Tata Cara Adzan

Secara bahasa adzan berarti pemberitahuan atau seruan. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. 9. At Taubah; 3:

 وَأَذَانٌ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى النَّاسِ

“dan ini adalah seruan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia.”

Adapun makna adzan secara istilah adalah seruan yang menandai masuknya waktu salat lima waktu dan dilafazhkan dengan lafazh-lafazh tertentu. Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda; “Imam sebagai penjamin dan muadzin (orang yang adzan) sebagai yang diberi amanah, maka Allah memberi petunjuk kepada para imam dan memberi ampunan untuk para muadzin.” (HR. Abu Daud (1203), At Tirmidzi (207), dan Ahmad (II/283-419))

Adzan digunakan sebagai pembeda dari panggilan beribadah khusus untuk penganut agama Islam. Tidak dengan menggunakan bunyi bunyian dari benda seperti lonceng yang sudah digunakan beberapa agama selain Islam.

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ قَالَ أَرَادَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- فِى الأَذَانِ أَشْيَاءَ لَمْ يَصْنَعْ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ فَأُرِىَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ الأَذَانَ فِى الْمَنَامِ فَأَتَى النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم فَأَخْبَرَهُ فَقَالَ « أَلْقِهِ عَلَى بِلاَلٍ

“Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berkeinginan untuk mencari cara dalam memberitahu waktu sholat (adzan), tetapi beliau belum kunjung menemukannya”. Abdullah Ibn Zaid bermimpi mengenai beragam kalimat adzan dalam tidurnya. Lantas ia mendatangi rasul untuk memberitahukan hal tersebut. Lalu sang rasul pun berkata: “Ajarkanlah kata – kata itu kepada Bilal!” (Abu Daud (499), At-Tirmidzi (189), Ibn Majah (706))

Sifat Muadzin

(1) Muslim; (2) Ikhlas hanya mengharap wajah Allah Rasulullah bersabda : “Tetapkanlah seorang muadzin yang tidak mengambil upah dari adzannya itu.” (Abu Daud (531), At-Tirmidzi (672), Ibnu Majah (714), dan An-Nasa\’i (672)); (3) Adil dan amanah; (4) Memiliki suara yang bagus; (5) Mengetahui kapan waktu solat masuk sehingga ia bisa mengumandangkan adzan tepat pada awal waktu dan terhindar dari kesalahan

Muadzin saat hendak melakukan adzan, (1) berada dalam keadaan suci; (2) berdiri, sebagaimana sabda Rasulullah  dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar : “berdiri wahai bilal! Serulah manusia untuk melakukukan solat!”; (3) menghadap kiblat;  (4) Kedua tangan berada di samping telinga (HR. At-Tirmidzi (197) dan Ahmad (IV/308));  (5)Menolehkan kepala ke kanan ketika mengucapakan “hayya ‘alas shalah” dan menolehkan kepala ke kiri ketika mengucapakan “hayya ‘alal falah”. (HR. Imam Bukhari (187) dan Muslim (503) dari Sahabat Abu Juhaifah)

Hukum Adzan

Ulama berselisih pendapat tentang hukum Adzan. Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum azan adalah sunnah muakkad. Ada juga pendapat yang mengatakanfardu kifayah (sebagian Ulama’ Mazhab Malikiyah dan Syafi’iah, Imam Ahmad, Atha’ IbnAbi Robah, Mujahid, Al-Auza’i, Ibn Hazm, dan Ibn Taimiyah).

Akan tetapi perlu diingat, hukum ini hanya berlaku bagi laki-laki. Wanita tidak diwajibkan atau pun disunnahkan untuk melakukan adzan. Dari Sahabat Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah bersabda “Tidak ada adzan dan iqomah bagi wanita” (Al Baihaqi)

Syarat Adzan

1.      Telah Masuk Waktu Salat

Syarat sah adzan adalah telah masuknya waktu salat. Sehingga adzan yang dilakukan sebelum waktu solat masuk maka tidak sah. Akan tetapi terdapat pengecualian pada adzan subuh. Adzan subuh diperbolehkan untuk dilaksanakan dua kali, yaitu sebelum waktu subuh tiba untuk membangunkan orang muslim (bersiap) dan ketika waktu subuh tiba;

2.      Berniat adzan

Hendaknya seseorang yang akan adzan berniat di dalam hatinya (tidak dengan lafazh tertentu) bahwa ia akan melakukan adzan ikhlas untuk Allah semata;

3.      Dikumandangkan dengan bahasa arab

Menurut sebagian ulama, tidak sah adzan jika menggunakan bahasa selain bahasa arab. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah ulama dari Madzhab Hanafiah, Hambali, dan Syafi’i;

4.      Tidak ada lahn dalam pengucapan lafadz adzan yang merubah makna

Maksudnya adalah hendaknya adzan terbebas dari kesalahan-kesalahan pengucapan yang hal tersebut bisa merubah makna adzan. Lafadz-lafadz adzan harus diucapkan dengan jelas dan benar;

5.      Lafadz-lafaznya diucapkan berurutan dan tanpa jeda lama

Hendaknya lafadz-lafadz adzan diucapkan sesuai urutan sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits yang sahih;

6.      Adzan diperdengarkan kepada orang yang tidak berada di tempat muadzin

Adzan yang dikumandangkan oleh muadzin haruslah terdengar oleh orang yang tidak berada di tempat sang muadzin melakukan adzan. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengeraskan suara atau dengan alat pengeras suara;

Cara Adzan

Adzan yang umum dilakukan di Indonesia pada saat Dzuhur, Asar, Maghrib dan Isya, (HR. Abu Daud (499), At Tirmidzi (189), Ibnu Majah (706)), yaitu dengan lafazh:

 (٢x) اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ 

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar (2x) (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar)

(٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ 

Asyhadu allâ ilâha illallâh (2x) (Aku Bersaksi Tiada Tuhan selain Allah)

(٢x) أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 

Asyhadu anna Muhammadar rasûlullâh (2x) (Aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah)

(٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ 

Hayya \’alash shalâh (2x) (Marilah laksanakan salat)

(٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ 

Hayya \’alal falâh (2x) (Marilah menuju kepada kejayaan)

(١x) اَللهُ أَكْبَرُ ،اَللهُ أَكْبَرُ 

Allâhu Akbar, Allâhu Akbar (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar) 

(١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ 

Lâ ilâha illallâh (1x) (Tiada Tuhan selain Allah)

Sedangkan saat Subuh ditambahkan kata (2x)  ااَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ setelah (2x) حَيَّ عَلَي الْفَلاَحِ dan sebelum (2x) اَللهُ اَكْبَرُ

(٢x) اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ 

 (٢x) أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّااللهُ 

 (٢x) أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 

 (٢x) حَيَّ عَلَى الصَّلاَةِ 

 (٢x) حَيَّ عَلَى الْفَلاَحِ  

 (٢x) اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ

Ash-shalatu khairun minan naum (2x) (Salat lebih baik dari pada tidur)

(١x) اَللهُ أَكْبَرُ ،اَللهُ أَكْبَرُ 

 (١x) لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ 

Jawaban ketika mendengar Adzan

Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudhâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 94) memberikan petunjuk tentang bacaan-bacaan apa yang sebaiknya kita ucapkan pada saat dan setelah adzan dikumandangkan oleh muadzin sebagai berikut:

وإذا سمعت المؤذن فقل مثل ما يقول إلا في الحيعلتين فقل: \”لا حول ولا قوة إلا بالله\” وفي التثويب صدقت وبررت، فإذا فرغت من جوابه فصل على النبي صلى الله عليه وسلم. 

Artinya: “Dan apabila Anda mendengar suara adzan, maka ucapkanlah kembali sama seperti yang diucapkan muadzin kecuali ketika ia mengucapkan:  حَیَّ عَلَی الصَّلاةِ dan .حَیَّ عَلی الفَلٰاحِ Sebagai jawabannya, ucapkanlah لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهِ. “Lâ haula walâ quwwata illâ billâhi.” (Tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah). Demikian pula ketika mendengar seruannya:  اَلصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ “Ash-shalatu khairun minan naum.” (Salat lebih baik dari pada tidur) pada adzan Shubuh, ucapkanlah: صَدَقْتَ وَبَرَرْتَ  “Shadaqta wa bararta.” (Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan). Selesai itu, bacalah shalawat untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ada juga yang menambahkan kalimah jawaban pada adzan subuh dengan :

صدقت وبررت وانا على ذلك من الشّاهدين

Shadaqta wabararta wa anaa ‘alaa dzaalika minasy syaahidiina.”

 “Engkau benar dan engkau telah berbuat kebajikan akupun atas yang demikian termasuk orang – orang yang menyaksikan.”

Doa sesudah Adzan

Setelah azan selesai dikumandangkan, kita disunnahkan untuk membaca doa berikut ini.

اللّٰهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ سَيِّدَنَـامُحَمـَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَالدَّرَجَةَ الْعاِلية الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا المَحْمُودًا الَّذِيْ وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ

\”Allâhumma Rabba hâdzihid-da‘watit-tâmmah, wash-shalâtil-qâimah, âti sayyidanâ Muhammadanil washilata wal fadlîlah, wad-darajatal ‘aaliyatar rafî’ah wab’atshu maqâman mahmûdan alladzî wa’adtah, innaka lâ tukhliful-mî‘âd.\”

\”Wahai Tuhanku, yang memiliki seruan sempurna ini, serta salat yang segera akan dilaksanakan.Berilah junjungan kami Nabi Muhammad, wasilah dan keutamaan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi, dan angkatlah ia ke tempat yang terpuji sebagaimana Engkau telah janjikan. Sesungguhnya Engkau ya Allah Dzat Yang tidak akan mengubah janji\”

Selanjutnya, disebutkan ada doa khusus setelah adzan maghrib, yakni:

   اللّٰهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ لَيْلِكَ وإدْبَارُ نَهَارِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فَاغْفِرْ ليْ

 Allahumma hadza iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âika faghfir lii  

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya malam-Mu, dan perginya siang-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”   (HR. Imam al-Hakim, Imam Abu Dawud dan Imam Baihaqi)

Adapun setelah adzan shubuh, ada doa khusus sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Muin hal. 280, yakni:

   اللّٰهُمَّ هَذَا إِقْبَالُ نَهَارِكَ وَإِدْبَارُ لَيْلِكَ وَأَصْوَاتُ دُعَاتِكَ فاغْفِرْ لِي

Allahumma hadza iqbâlu nahârika wa idbâru lailika wa ashwâtu du’âika faghfir lî  

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”  

Doa diantara Adzan dan Iqamah.

    اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِيْ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ

 Allahumma innî as-alukal-‘âfiyah fid-dunya wal-âkhirah  

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat”

Setelah Adzan kita dianjurkan untuk salat sunnah, seperti salat sunnah Qabliyah sesuai dengan waktunya ataupun salat tahiyatul masjid atau lainnya. Sembari menunggu jamaah lain yang belum datang/dalam perjalanan. Ataupun berdzikir dan bershalawat hingga waktu dilaksanakannya salat fardhu yang ditandai dengan Iqamah.

Adzan dan Iqamah dapat dikumandangkan untuk keperluan diluar salat seperti mengumandangkannya pada telinga anak baru lahir (adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri), atau mengusir setan.

Demikian, semoga dapat bermanfaat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Risalah Tuntunan Shalat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.28-33

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top