Surah ini terdiri dari 21 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Kata ’al-Lail berarti ’Malam’, diambil dari ayat pertama. Merupakan surah yang ke-9 dari segi urutan turunnya, sesudah surah Sabbihisma (al-A’la) dan sebelum surah al-Fajr. Ada juga yang menulisnya surah Wa al-Lail atau menamainya persis sebagaimana bunyi awal ayatnya.
Sebagian ulama mengemukakan riwayat yang menyatakan bahwa ayat 5 sampai 7 turun menyangkut sahabat Nabi, Abu ad-Dahda’ al-Anshari. Dikisahkan ada pohon kurma yang buahnya berjatuhan, lalu dimakan oleh beberapa anak dari seorang muslim yang papa. Tetapi pemiliknya yang munafik melarang bahkan merampas buah-buah itu dari tangan mereka. Sang muslim yang papa itu kemudian mengadu kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Nabi kemudian menawarkan kepada pemilik kebun untuk bersedekah serta akan didoakan memperoleh gantinya di surga. Namun, sang pemilik tetap enggan dan akhirnya dibeli oleh Abu ad-Dahda’. Peristiwa ini, menurut riwayat tersebut terjadi setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah.
Menurut Prof M. Quraish Shihab, kalaupun riwayat ini diterima, maka itu bukan berarti bahwa peristiwa itu terjadi menjelang turunnya surah ini, tetapi artinya bahwa peristiwa itu merupakan salah satu yang dicakup maknanya oleh ayat-ayat di atas. Memang, salah satu arti Sabab Nuzul suatu ayat adalah tercakupnya satu peristiwa atau lebih dalam kandungan hukum atau uraian ayat tersebut, baik peristiwa itu terjadi sebelum turunnya ayat dimaksud maupun sesudahnya, selama masih dalam periode turunnya wahyu.
Surah ini mengandung uraian tentang kemuliaan orang-orang mukmin dan keutamaan amal mereka dan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala menuntun mereka ke arah kebajikan, demikian juga sebaliknya terhadap para pendurhaka. Setiap orang melakukan amal yang berbeda dan tentu balasan terhadap amalnya pun berbeda-beda pula, agar adil.
Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang maksud surah yang lalu asy-Syams Wa Dhuhaha yaitu pengendalian sempurna terhadap jiwa melalui pembuktian kuasa-Nya dengan perbedaan manusia dalam aktivitasnya, padahal tujuan mereka sama yakni meraih kelezatan syahwat perut dan seks, serta apa yang menjadi dampaknya berupa kesenangan. Namanya al-Lail (malam) merupakan bukti yang sangat jelas dengan hal tersebut yakni dengan memperhatikan sumpah dan informasi yang hendak dikuatkan oleh sumpah itu.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.