“Barang siapa melakukan salat (Tarawih) pada Ramadhan dengan iman dan ikhlas (karena Allah ta’âlâ) maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘Alaih)
“Barang siapa salat Tarawih bersama imam sampai selesai, maka untuknya dicatat seperti beribadah semalam.” (HR. at-Tirmdzi, Ibn Majah dan an-Nasa’i)
“Dari ‘Aisyah Ummil Mu’minin radliyallahu ‘anha, sesungguhnya Rasulullah pada suatu malam salat di masjid, lalu banyak orang salat mengikuti beliau. Pada hari ketiga atau keempat, jamaah sudah berkumpul (menunggu Nabi) tapi Rasulullah shallallahu \’alaihi wasallam justru tidak keluar menemui mereka. Pagi harinya beliau bersabda, \’Sunguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. Tapi aku tidak datang ke masjid karena aku takut sekali bila salat ini diwajibkan pada kalian.” Sayyidah ‘Aisyah berkata, \’Hal itu terjadi pada bulan Ramadhan’.” (HR Bukhari dan Muslim). banyak riwayat yang menyatakan kejadian dalam hadis ini dimulai pada tanggal 23 Ramadan pada tahun ke-2 Hijriah.
Salat tarawih merupakan salat sunnah muakkad (sangat dianjurkan) yang khusus dilakukan pada bulan yang sangat mulia dan penuh keberkahan, yaitu bulan suci Ramadan. Salat Tarawih dilakukan secara berjamaah pada malam hari Ramadan setelah melaksanakan salat Isya’ dan sebelum melakukan salat Witir.
Salat ini dilakukan dengan 2 rakaat salam. Ulama sepakat bahwa apabila dikumpulkan menjadi 4 rakaat satu salam, maka dianggap tidak sah. Dinamakan Tarawih karena orang yang melakukannya beristirahat sejenak di antara dua kali salam atau istirahat setiap empat rakaat.
وسميت تراويح؛ لأنهم لطول قيامهم كانوا يستريحون بعد كل تسليمتين
“Dan disebut tarawih, karena mereka beristirahat setiap dua kali salam, sebab lamanya berdiri. Mereka beristirahat setelah tiap dua salam (empat rakaat),” (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 2, hal. 241).
Niat salat Tarawih bagi Imam:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحَ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً اِمَامًا لِلهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatat tarâwîhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adā’an imâman lillâhi ta’âlâ.
“Saya niat salat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, menjadi imam karena Allah ta’âlâ.”
Niat salat Tarawih bagi makmum:
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى
Ushallî sunnatat tarâwîhi rak’ataini mustaqbilal qiblati adā’an ma’mûman lillâhi ta’âlâ.
Niat salat Tarawih sendirian:
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘ataini mustaqbilal qiblati adā’an lillāhi ta‘ālā.
“Saya niat salat Tarawih dua rakaat menghadap kiblat, menjadi makmum karena Allah ta’âlâ.”
Salat tarawih di Indonesia pada umumnya ada yang berjumlah 20 rakaat (ditambah salat witir 3 rakaat sehingga total 23 rakaat). Ada pula yang hanya 8 rakaat (ditambah salat witir 3 rakaat sehingga total 11 rakaat).
Bagi yang berjumlah 20 rakaat, mereka memakai dasar hukum mengikuti tuntunan dari Umar ibn Khathab. Karena pada saat itu, sebagian ada yang salat dan ada yang tidak, Khalifah Umar kemudian menyuruh agar umat Islam salat Tarawih berjamaah di masjid dengan imamnya Ubay ibn Ka\’b. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Muwatha‘, juz I, yang artinya; Dari Yazid ibn Hushaifah, “Orang-orang (kaum muslimin) pada masa Umar melakukan salat tarawih di bulan Ramadhan 23 rakaat.”
Sedangkan yang berjumlah 8 rakaat karena didasari oleh hadis dari istri Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, Aisyah Radiallahu Anha yang menyatakan; ”Dari Aisyah Radiallahu Anha bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat”. (HR. Al-Bukhari)
Ada juga yang mengatakan bahwa salat Tarawih itu menjadi 36 rakaat karena mengikuti ijtihad Khalifah Umar Ibn ’Abdul Aziz yang ingin menyamai pahala salat Tarawih Ahli Makkah yang menyelingi setiap empat rakaat dengan ibadah Thawaf. Lalu Umar bin ’Abdul Aziz menambah rakaat salat Tarawih menjadi 36 rakaat bagi orang di luar kota Makkah agar menyamahi pahala Tarawih ahli Makkah. Berkata Daud bin Qais: \”Aku jumpai orang-orang di zaman Abbas ibn Utsman ibn Abdul Aziz (di Madinah), mereka salat 36 rakaat dan mereka bersalat witir 3 rakaat \”. (H.R. Muhammad bin Nashir)
Imam Malik menjelaskan: \”Perkara salat (tarawih) di antara kami (di Madinah) dengan 39 rakaat , dan di Makkah 23 rakaat tidak ada suatu kesulitanpun (tidak ada masalah) dalam hal itu\”. Al- Tirmidzi menjelakan: \”sebanyak-banyak (rakaat) yang diriwayatkan, bahwa Imam Malik salat 41 rakaat dengan witir\”. (Bidayatul Hidayah, Ibn Rusyd, hal.152. bandingkan dengan A. Hasan, Pengajaran Salat, hal. 290-192)
***Selain 23 dan 11 rakaat tidak umum dilakukan di Indonesia. Harap diperhatikan bahwa perbedaan rakaat dalam salat Tarawih ini tidak berarti menyalahi Islam. Sebab perbedaan ini hanya masalah furu’iyyah bukan masalah aqidah. Sehingga tidak perlu dipertentangkan.
Doa sesudah salat Tarawih
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسُ
Subhaanal malikil qudduus X3
“Maha Suci Allah Yang Maha Merajai dan Yang Maha Bersih.”
رَبُّ الْمَلآئِكَةِ وَالرُّوْحِ
Robbul-malaa-‘ikati warruuh
“Yang Menguasai para Malaikat dan Ruh”
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى
Allahumma Innaka Afuwwun Tuhibbul Afwa Fa’fu Anni. X3
“Ya Allah, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”
يَٰٓٱلْكَرِيمِ
Yaa Kariim /yang Maha Pemurah
اَللهُمَّ اجْعَلْنَا بِالْإِيْمَانِ كَامِلِيْنَ. وَلِلْفَرَائِضِ مُؤَدِّيْنَ. وَلِلصَّلاَةِ حَافِظِيْنَ. وَلِلزَّكَاةِ فَاعِلِيْنَ. وَلِمَا عِنْدَكَ طَالِبِيْنَ. وَلِعَفْوِكَ رَاجِيْنَ. وَبِالْهُدَى مُتَمَسِّكِيْنَ. وَعَنِ الَّلغْوِ مُعْرِضِيْنَ. وَفِى الدُّنْيَا زَاهِدِيْنَ. وَفِى اْلآخِرَةِ رَاغِبِيْنَ. وَبَالْقَضَاءِ رَاضِيْنَ. وَلِلنَّعْمَاءِ شَاكِرِيْنَ. وَعَلَى الْبَلاَءِ صَابِرِيْنَ. وَتَحْتَ لِوَاءِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَائِرِيْنَ وَعَلَى الْحَوْضِ وَارِدِيْنَ. وَإِلَى الْجَنَّةِ دَاخِلِيْنَ. وَمِنَ النَّارِ نَاجِيْنَ. وَعَلى سَرِيْرِالْكَرَامَةِ قَاعِدِيْنَ. وَبِحُوْرٍعِيْنٍ مُتَزَوِّجِيْنَ. وَمِنْ سُنْدُسٍ وَاِسْتَبْرَقٍ وَدِيْبَاجٍ مُتَلَبِّسِيْنَ. وَمِنْ طَعَامِ الْجَنَّةِ آكِلِيْنَ. وَمِنْ لَبَنٍ وَعَسَلٍ مُصَفًّى شَارِبِيْنَ. بِأَكْوَابٍ وَّأَبَارِيْقَ وَكَأْسٍ مِّنْ مَعِيْن. مَعَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُولئِكَ رَفِيْقًا. ذلِكَ الْفَضْلُ مِنَ اللهِ وَكَفَى بِاللهِ عَلِيْمًا. اَللهُمَّ اجْعَلْنَا فِى هٰذِهِ لَيْلَةِ الشَّهْرِالشَّرِيْفَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ السُّعَدَاءِ الْمَقْبُوْلِيْنَ. وَلاَتَجْعَلْنَا مِنَ اْلأَشْقِيَاءِ الْمَرْدُوْدِيْنَ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِه وَصَحْبِه أَجْمَعِيْنَ. بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Allâhummaj‘alnâ bil îmâni kâmilîn. Wa lil farâidli muaddîn. Wa lish-shlâti hâfidhîn. Wa liz-zakâti fâ‘ilîn. Wa lima ‘indaka thâlibîn. Wa li ‘afwika râjîn. Wa bil-hudâ mutamassikîn. Wa ‘anil laghwi mu‘ridlîn. Wa fid-dunyâ zâhdîn. Wa fil ‘âkhirati râghibîn. Wa bil-qadlâ’I râdlîn. Wa lin na‘mâ’I syâkirîn. Wa ‘alal balâ’i shâbirîn. Wa tahta liwâ’i muhammadin shallallâhu ‘alaihi wasallam yaumal qiyâmati sâ’irîna wa alal haudli wâridîn. Wa ilal jannati dâkhilîn. Wa minan nâri nâjîn. Wa \’alâ sariirl karâmati qâ\’idîn. Wa bi hûrun \’in mutazawwijîn. Wa min sundusin wa istabraqîn wadîbâjin mutalabbisîn. Wa min tha‘âmil jannati âkilîn. Wa min labanin wa ‘asalin mushaffan syâribîn. Bi akwâbin wa abârîqa wa ka‘sin min ma‘în. Ma‘al ladzîna an‘amta ‘alaihim minan nabiyyîna wash shiddîqîna wasy syuhadâ’i wash shâlihîna wa hasuna ulâ’ika rafîqan. Dâlikal fadl-lu minallâhi wa kafâ billâhi ‘alîman. Allâhummaj‘alnâ fî hâdzihil lailatisy syahrisy syarîfail mubârakah minas su‘adâ’il maqbûlîn. Wa lâ taj‘alnâ minal asyqiyâ’il mardûdîn. Wa shallallâhu ‘alâ sayyidinâ muhammadin wa âlihi wa shahbihi ajma‘în. Birahmatika yâ arhamar râhimîn wal hamdulillâhi rabbil ‘âlamîn.
“Yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang memenuhi kewajiban-kewajiban, yang memelihara salat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisi-Mu, yang mengharapkan ampunan-Mu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan qadla-Mu (ketentuan-Mu), yang mensyukuri nikmat, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji junjungan kami, Nabi Muhammad, pada hari kiamat, yang mengunjungi telaga (Nabi Muhammad), yang masuk ke dalam surga, yang selamat dari api neraka, yang duduk di atas ranjang kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra ,yang makan makanan surga, yang minum susu dan madu murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang shalih. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikanlah kami pada malam yang mulia dan diberkahi ini termasuk orang-orang yang bahagia dan diterima amalnya, dan janganlah Engkau jadikan kami tergolong orang-orang yang celaka dan ditolak amalnya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas junjungan kami Muhammad, serta seluruh keluarga dan shahabat beliau. Berkat rahmat-Mu, wahai Yang Paling Penyayang di antara yang penyayang. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
Fenomena mempercepat salat dalam salat Tarawih
“Aku pernah mengimami salat dan aku berniat untuk memperpanjang salat tersebut. Namun aku mendengar tangisan anak kecil. Maka aku ringkas salat tersebut karena aku memahami betapa berat perasaan ibunya karena tangisan anaknya” (HR. Bukhari, Muslim)
Berdasarkan hadis di atas, mempercepat salat Tarawih diperbolehkan karena setiap orang memiliki kepentingan dan kesempatan waktu yang berbeda. Ada Ibu-ibu yang merawat anak, ada orang tua yang sudah tidak kuat berdiri lama, ada juga pegawai yang bekerja di malam hari. Namun dengan syarat selama tetap mematuhi rukun salat dan membaca ayat suci al-Qur’an sesuai dengan tajwidnya (hukum dan tata cara membaca al-Qur’an dengan benar). Begitu juga agar membaca ayat al-Qur’an dengan lengkap. Karena setiap kalimah al-Qur’an memiliki makna, apabila kita membaca ayat hanya sepenggal/sepotong saja maka maknanya bisa menjadi rancu. Karena itu pula, jangan sampai kita dicap sebagai orang yang munafik apabla mempercepat salat tanpa mematuhi rukun salat.
Rasulullah bersabda: “Pencuri yang paling bejat adalah orang yang mencuri dalam salatnya”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri dalam salat itu?”. Beliau menjawab: “Yaitu dengan tidak menyempurnakan rukuk dan sujudnya” (HR. Ibn Hibban yang dihasankan Al Albani dalam Ashl Sifat Salat Nabi)
Demikian, semoga dapat bermanfaat.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Risalah Tuntunan Salat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang: CV. Toha Putra. 1976. h.104-117
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.