فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙيُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙوَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ
maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, Sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu. (QS. 71. Nuh;10-12)
“Sahabat Ibn Abbas Radiallahu Anhu berkata, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam keluar rumah dengan rendah diri, berpakaian sederhana, khusyu’, tenang, berdoa kepada Allah. Lalu ia shalat dua rakaat seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti pada shalat hari raya. Ia tidak berkhutbah seperti khutbahmu ini.” (HR Imam Lima dan dinilai shahih oleh At-Tirmidzi, Abu Awanah, dan Ibn Hibban)
\”Orang-orang mengadu kepada Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam atas musim kemarau yang panjang. Lalu ia memerintahkan sahabat untuk meletakkan mimbar di tanah lapang, lalu ia membuat kesepakatan dengan masyarakat untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan. Aisyah lalu berkata, ‘Rasulullah keluar dari rumah ketika matahari mulai terlihat, lalu duduk di mimbar. Ia bertakbir dan memuji Allah, lalu bersabda, ‘Sungguh kalian mengadu kepadaku atas kegersangan negeri kalian dan hujan yang tidak turun. Padahal Allah telah memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Dia berjanji akan mengabulkan doa kalian.’ Kemudian ia mengucapkan, ‘Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai hari Pembalasan. (Surat Al-Fatihah ayat 2-4). La ilaha illallahu yaf’alu ma yurid. Allahumma antallahu la ilaha illa antal ghaniyyu wa nahnul fuqara`. Anzil alainal ghaitsa waj’al ma anzalta lana quwwatan wa balaghan ila hin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Dia. Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah Allah, tidak ada sembahan yang layak disembah kecuali Engkau Yang Maha Kaya. Sementara kami membutuhkan-Mu. Maka turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang telah Kauturunkan sebagai kekuatan bagi kami dan sebagai bekal di hari yang ditetapkan).’ Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putih ketiaknya. Ia membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan membalik posisi selendangnya saat ia masih mengangkat kedua tangannya. Ia lalu menghadap ke jamaah, lalu turun dari mimbar dan shalat dua rakaat. Lalu Allah mendatangkan awan yang disertai guruh dan petir. Hujan pun turun dengan izin Allah. Ia tidak kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh, Rasulullah SAW tertawa hingga tampak gigi gerahamnya, lalu bersabda, ‘Aku bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku adalah hamba dan rasul-Nya,\”\” (HR Abu Daud)
Shalat istisqa adalah shalat sunnah untuk memohon hujan bagi orang-orang yang muqim atau musafir, dikala sangat membutuhkan air karena tidak ada hujan atau air sudah tidak keluar dari sumbernya. Salat sunnah istisqa dilaksanakan dua rakaat berjamaah pada siang ataupun malam hari dengan 7 takbir pada rakaat pertama dan 5 takbir pada raaat kedua, serta dua khutbah sebelum ataupun setelah salat.Berikut adalah niat salat istisqa:
أُصَلِّى سُنَّةَ الْاِسْتِسْقَاءِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا / مَأْمُوْمًا لِلّٰهِ تَعَالٰى
Ushalli sunnatal istisqaa’i rak‘ataini (imaaman/ma’muuman) lillahi ta‘aalaa.
Cara melaksanakannya.:
- Tiga hari sebelum melakukan shalat istisqa, Imam atau Ulama memerintahkan penduduk/kaumnya agar berpuasa tiga hari lamanya, dan menganjurkan pula agar mereka mengeluarkan zakat mal, beramal baik seperti sedekah, taubat dari segala dosa, mengusahakan perdamaian dengan orang-orang yang dianggap lawan, dan melepaskan diri dari kezhaliman.
- Pada hari yang keempatnya, semua penduduk/kaum disuruh keluar dari rumah dengan membawa binatang ternak (sapi, kambing,kerbau dll) dan ditempatkan di tempat yang sekiranya tidak mengganggu jamaah. Semuanya ikut serta berkumpul ke tanah lapang untuk melakukan shalat istisqa. Sebaiknya menggunakan pakaian sederhana dengan tidak memakai wangi-wangian dan tidak berhias dan selama itu orang dianjurkan supaya memperbanyak membaca istighfar artinya memohon ampun.
- Pelaksanaan salat istisqa dua rakaat dengan Rakaat pertama takbir tujuh kali sebelum membaca surat Al-Fatihah. Sedangkan rakaat kedua takbir lima kali. (seperti salat hari raya Ied)
- khatib membacakan dua khutbah dan pada khutbah yang pertama dimulai dengan membaca istighfar 9 kali pada khutbah yang kedua dimulai dengan membaca istighfar 7 kali. Memperbanyak doa pada khutbah kedua. (khutbah dilaksanakan oleh sebelum salat, akan tetapi yang paling utama khutbah dilaksanakan setelah salat)
أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Astaghfirullaah al azhiim alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih.
Saya memohon ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, tiada Tuhan selain Allah. Dia yang hidup dan yang tegak dan saya bertaubat kepada-Nya.
Cara melaksanakan berkhuthbah istisqa ada sedikit berbeda dengan khuthbah Jumat atau lainnya, yakni:
a. Khathib disunatkan memakai selendang.
b. Khuthbahnya berisi anjuran supaya beristighfar dan merendahkan diri kepada Allah serta berkeyakinan, bahwa Allah akan mengabulkannya, yakni akan menurunkan hujan.
c. Ketika beristighfar hendaknya mengangkat kedua tangan lebih tinggi hingga terbuka (ada jarak) antara lengan dan badannya. (terlihat bagian ketiaknya)
d. Pada khuthbah yang kedua, dikala berdo\’a hendaknya khathib berpaling kekiblat artinya membelakangi ma\’mum dan bersama sama berdoa. Dalam berdoa hendaknya khathib berdo\’a dengan suara yang lemah menurut tekanan irama memohon. Manakala khathib berdo\’a dengan suara nyaring, makmumnya pun dianjurkan mengikuti do\’anya dengan suara nyaring pula.
e. Ketika berpaling ke kiblat, khathib hendaknya membalikkan selendangnya yang kanan ke kiri dan yang di atas ke bawah.
Doa Istisqa
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَالْغَيْثَ وَلاَتَجْعَلْنَامِنَ الْقَانِتِيْنَ
اَللّٰهُمَّ عَلَى الطِّرَابِ وَاﻵ كَامِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِوَبُتُوْنِ الْاَوْدِيَةِ اَللّٰهُمَّ حَوَالَيْنَاوَلاَعَلَيْنَا
للّٰهُمَّ اجْعَلْهَاسُقْيًارَحْمَةٍوَلاَتَجْعَلْهَاسُقْيًاعَذَابٍ وَلاَمُحْقٍ وَلاَبَلاَءٍوَلاَهَدَمٍ وَلاَغَرَقٍ
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَاغَيْثًامُغِيْثًاهَنِيْءًامَرِيْءًامَرِيْعًاسَحًّاعَامًّاغَدَقًاطَبَقًامُجَلَّلاًدَاءِمًااِلٰى يَوْمِالدِّيْنِ
اَللّٰهُمَّ اسْقِنَاغَيْثًاوَلاَتَجْعَلْنَامِنَالْقَانِطِيْنَ
اَللّٰهُمَّ بِالْعِبَادِوَالْبِلاَدِمِنَالْجُحْدِوَالْجُوْعِوَالظَّنْكِ وَلاَنَشْكُوْ اِلاَّاِلَيْكَ
اَللّٰهُمَّ اَنْبِتِ الزَّرْعَ وَاَدِرَّلَنَاالضَّرْعَ وَاَنْزِلْعَلَيْنَامِنْ بَرَكَاتِ السَّمَٓاءِوَاَنْبِتْ مِنْ بَرَكَاتِ الْاَرْضِ وَاكْشِفْ عَنَّامِنَالْبَلاَءِمَالاَيَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
اَللّٰهُمَّ اِنَّانَسْتَغْفِرُكَ اِنَّكَ كُنْتَ غَفَّارًافَاَرْسِلِ السَّمَٓاءَعَلَيْنَامِدْرَارًا
Allaahummas qinal ghaitsa walaa taj’alnaa minal qaaanitiina.
Allaahumma ‘alattiroobi wal aaakaami wa manaa bitissajari wabutuunilaudiyati. Allaahumma hawalaina walaa ‘alainaa.
Allaahummaj ‘alhaa suqyan rahmatin walaa taj’alhaa suqyan ‘adzaabin walaa muhqin walaa balaa-in walaa hadamin walaa gharaqin.
Allaahummas qinaa ghaitsan mughiitsan hanii-an marii-an marii’an sahhaa’aamman ghadaqan thabaqan mujallilan daa-iman ilaa yaumid diini. Allaahummas qinaa ghaitsan walaa taj’alnaa minal qaanithiin.
Allaahumma bil’ibaadi wal bilaadi minal juhdi wal juu ‘iwadh dhanki walaa nasykuu illaa ilaika.
Allaahumma anbitiz zar’a wa adirra lanadh dhar’a wa anzil ‘alainaa min barakaatis samaa-i wa anbit min barakaatil ardhi waksyif ‘anna minal balaa-i maa laa yaksyifuhu ghairuka.
Allaahumma innaa nastaghfiruka innaka kunta ghaffaaran fa arsilis samaa-a ‘alainaa midraaran.
Ya Allah tumpahkanlah hujan kepada kami dan janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, curahkanlah hujan itu diatas tumpukan-tumpukan tanah dan bukit-bukit, tempat pepohonan tanaman dan tumbuhan-tumbuhan, dan di lembah-lembah. Ya Allah curahkanlah di sekeliling kami dan jangan di atas kami.
Ya Allah, jadikanlah hujan ini sebagai siraman rahmat, dan janganlah Tuhan jadikan hujan ini sebagai siraman siksa. Dan janganlah Tuhan menjadikan hujan ini suatu siraman yang memusnahkan harta benda, dan marabahaya, dan jangan siraman yang menghancurkan dan menenggelamkan.
Ya Allah, siramilah kami dengan hujan yang menyelamatkan, menikmatkan, menyenangkan, menyuburkan, mengalirkan ke segenap penjuru, banyak air dan kebaikannya. Memenuhi sungai-sungai dan selalu mengalir merata hingga sampai hari kiamat. Ya Allah, tumpahkanlah hujan kepada kami, dan janganlah Tuhan jadikan kami orang-orang yang berputus asa.
Ya Allah, sesungguhnya hamba Allah dan negeri tengah ditimpa kemelaratan dan kelaparan dan kesempitan hidup, dan kami tidak dapat mengadukan kecuali kepada Tuhan.
Ya Allah, tumbuhkanlah tanam-tanaman ini untuk kami, dan perbanyaklah air-air susu binatang untuk kami, tumpahkanlah barokah dari atas untuk kami. Tumbuhkanlah isi bumi ini untuk kami dan hindarkanlah kami dari mara bahaya sesuatu bencana alam yang tak akan mampu kami menghindarkannya, kecuali Engkau Ya Allah.
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon ampunan-Mu. Sungguh Tuhan Maha Pengampun. Tumpahkanlah hujan itu dari langit untuk kami dengan sederas-derasnya.
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.123-127
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.