Surah ‘Abasa terdiri atas 42 ayat, yang disepakati sebagai surah Makkiyah. Dinamai ‘Abasa yang berarti ‘Ia yang bermuka masam’, diambil dari ayat pertama. Surah yang ke-24 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah an-Najm dan sebelum surah al-Qadr. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekah, Madinah, Kufah adalah 42 ayat, sedang menurut cara perhitungan ulama Bashrah 41 ayat.
Surah ini merupakan awal dari surah-surah al-Mufashshal yang pertengahan jumlah ayat-ayatnya. Sedang surah al-Hujurat sampai dengan an-Nazi‘at adalah awal surah al-Mufashshal yang jumlah ayat-ayatnya dinilai banyak.
Ada juga yang menamainya surah ash-Shakhkhah (yang memekakkan telinga), surah as-Safarah (para penulis kalam Ilahi) dan surah al-A‘ma (sang tuna netra) yang kesemuanya diambil dari kata-kata yang terdapat dalam surah ini. Pakar tafsir Ibn al-‘Arabi dalam bukunya Ahkam al-Qur’an menamainya surah Ibn Ummi Maktum, karena awal surah ini turun berkenaan dengan kasus sahabat Nabi yang buta itu.
Yaitu ketika Nabi berdakwah dihadapan beberapa pembesar Quraisy, datanglah Abdullah Ibn Ummi Maktum yang ingin bertanya kepada nabi menyangkut suatu ayat. Namun karena tidak bisa melihat nabi yang sedang sibuk, ia langsung bertanya kepada Nabi. Nabi yang ketika itu merasa terganggu, bermuka masam. Allah kemudian menegur Nabi dengan menurunkan surah ini. Serta menegur manusia sombong yang melupakan Sang Pemberi nikmat, padahal sebelumnya hanya setetes mani.
Tema utamanya menurut Thahir Ibn ‘Asyur adalah pengajaran kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam untuk menentukan peringkat kepentingan, agar mendahulukan sesuatu yang lebih penting yang bertujuan lebih dahulu pada akhirat dibanding yang lain, dengan tingkat kepentingan yang berbeda. Sambil mengisyaratkan perbedaan keadaan kaum musyrikin yang berpaling, dengan kaum muslimin yang memberi perhatian besar terhadap ajaran Islam.
Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I, tema dan tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang kandungan ayat 45 surah yang lalu yaitu (an-Nazi’at): “Engkau hanyalah pemberi peringatan bagi siapa yang takut kepadanya yakni kepada hari Kiamat.” Memberi peringatan bagi siapa yang memiliki potensi (dan bermaksud) untuk takut kepada Allah melalui peringatan tentang hari Kiamat yang telah terbukti keniscayaannya dengan kuasa-Nya menciptakan manusia pertama kali, serta penciptaan awal dan pengulangannya menyangkut makanan. Namanya ‘Abasa (bermuka masam) menunjukkan tujuan tersebut dengan memperhatikan ayat-ayatnya serta tujuannya. Demikian juga dengan namanya yang lain yaitu ash-Shakhkhah dan al-Bakhkhah yang menggambarkan tersemburnya api dan keburukan.
Thabathaba’i berpendapat bahwa surah ini merupakan kecaman kepada siapa yang memberi perhatian kepada orang-orang kaya yang bermewah-mewah dengan mengabaikan orang-orang lemah dan miskin dari kaum beriman. Thabathaba’i mengemukakan riwayat yang berbeda dengan riwayat populer di kalangan kelompok Ahl as-Sunnah yang mengatakan bahwa ayat ini turun sebagai teguran kepada Rasulullah yang bermuka masam terhadap ‘Abdullah Ibn Ummi Maktum yang tunanetra. Beliau mengemukakan riwayat dari sumber Syi‘ah yang menyatakan bahwa yang bermuka masam bukanlah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam tetapi salah seorang selain beliau yang ada pada saat itu.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.