Mukaddimah Qur’an Surah 93. adh Dhuha

Surah ini terdiri dari 11 ayat, termasuk kedalam golongan surah Makkiyah. Kata adh-Dhuha berarti ‘Waktu matahari sepenggalahan naik’, diambil dari ayat pertama.  Ada juga yang menamainya persis serupa dengan awal ayatnya.

Surah ini merupakan awal dari surah yang dinamai Qishar al-Mufashshal. Ketika turunnya Rasulullah bertakbir (mengucapkan Allahu Akbar), dan dari pengamalan beliau inilah, para ulama menganjurkan agar setiap selesai membaca surah ini dan surah-surah yang tercantum dalam Mushaf sesudah adh-Dhuha agar bertakbir pula, baik pembacaan tersebut dalam shalat, maupun di luar shalat.

Tema utamanya adalah sanggahan terhadap dugaan yang menyatakan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala telah meninggalkan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. akibat tidak hadirnya wahyu yang selama ini telah diterima oleh Nabi. Sambil menghibur beliau dengan perolehan anugerah Allah hingga beliau puas.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah menguraikan apa yang disebut pada akhir surah lalu (surah al-Lail) bahwa yang paling bertakwa di antara seluruh orang bertakwa adalah Rasulullah, dalam pandangan keridhaan Allah. Keridhaan-Nya tidak terputus bagi beliau di dunia dan akhirat. Ini disebabkan karena terhiasinya beliau dengan sifat-sifat sempurna yang merupakan sarana mengantar kepada tujuan, bagaikan adh-Dhuha yang merupakan cahaya matahari yang paling sempurna. Dengan demikian nama surah ini menunjuk kepada tujuan tersebut.

Sebelum turunnya surah ini Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam telah sepuluh kali menerima wahyu. Dengan merujuk kepada penelitian sejumlah pakar al-Qur’an dan sebagian Orientalis seperti Noldeke, diperoleh informasi bahwa sepuluh surah (bagian surah) pertama yang diterima Nabi Muhammad ialah; 1. Iqra’, 2. al-Qalam, 3. al- Muzzammil, 4. al-Muddassir, 5. al-Lahab, 6. at-Takwir, 7. Sabbihisma, 8. Alam Nasyrah, 9. al-Ashr, dan 10. al-Fajr. Setelah turunnya ayat-ayat pada ke-10 surah tersebut, tiba-tiba wahyu “terputus” kedatangannya. 

Ketidakhadiran wahyu al-Qur’an yang diterima Nabi melahirkan berbagai tanggapan masyarakat, bahkan dampak negatif dalam jiwa Nabi sendiri. Beliau menjadi gelisah, walaupun tidak sampai kepada suatu tingkat yang digambarkan oleh penafsir Muhammad Abduh dan al-Maraghi, berdasarkan suatu riwayat – bahwa “Nabi sering kali pergi ke puncak gunung untuk menjatuhkan dirinya (membunuh diri),”Wa al-‘Iyadzu billah/Tuhan Muhammad telah meninggalkan dan membencinya,” demikian tanggapan sementara kaum musyrikin atas ketidakhadiran wahyu itu.

Adapun mengenai siapa yang mengucapkan kata-kata tersebut, yang kemudian dibantah oleh ayat ketiga surah ini, tidak diketahui jelas, karena banyak riwayat yang simpang siur. Satu riwayat menyatakan bahwa orang itu adalah Ummu Jamil istri Abu Lahab; ada pula riwayat yang mengatakan bahwa yang berkata demikian adalah Khadijah, istri Nabi sendiri.

Muhammad Abduh berpendapat bahwa ucapan itu adalah gambaran tentang gejolak jiwa Nabi sendiri yang merasa telah ditinggalkan dan dibenci oleh Tuhan. Abduh menolak pandangan yang menyatakan bahwa kaum musyrikin yang mengucapkan kata-kata itu, dengan alasan, bagaimana mereka mengetahui ketidakhadiran wahyu, sampai mereka dapat memberi tanggapan semacam itu?

Yang terjadi menurut Muhammad Abduh adalah karena Nabi sudah demikian rindu dengan kehadiran wahyu, setelah merasakan manisnya berhubungan dengan wahyu Ilahi, dan setiap kerinduan melahirkan kegelisahan, setiap kegelisahan melahirkan rasa takut. Rasa takut ini dialami oleh setiap manusia. Sedang Rasulullah adalah manusia, yang hanya berbeda dengan manusia lain dari segi perolehan wahyu semata. sebagaimana ditegaskan Allah dalam banyak tempat di dalam al-Qur’an, seperti: “Aku hanyalah seorang manusia seperti kamu (tetapi) yang mendapat wahyu.”

Betapapun berbeda-beda riwayat itu, namun yang dapat dipastikan adalah bahwa surah ini turun sebagai bantahan terhadap dugaan tersebut sekaligus hiburan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menyangkut masa depan risalah yang diembannya.

Mengapa wahyu tidak datang sebagaimana biasanya? Riwayat lain yang dikemukakan oleh ath-Thabarani menyatakan bahwa seekor anak anjing mati di kamar tidur Nabi, sedang Jibril enggan masuk di satu rumah yang di dalamnya terdapat anjing, dan nanti setelah bangkai anjing itu dikeluarkan, barulah malaikat Jibril datang. Riwayat ini memiliki kelemahan-kelemahan baik dari segi sanad (rangkaian para perawinya) maupun dari segi matan (kandungan beritanya).

Berapa lamakah Nabi menantikan kehadiran wahyu, sehingga timbul tanggapan negatif di atas? Berbeda-beda pula riwayat menyangkut hal ini. Imam Bukhari menyatakan 2 atau 3 hari, sedang Ibn Jarir ath-Thabari mendukung riwayat yang menyatakan 12 hari. Ada juga riwayat yang menyatakan 15 bahkan 40 hari, tentunya semakin lama jarak antara keduanya semakin besar kegelisahan dan tanggapan negatif, demikian pula sebaliknya, sehingga riwayat Bukhari di atas agaknya dapat diartikan sebagai ‘2-3 hari’ dalam arti beberapa hari.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top