Mukaddimah Qur’an Surah 77. al Mursalat

Surah ini terdiri dari 50 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Dinamakan al-Mursalat, berarti ‘para utusan’, diambil dari ayat pertama. Menurut Jabir Ibn ‘Abdillah Radiallahu Anhu merupakan surah ke 33. Setelah al-Humazah

Namanya yang popular pada masa sahabat adalah surah wa al-Mursalat. Ada juga yang menambahkan kata ‘Urfa. ‘Abdullah Ibn Mas’ud meriwayatkan bahwa “Ketika kami sedang berada dalam gua di Mina, tiba-tiba  turun surah wa al-Mursalat ‘Urfa(HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan ada yang hanya menamainya surah ‘Urfa.

Dengan riwayat diatas, surah al-Mursalat dapat dinilai sebagai salah satu surah yang paling awal diterima Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Karena keberadaan beliau di gua mengisyaratkan upaya menghindari kaum musyrikin Mekkah, sedang situasi semacam ini dapat terjadi pada awal masa Islam. Gua tersebut dikenal dengan Gua al-Mursalat.

Ada ulama yang mengecualikan ayat 48, sebagai Madaniyah. Ini atas dasar pandangan bahwa ayat ini berbicara tentang orang munafik yang diperintahkan ruku’ (shalat) tetapi enggan, sedang kemunafikan baru terjadi di Madinah. Ada juga yang menyatakan bahwa ayat itu turun menyangkut utusan Tsaqif yang datang ke Madinah setelah terjadinya Perang Hauzan. Dalam riwayat tersebut, dinyatakan bahwa Rasulullah membacakan ayat tersebut kepada mereka, tetapi mereka enggan shalat dengan alasan bahwa ruku’ adalah aib buat mereka. Riwayat dan pendapat ini lemah karena bisa saja ayat tersebut sudah turun sebelum Nabi membacakannya kepada mereka. Di sisi lain, bisa saja kata ruku’ pada ayat diatas bermakna perintah untuk memeluk Islam.

Tema utama surah ini adalah tentang keniscayaan Kiamat serta bukti kuasa Allah membangkitkan manusia disertai dengan ancaman bagi para pengingkarnya. Kehancuran umat terdahulu dikarenakan mereka telah mendustakan para nabi dan berperilaku sombong.

Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang akhir (perjalanan hidup) manusia dengan pemberian ganjaran bagi yang bersyukur, dan pembalasan bagi yang kafir. Itu terjadi pada hari dijatuhkan putusan (Hari Kiamat) setelah Allah menghimpun jasad dan menghidupkan manusia dari yang sebelumnya seluruh wujud telah ‘dilipat-Nya’ dan alam yang kita kenal diubah-Nya. Karena, memang Allah Maha Kuasa.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top