Mukaddimah Qur’an Surah 94. asy Syarh

Surah terdiri atas 8 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Kata asy-Syarh berarti ‘Bukankah Kami telah melapangkan’. Ada juga yang menamainya surah Alam Nasyrah atau surah al-Insyirah. Semua nama tersebut merujuk ke ayat pertamanya. Merupakan wahyu ke-12 yang diterima, sesudah surah Wa adh-Dhuha dan sebelum surah al-\’Ashr.

Tema utamanya adalah penenangan hati Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menyangkut masa lalu dan masa datang beliau,  agar tabah menjalankan risalah, serta tuntunan untuk berusaha sekuat tenaga dengan penuh optimisme. Diantara sunah-Nya adalah kesulitan akan bersanding dengan kemudahan.

Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i tujuan utama surah ini adalah rincian dari apa yang diuraikan pada akhir surah yang lalu, surah adh-Dhuha menyangkut nikmat Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Serta penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan perintah fa haddits (sampaikan) yakni nikmat Allah. Maksudnya adalah mensyukurinya dengan berusaha sekuat tenaga beribadah kepada Allah, mengharap limpahan karunia dan keagungan rahmat-Nya. Ini semua diisyaratkan oleh nama surah ini yakni asy-Syarh (Kelapangan dada).

Sebagian ulama berpendapat surah ini merupakan kelanjutan dari surah adh-Dhuha. Perhatikanlah ayat-ayat 6-8 surah adh- Dhuha, lalu bandingkan dengan awal surah ini. Di sana Anda dapat melihat kemiripan kedua redaksi ayat, demikian pula kandungannya yang berintikan uraian tentang anugerah Allah kepada Rasulullah.

Terdapat satu riwayat yang disandarkan kepada ‘Umar Ibn Abdul ‘Aziz Radiallahu Anhu (yang dikenal dengan gelar khalifah ke-5 karena kesalehan dan kearifannya), yang menyatakan bahwa beliau membaca kedua surah tersebut di dalam satu raka‘at shalat tanpa memisahkannya dengan Basmalah.

Tetapi walaupun demikian, kesemua hal yang disebutkan di atas tidaklah cukup untuk menjadi alasan kedua surah tersebut pada hakikatnya merupakan satu surah saja.  Ini karena, “hubungan yang sangat erat antara satu surah atau bahkan satu ayat dengan surah atau ayat yang lain dari segi makna atau penempatannya dalam Mushaf, tidak dapat dijadikan indikator tentang kesatuan unit atau bagian serta kebersamaan waktu turun.” Demikian pendapat para pakar, yang dikutip oleh Prof M. Quraish Shihab.

Di sisi lain, menurut Prof Quraish Shihab, kondisi kejiwaan Rasulullah menjelang turunnya surah adh-Dhuha jauh berbeda dengan ketika turunnya surah asy-Syarh. Saat menjelang turunnya surah adh-Dhuha, Rasulullah sangat gelisah dan bimbang, akibat ketidakhadiran wahyu yang dinanti dalam beberapa lama. Sedangkan ketika turunnya surah Alam Nasyrah dada Rasulullah sedemikian lapang, jiwanya sedemikian tenang sehingga Allah mengingatkan beliau tentang anugerah tersebut pada awal surah ini. Ini bukan berarti bahwa kedua surah itu tidak berhubungan secara serasi dari segi kandungan, namun keserasian itu tidak mengantar kepada kesatuan kedua surah.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top