Mukaddimah Qur’an Surah 91. asy Syams

Surah ini terdiri dari 15 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Kata asy-Syams berarti ‘Matahari’, diambil dari ayat pertama. Surah yang ke-26 dari segi urutan turunnya, sesudah al-Qadr dan sebelum surah al-Buruj.

Imam Bukhari dalam kitab shahih-nya menamainya surah Wa asy-Syams Wa Dhuhaha, sesuai bunyi ayat pertamanya. Nama ini lebih baik dari pada sekadar menyebut surah asy-Syams karena ada surah lain yang juga menyebut kata asy-syams pada awalnya yaitu surah at-Takwir.

Tujuan utama surah ini adalah anjuran untuk melakukan aneka kebajikan dan menghindari keburukan. Itu ditekankan dengan aneka sumpah yang menyebut sekian macam hal, agar manusia memperhatikannya, guna mencapai tujuan tersebut. Sebab kalau tidak mereka terancam mengalami bencana sebagaimana yang dialami oleh generasi terdahulu.

Thabathaba’i menulis bahwa surah ini mengingatkan bahwa kebahagiaan manusia adalah dengan menyucikan dan mengembangkan dirinya dengan pengembangan yang baik serta menghiasinya dengan ketakwaan dan menghindarkannya dari segala kedurhakaan. Sebaliknya, ketidakberhasilan meraih sukses adalah dengan memendam potensi positif itu. Ini dibuktikan oleh surah ini dengan pengalaman pahit generasi terdahulu.

Sayyid Quthub secara singkat melukiskan surah ini sebagai uraian menyangkut hakikat jiwa manusia serta potensi naluriahnya yang suci, peranan manusia terhadap dirinya dan tanggung jawabnya menyangkut kesudahan hidupnya. Hakikat tersebut dikaitkan oleh surah ini dengan hakikat-hakikat yang terdapat di alam raya serta kenyataan-kenyataannya, sambil mengemukakan contoh dari kekecewaan yang menimpa mereka yang tidak menyucikan jiwanya.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I memahami tema surah ini sebagai bukti tentang kuasa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala mengendalikan jiwa manusia, yang merupakan matahari jasmaninya, menuju kebahagiaan atau kesengsaraan. Sebagaimana kuasa-Nya mengendalikan matahari bahkan seluruh alam raya ini. Namanya asy-Syams (Matahari) menunjuk tujuan tersebut.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top