Tata Cara Salat Sunnah Ied (‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha)

Diriwayatkan dari Ummu \’Atiyah Radiallahu Anha. ia berkata: Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam. memerintahkan kami keluar pada \’Idul Fitri dan \’Idul Adha semua gadis-gadis, wanita-wanita yang haid, wanita-wanita yang tinggal dalam kamarnya. Adapun wanita yang sedang haid mengasingkan diri dari musala tempat salat Ied, mereka menyaksikan kebaikan dan mendengarkan dakwah kaum muslimin (mendengarkan khotbah). Saya berkata: Ya Rasulullah bagaimana dengan kami yang tidak mempunyai jilbab? Beliau bersabda: Supaya saudaranya meminjamkan kepadanya dari jilbabnya. (H.R: Jama\’ah)

“Seseorang bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama selain takbiratul ihram, dan lima kali pada rakaat kedua selain takbir berdiri dari sujud. Diriwayatkan bahwa Rasulullah (Muhammad) Sallallahu Alaihi Wasalam bertakbir sebanyak tujuh kali sebelum membaca surat pada salat Idul Fitri dan Idul Adha, dan lima takbir pada rakaat kedua sebelum membaca surat, (HR At-Tirmidzi)

Salat Ied adalah salat dua rakaat yang dilakukan pada saat hari raya Islam. Salat Ied ada dua, yaitu hari raya Idul Fitri yang dilaksanakan pada tanggal 1 Syawal dan hari raya Idul Adha pada tanggal 10 Dzulhijjah. Waktu salat Ied dimulai dari terbit matahari sampai tergelincirnya. Kedua salat hari raya tersebut, hukumnya sunnah muakkad. Boleh dikerjakan sendirian dan sebaiknya dilakukan berjama\’ah.

Hal-hal yang perlu dilakukan sebelum salat Iid :

1. Takbir :

Pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha disunnahkan membaca takbir diluar salat dan waktunya sebagai berikut :

a. Pada Hari Raya Idul Fitri takbir hanya dilakukan dimulai dari terbenamnya matahari hingga imam berdiri untuk mengerjakan salat hari raya. Atau yang biasa disebut takbir mursal (takbir yang waktunya tidak mengacu pada waktu salat)

b. Pada Hari Raya Idul Adha takbir dimulai dari Subuh pada hari \’Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) dan pada tiap-tiap salat fardu yang lima waktu hingga selesainya hari tasyriq, yakni 11, 12, 13 Dzulhijjah. Atau biasa disebut takbir muqayyad (takbir yang waktunya mengacu waktu salat)

berikut adalah bacaan takbir hari raya:

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَر اَللَّهُ اَكْبَرْ ـ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ ـ اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ

لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَلاَنَعْبُدُ اَلاَّ اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْنَ

لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْـدَهُ وَنَصَرَعَبِدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ .

اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar.. Laa – ilaaha – illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Allahu akbar.. Allahu akbar.. Allahu akbar….. Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,… wasubhaanallaahi bukrataw – wa ashillaa.

Laa – ilaaha illallallahu walaa na\’budu illaa iyyaahu Mukhlishiina lahuddiin Walau karihal – kaafiruun Walau karihal munafiqun Walau karihal musyrikun.

Laa – ilaaha – illallaahu wahdah, shadaqa wa\’dah, wanashara \’abdah, – wa – a\’azza – jundah, wahazamal – ahzaaba wahdah Laa – ilaaha illallaahu wallaahu akbar.

Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah dan Allah Mahabesar. Allah Mahabesar dan segala puji hanya bagi Allah.

Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar Allah Mahabesar dengan segala kebesaran, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya, Dan Maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.

Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.

Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar.

Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

2. Pada hari raya disunnahkan mandi, dan berhias dengan memakai pakaian yang sebaik-baiknya dan menggunakan wangi-wangian yang dimiliki.

dengan niat:

 نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِصَلَاةِ ا لعِيْدِ اْلفِطْرِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla lishalâtil ‘îdil Fithri sunnatan lillâhi ta’âlâ

“Aku niat mandi untuk salat Idul Fitri sunnah karena Allah ta’ala.”  

نَو نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِصَلَاةِ ا لعِيْدِ اْلأَضْحَى سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitul ghusla lishalâtil ‘îdil adhâ sunnatan lillâhi ta’âlâ

“Aku niat mandi untuk salat Idul Adha sunnah karena Allah ta’ala.” 

3. Makan sebelum pergi salat pada hari Idul Fitri, tetapi pada Hari Raya Idul Adha disunnahkan untuk tidak makan sampai selesai salat.

4. Jalan pergi untuk mengerjakan salat dan pulang selepas salat hendaknya mengambil jalan yang berlainan.

5. Hari raya adalah hari yang penuh dengan kegembiraan. Karena itu, dianjurkan untuk saling memberikan selamat atas kebahagiaan yang diraih saat hari raya. Tidak ada aturan baku mengenai redaksi ucapan selamat ini. Contohnya seperti“taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “selamat hari raya Idul Fitri”, “minal aidin wa al-faizin”, “mohon maaf lahir batin”, dan lain sebagainya.

6. Perlu diketahui bahwa pada hari Idul Fitri dan Adha, anak-anak besar kecil, tua muda, muqim, ataupun musafir supaya meramaikannya. Bahkan bagi wanita wanita yang sedang haid pun dianjurkan keluar, sekalipun mereka tidak ikut salat.

Niat Salat Idul Fitri

 أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَــالَى

ushallî sunnatan li ‘îdil Fithri rak\’ataini lillâhi a’âlâ  

Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat karena Allah ta’ala. (sendiri)

 أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَــالَى

ushallî sunnatan li ‘îdil Fithri rak\’ataini imâman/ma\’mûman lillâhi a’âlâ  

Aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi imam/makmum) karena Allah ta’ala.

 Niat Salat Idul Adha

  أُصَلِّيْ  سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ  لِلّٰهِ تَعَـــالَى  

ushallî ​sunnatan li ‘îdil adhâ rak\’taini lillâhi a’âlâ  

Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat karena Allah ta’ala. (sendiri)

  أُصَلِّيْ  سُنَّةً لعِيْدِ اْلأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ (مَأْمُوْمًا/إِمَامًا) لِلّٰهِ تَعَـــالَى  

ushallî ​sunnatan li ‘îdil adlhâ rak\’taini imâman/ma\’mûman lillâhi a’âlâ  

Aku berniat salat sunnah Idul Adha dua rakaat (menjadi imam/makmum) karena Allah ta’ala.

Cara mengerjakan Salat Idul Fitri dan Idul Adha :

a. Pada pagi hari tanggal 1 Syawal atau tanggal 10 Dzulhijjah, sesudah menunaikan salat shubuh lalu berjalan berangkat menuju masjid atau tanah lapang dengan memperbanyak mengucapkan Takbir;

“Termasuk sunnah Nabi adalah keluar menuju tempat salat Id dengan berjalan”. (HR. al-Tirmidzi dan beliau menyatakannya sebagai hadits Hasan).

b. Setelah tiba dimasjid, maka sebelum duduk dianjurkan untuk salat sunnah tahiyatul masjid dua rakaat. Apabila salat dilakukan ditanah lapangan berarti tidak ada salat sunnah tahiyatul masjid. Setelah itu duduklah sambil mengulang-ulang bacaan takbir, sampai akan melaksanakan salat sunnah Ied itu;

c. Tidak ada adzan dan iqamah. Sebelum salat, jamaah dapat diingatkan dengan ungkapan, اَلصَّلَاةُ جَامِعَةٌ ”As-Shalaatu jaami\’ah.” (mari kita salat berjamaah);

d. Pada rakaat pertama, berdiri, niat, takbiratul ihram dan kemudian membaca do\’a iftitah;

e. Selanjutnya takbir 7 kali أَللهُ أَكْبَر    (Allâhu Akbar, “Allah Maha Besar”) dan setiap habis takbir di sunnahkan membaca tasbih sebagai berikut;

  سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ

Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar,

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah maha besar.”

Atau dilengkapi seperti ini:

    سُبْحَانَ اللهِ وَالحَمْدُ لِلهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ  

Subhânallâh, walhamdulillâh, walâ ilâha illallâh, wallâhu akbar, wa lâ haula walâ quwwata illâ billâhil ‘aliyyil azhîm.

“Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya, tiada tuhan selain Dia, Allah mahabesar, dan tiada daya serta upaya selain berkat pertolongan Allah yang mahatinggi lagi mahaagung.”

Atau boleh juga dengan ini:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

allahu akbar kabiiraa wal hamdu lillahi katsiiraa wasub -haanallahi bukrataw wa -ashiilaa.

Allah Maha Besar lagi sempurna Kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah pada waktu pagi dan petang. (HR. Muslim)

f. Setelah takbir 7 kali dan membaca tasbih tersebut, kemudian membaca Surat AI-Fatihah dan disambung dengan membaca surat yang dikehendaki, dan lebih utama membaca surah Qaf atau surat AI-A\’la (Sabbihisma Rabbikal a\’la). Imam melantangkan yakni mengeraskan suaranya pada  waktu membaca surat AI-Fatihah dan surat surat lainnya;

g. Kemudian berlanjut ke rukuk, itidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua seperti salat biasa, lalu berdiri lagi untuk rakaat kedua;

h. Pada rakaat kedua membaca takbir 5 kali أَللهُ أَكْبَر    (Allâhu Akbar, “Allah Maha Besar”), dan setiap takbir disunnahkan membaca tasbih seperti pada rakaat pertama. Kemudian membaca surat Al-Fatihah dan diteruskan dengan bacaan surat yang dikehendaki, tetapi lebih utama membaca surat Al-Ghasyiah. Imam melantangkan yakni mengeraskan suaranya pada  waktu membaca surat AI-Fatihah dan surat surat lainnya.

i. Kemudian berlanjut ke rukuk, itidal, sujud pertama, duduk di antara dua sujud, sujud kedua, tasyahud/tahiyat akhir dan terakhir salam seperti salat biasa,

j. Setelah salat, jamaah tak disarankan untuk buru-buru pulang, melainkan mendengarkan khutbah Ied terlebih dahulu hingga rampung. Kecuali bila salat Ied ditunaikan tidak secara berjamaah.

g. Khutbah dilakukan dua kali sesudah salat Ied. Dengan ketentuan pada khutbah pertama membaca takbir 9 kali dan pada khutbah kedua membaca takbir 7 kali dan pembacaannya harus berturut-turut.

h- Hendaknya dalam khutbah Idul Fitri berisi penerangan tentang zakat Fitrah dan pada Hari Raya Idul Adha berisi penerangan tentang Ibadah haji dan hukum kurban.

Demikian, semoga dapat bermanfaat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang: CV. Toha Putra. 1976. h. 117-121

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top