلَا يَعْتَرِيْهَا كُسُوْفُ قَمَرِ الْوَاحِدِيَّةِ عِنْدَ التّمَامِ، بَلْ أَدِمْ لَهَا الِإشْرَاقَ وَالظُّهُوْرَ عَلَى مَمَرِّ الْأَيَّامِ وَالدُّهُوْرِ، وَصَلِّ اللَّهُمَّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِّلهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَلِإِخْوَانِنَا فِي اللهِ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتاً أَجْمَعِيْنَ
Allahumma Ya Nuran-Nuri bit-thuri wa kitabim-masthuur, fi roqim-mansyur wal-baitil-ma’mur. As-aluka An-Tarzuqoniy nuuron Astahdiy bihi ilaika wa adullu bihi ‘alaika. Wa Yash habuniy fi hayatiy wa ba’dal-intiqol min dzulami misykatiy. Wa As-aluka bisy-syamsi wa dhuhaha, wanafsiw-wama sawwaha, an taj’ala syamsa ma’ripatika musyriqotan biy la yahjubuha ghaimul-auham. Wa la ya’tariyha kusupu qomaril-wahidiyah ‘indat-tamam, bal adim lahal-isyraqo wa dzuhuro ‘ala mamaril-ayaami wadz-dzuhur. Wa shalli Allahumma ‘ala sayidina Muhammadin khotamil-anbiyaa-I wal-mursalin wal-hamdulillahi robbil-‘alamiin. Allahummaghfir lana wa liwaalidiinaa wa li-ikhwaninaa fillahi ahyaa-an wa amwatan ajma’iin.
“Ya Allah, Wahai Cahayanya Cahaya. Dengan wasilah bukit Thur dan Kitab yang ditulis pada lembaran yang terbuka, dan dengan wasilah Baitul Ma’mur. Aku memohon padaMu agar Engkau memberiku cahaya, yang dengannya aku dapat mencari petunjuk-Mu. Dan dengannya aku menunjukkan tentangMu.
Dan yang terus-menerus mendampingiku dalam kehidupanku dan setelah berpindah (ke alam lain; yakni kebangkitan dari kubur) dari kegelapan lubang (kubur) ku.
Dan aku memohon pada-Mu dengan wasilah matahari serta cahayanya di pagi hari, dan kemulyaan yang wujud pada selain matahari, kiranya Engkau menjadikan matahari ma’rifat pada-Mu (yang ada padaku) bersinar menerangiku, tidak tertutup oleh mendung-mendung keraguan, tidak pula terlintasi gerhana pada rembulan kemaha-esaan dikala purnama. Namun jadikanlah padanya selalu bersinar dan selalu tampak, sepanjang hari dan tahun.
Dan curahkanlah rahmat Wahai Allah kepada junjungan kami Nabi Muhammad, sang penutup para nabi dan Rasul. Dan segala Puji hanya bagi Allah tuhan seru sekalian alam. Ya Allah ampunilah kami, kedua Orang tua kami dan kepada saudara-saudara kami seagama seluruhnya, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal”
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.83-85
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.