Surah an-Nazi‘at terdiri dari 46 ayat, termasuk ke dalam kelompok surah Makkiyah. Dinamai an-nazi‘at yang berarti ‘Malaikat-malaikat yang mencabut’, diambil dari ayat pertama. Surah ini merupakan surah ke-81 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah an-Naba’ dan sebelum surah al-Infithar. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 45 ayat menurut cara perhitungan ulama-ulama Kufah.
Namanya surah Wa an-Nazi‘at yakni dengan huruf wauw pada awalnya. Ada juga yang menamainya tanpa menggunakan huruf wauw. Namanya yang lain adalah as-Sahirah dan ath-Thammah. Keduanya juga diangkat dari kata yang disebut oleh ayat-ayatnya.
Surah ini dimulai dengan menggunakan sumpah, sebagai pertanda pentingnya masalah yang disampaikan. Berupa pembuktian tentang keniscayaan hari Kebangkitan melalui tanda-tanda yang diberikan-Nya. Kemudian uraian tentang pengalaman Nabi Musa Alaihis Salam dengan Fir‘aun. Serta penggambaran tentang rububiyyah (pemeliharaan) dan pengaturan Ilahi menyangkut manusia yang pada akhimya terbagi menjadi dua yaitu penghuni surga dan neraka.
Sayyid Quthub menulis bahwa surah ini merupakan contoh dari sekian banyak contoh pada juz ini guna menyentuh hati manusia menyangkut hakikat akhirat, yakni tentang kedahsyatan dan keagungannya. Serta keniscayaannya dan ketetapan Allah bagi alam raya ini. Demikian juga tentang pengaturan Ilahi bagi fase-fase dan langkah-langkah penciptaan, baik di permukaan dan perut bumi, kemudian di akhirat nanti yang merupakan akhir dari penciptaan.
Tujuan utama surah ini menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘iadalah uraian tentang akhir perjalanan hidup manusia di pentas bumi ini dan keniscayaan Kebangkitan mereka pada hari Kiamat. Itu digambarkan melalui pencabutan nyawa melalui malaikat-malaikat mulia serta uraian tentang Fir‘aun dan Nabi Musa Alaihis Salam. Tujuan ini menjadi sangat jelas jika diperhatikan namanya yakni an- Nazi\’at (pencabut), demikian juga namanya yang lain yaitu as-Sahirah (Padang Mahsyar) dan ath-Thammah (Malapetaka).
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.