Ibnu Umar Radiallahu Anhu meriwayatkan, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Jadikanlah salat witir sebagai akhir dari salat malam kalian.” (HR. Bukhari Muslim)
Rasullullah bersabda “Sesungguhnya Allah adalah Esa dan menyukai yang ganjil, karena itu, berwitirlah kalian wahai para ahli al-Quran.” (HR. at-Tirmidzi)
Rasulullah bersabda \”witir itu adalah hak setiap muslim, siapa yang lebih suka witir lima rakaat, maka kerjakanlah, dan barang siapa yang lebih suka witir satu rakaat, maka kerjakanlah.\” (HR. Abu Daud dan an-Nasa\’i).
Dari Jabir Ibn \’Abdillah Radiallahu Anhu menuturkan, \”rasulullah bersabda: \”barang siapa yang merasa tidak akan sanggup bangun pada akhir malam, hendaklah ia menyegerakan salat witir pada permulaan malam, siapa yang mersa sanggup bangun pada akhir malam, berwitirlah pada akhir malam, karena salat pada akhir malam itu dihadiri (para malaikat), dan itulah yang paling utama.\” (HR Muslim, al-Tirmidzi, Ibn Majah, dan Ahmad)
Di antara salat sunnah muakkad (yang sangat dianjurkan) adalah salat witir. Witir secara bahasa berarti ‘ganjil. Karena salat ini memang harus dilaksanakan dalam jumlah ganjil. Salat witir tidak dianjurkan berjamaah kecuali pada bulan Ramadhan. Meskipun witir boleh dilaksanakan hanya 1 rakaat (sebagai jumlah minimal) tetapi yang utama dilakukan adalah 3 rakaat, kemudian 5, 7, 9 dan jumlah maksimal adalah 11 rakaat.
Pada dasarnya witir merupakan salat penutup bagi salat malam. Artinya, witir sebaiknya dilaksanakan setelah melakukan berbagai salat sunnah malam. Seperti setelah salat tahajjud, hajat, istikharah dan lain sebagainya.
Menyambung rakaat witir merupakan menyalahi hal yang utama (khilaf al-aula) pada selain tiga rakaat. Sedangkan menyambung tiga rakaat witir (sekaligus) dihukumi makruh, sebab adanya larangan dalam hadits Nabi: ‘Janganlah kalian menyerupakan salat witir dengan salat maghrib’.” (Syekh Zainuddin al-Malibari, Fathul Muin, juz 1, hal. 289)
Maksud dari keterangan di atas adalah Jika seseorang melaksanakan witir lebih dari tiga rakaat, maka dilakukan setiap dua rakaat salam dan ditutup dengan satu rakaat. Bila melaksanakan tiga rakaat boleh dilakukan langsung rakaat seperti salat Maghrib. Tetapi sebagian ulama melihat bahwa dipisah lebih utama, yaitu dua rakaat salam lalu satu rakaat, sebagaimana keterangan hadits \”Janganlah menyamakan witirmu dengan Maghrib\”.
Adapun niat salat witir, yaitu:
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri rak’atan mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta‘âlâ
“Aku niat salat sunnah witir satu rakaat menghadap kiblat karena Allah ta’ala.”
أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatan minal witri rak’ataini mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta‘âlâ
“Aku niat salat sunnah witir dua rakaat menghadap kiblat karena Allah ta’ala.”
اُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكْعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatan minal witri tsalâtsa raka‘âtin mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta‘âlâ
“Aku niat salat sunnah witir tiga rakaat rakaat menghadap kiblat karena Allah ta’ala.”
(!) Jika salatnya satu rakaat maka bacaan surah yang dianjurkan adalah membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas setelah membaca surah al-Fatihah.
(2) Jika salatnya tiga rakaat maka bacaan surah yang dianjurkan adalah membaca surah al-A’la pada rakaat pertama, membaca surah Al-Kafirun pada rakaat kedua, dan membaca surah al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat yang ketiga.
(3) Jika salatnya melebihi tiga rakaat maka disunnahkan membaca surah Al-Qadr di setiap awal rakaat, dan membaca surah al-Kafirun pada rakaat yang kedua. Kemudian pada tiga rakaat terakhir membaca seperti pada nomor (2). (Sayyid Muhammad Abdullah al-Jurdani, Fathul Allam bi Syarhi Mursyidil Anam, [Bairut: Dar Ibnu Hazm, Lebanon, 1997], juz II, h. 73).
Doa Setelah salat Witir
أَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْاَلُكَ إِيْمَانًا دَاِئمًا وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا وَنَسْأَلُكَ عَمَلًا صَالِحًا وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ وَنَسْأَلُكَ الْغِنَى عَنِ النَّاسِ أَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخَشُعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا أَللهُ يَا أَللهُ يَا أَللهُ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allahumma innaanas aluka iimaanan daa iman, wanas aluka qalban khaasyi\’an. Wanas aluka ilman naafi\’an, wanas aluka yaqiina shaadiqan. Wanas aluka \’amalan shaalihan. Wanas aluka diinan qayyiman. wanas aluka khairan katsiiran. Wanas alukal afwa wal \’aafiyata. Wanas aluka tamaamal aafiyati. Wanas alukasy syukra alal \’aafiyati. Wanas alukal ghinaa a \’anin naas. Allahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa, washiyaamanaa, waqiyaamanaa watakhs syu\’anaa, watadharru\’anaa, wata \’abbudanaa, watammim taqshiiranaa yaa allah yaa allah yaa allah, yaa arhamar raahimiina, washallallaahu alaa khairi khalqihi muhammadin wa \’alaa aalihii washahbihii ajmain. walhamdu lillaahi rabbil \’aalamiin.
\”Ya Allah, kami mohon pada-Mu, iman yang langgeng, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar,amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang banyak.kami mohon kepada-Muampunan dan kesehatan, kesehatan yang sempurna, kami mohon kepada-Mu bersyukur atas karunia kesehatan, kami mohon kepada-Mu kecukupan terhadap sesaama manusia. Ya Allah, tuhan kami terimalah dari kami: salat, puasa, ibadah, kekhusyu\’an, rendah diri dan ibadaha kami, dan sempurnakanlah segala kekurangan kami. Ya allah, Ya allah, Ya allah, Tuhan yang Maha Pengasih dari segala yang pengasih. Dan semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada makhluk-Nya yang terbaik, Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, demikian pula keluarga dan para sahabatnya secara keseluruhan. Serta segala puji milik Allah Tuhan semestra alam.”
Pada bulan Ramadan, salat witir dianjurkan untuk dilaksanakan berjamaah setelah salat tarawih. Serta sebagian ulama menambahkan qunut pada rakaat terakhir salat witir di 15 hari terakhir (tanggal 16-29/30 Ramadan)
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.114-117
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.