Pebedaan Mani, Madzi, Wadi

Apa beda Mani, Madzi, Wadi?

Mani adalah cairan yang keluar ketika syahwat mencapai puncak, memiliki bau khas, disertai pancaran, setelah keluar menimbulkan lemas. Hukum cairan ini suci, tidak najis, namun jika keluar menyebabkan hadas besar, sehingga membatalkan puasa dan wajib mandi besar (mandi junub).

Apabila suatu benda terkena air mani, maka disunnahkan untuk membersihkannya dengan menyiramkan air yang suci dan mensucikan. Adapun apabila air mani telah mengering, dibolehkan dengan mengeriknya saja. Hal ini berdasarkan perkataan Aisyah, beliau berkata “Saya pernah mengerik mani yang sudah kering yang menempel pada pakaian Rasulullah dengan kuku saya.” (HR. Muslim)

Madzi adalah air yang keluar dari kemaluan, air ini bening dan lengket. Tergolong sebagai benda najis dan dapat membatalkan wudhu. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang muncul ketika seseorang memikirkan atau membayangkan jima’ (hubungan seksual) atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu (biasa diistilahkan dengan foreplay/ pemanasan).

Wadi adalah cairan putih kental yang keluar dari kemaluan seseorang setelah kencing atau mungkin setelah melakukan pekerjaan yang melelahkan. Tergolong sebagai benda najis dan dapat membatalkan wudhu.

Najis ini dapat disucikan dengan cara menghilangkannya (Madzi dan Wadi) dengan menyiramkan air yang suci dan mensucikan pada kemaluan, dan bagian-bagian yang terkena najis. hingga tidak ada lagi terlihat warna, bau, dan rasa najis. Adapun dengan cara tiga kali cucian atau siraman itu lebih baik.

Demikian, semoga dapat bermanfaat.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Fiqh Mualaf / Salahudin El Ayyubi, L.C., M.A, dkk. Jakarta : Pusat Kajian Strategis – Badan Amil Zakat Nasional (PUSKAS BAZNAS), 2020. h.45-46

Risalah Tuntunan Shalat Lengkap / Drs. Moh Rifa’i. Semarang : CV. Toha Putra. 1976. h.14-15

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top