Dinamai salat Awwabin sebab orang yang menjalankannya itu kembali kepada Allah dan bertobat dari kesalahan yang ia lakukan pada siang hari. Karenanya, ketika ia melakukannya berulang-ulang, maka hal itu merupakan penanda kembalinya ia (bertobat) kepada Allah ta’ala.
Sebagian ulama menyatakan Salat Awwabin juga disebut “salat ghaflah” (salat lalai). Disebut demikian karena umumnya orang cenderung lalai pada saat antara Maghrib dan Isya karena disibukkan dengan aktivitas lain seperti makan malam, tidur, dan lain sebagainya.
Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa salat dhuha adalah salat awwabin. Berdasarkan hadis “Tiada yang melazimkan salat dhuha kecuali orang yang tobat.” (HR Al-Hakim. Menurutnya, hadits ini shahih menurut syarat yang digunakan Imam Muslim) (Lihat Abu Zakaria Al-Anshari, Asnal Mathalib, juz III, halaman 214).
Bagi yang menyatakan salat sunnah awwabin adalah salat yang dilakukan setelah maghrib, berikut adalah niatnya:
اُصَلِّى سُنَّةَ الأَوَّابِينَ رَكَعَتَيْنِ للهِ تَعَالَى
Usholli sunnatal awwabina rak’ataini lillahi ta’ala.
“Saya niat salat sunah awwabin dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
(1) Salat pertama, sesudah membaca fatihah pada raka\’at pertama, bacalah Surah al-Ikhlas 6x, surah AI-Falaq 1x dan surah An-Nas 1x, demikian pula pada raka\’at kedua.
(2) Salat kedua, sesudah Al-Fatihah boleh membaca apa saja surah yang dikehendaki.
(3) Salat ketiga, pada raka\’at pertama sesudah surah AI-Fatihah, bacalah surah Al-Kafirun dan pada raka\’at kedua surah Al-Ikhlas.
Doa Setelah Salat Sunnah Awwabin
ﺍَﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲْ ﺃَﺳْﺘَﻮْﺩِﻋُﻚَ ﺇِﻳْﻤَﺎﻧِﻲْ ﻓِﻰْ ﺣَﻴَﺎﺗِﻲْ ﻭَﻋِﻨْﺪَ ﻣَﻤَﺎﺗِﻲْ ﻭَﺑَﻌْﺪَﻣَﻤَﺎﺗِﻲْ ﻓَﺎﺣْﻔَﻈْﻪُ ﻋَﻠَﻲَّ ﺇِﻧَّﻚَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ شيْئٍ ﻗَﺪِﻳْﺮٌ
Allahumma inni astawdi’uka imani fi hayati wa ‘inda mamati wa ba’da mamati fahfadzhu ‘alayya innaka ‘ala kulli syai-in qodir.
Ya Allah, saya titipkan imanku baik ketika aku masih hidup, pada saat meninggal dan setelah meninggal. Jagalah iman tersebut untukku, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.95-96
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.