Mukaddimah Qur’an Surah 74. al Muddassir

Surah ini terdiri dari 56 ayat, Termasuk ke dalam golongan Makkiyah. Dinamakan al-Muddassir yang berarti ‘Orang yang Berkemul’,diambil dari ayat pertama. Ada juga  ulama yang mengatakannya berjumlah 55 ayat.

Sekian ayatnya (ayat 1-7) dinilai oleh banyak ulama sebagai bagian dari wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Bahkan ada yang berpendapat awal surah ini turun setelah turunnya lima ayat pertama surah Iqra’.

Memang ada pendapat yang menjadikan surah al-Muzzammil sebagai wahyu kedua antara lain didasarkan pada riwayat Ibn Ishaq. Hanya saja walaupun kisah yang diutarakannya mirip dengan kisah turunnya awal surah al-Muddassir namun pada akhir redaksi riwayat tersebut ditemukan semacam keraguan dari perawinya, apakah ia al-Muddassir atau al-Muzzammil.

Dalam riwayat Bukhari, seorang sahabat Nabi, Jabir Ibn ‘Abdillah Radiallahu Anhu,  ditanya: “Wahyu al-Qur’an manakah yang turun permulaan?” Jabir menjawab: “Ya Ayyuha al-Muddassir. ” Penanya meminta konfirmasi: “Bukankah surah Iqra’?” Jabir menjawab: “Aku tidak menyampaikan kepadamu kecuali apa yang diberitakan oleh Rasulullah kepada kami.”

Hadits yang dikemukakan oleh Bukhari dan Muslim menyangkut sejarah turunnya surah ini, justru menjelaskan bahwa surah al-Muddassir turun sebelum turunnya Iqra’. Namun, ulama-ulama hadits tidak berpendapat demikian, karena mereka menemukan dalam redaksi hadits tersebut suatu petunjuk yang dapat dijadikan dasar bagi pendapat yang menyatakan Iqra’ adalah wahyu pertama yang turun, apalagi jika dilihat banyaknya riwayat lain yang mendukung kedudukan surah Iqra’ sebagai wahyu pertama.

Dalam riwayat lain, juga pada Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, Jabir menyampaikan apa yang menurutnya diberitakan oleh Rasul saw. yaitu: “Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari atas. Maka kuarahkan pandanganku ke langit. Tiba-tiba (kulihat) malaikat yang dating kepadaku di Gua Hira duduk di atas sebuah kursi antara langit dan bumi. Maka aku bertekuk lutut dan terjatuh ke tanah. Aku bersegera kembali kepada keluargaku (Khadijah) dan berkata: “zammiluni… zammiluni. ” Maka turunlah ayat-ayat ya ayyuha al-Muddassir sampai dengan wa ar-rujza fahjur.

Ibn Katsir berkomentar tentang riwayat ini bahwa: “Redaksi di atas menunjukkan adanya wahyu yang telah turun sebelum al-Muddassir, karena Nabi dalam hadits di atas mengatakan: ‘Tiba-tiba malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira … dan seterusnya.’ Ini berarti malaikat tersebut (yakni Jibril) telah datang sebelumnya ke sana untuk membawa wahyu pertama, Iqra’ bismi Rabbika. ”

Sejarah turunnya al-Qur’an memberitakan bahwa pernah terjadi selang waktu yang relatif lama setelah turunnya Iqra’. Di mana ketika itu Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam tidak menerima wahyu. sehingga kalau surah al-Muddassir ini akan dinamakan juga surah pertama yang turun, maka yang dimaksud adalah surah pertama setelah selang waktu tersebut, bukan yang pertama secara keseluruhan.

Antara al-Muddassir dan al-Muzzammil tidak dapat dipastikan mana yang terdahulu dan mana yang kemudian. Kisah turunnya sangat mirip, yakni seperti yang diceritakan Jabir di atas. Ayat-ayat awalnya pun berbicara menyangkut hal yang sama, yaitu pembinaan terhadap diri Rasulullah, dalam rangka menghadapi tugas-tugas penyebaran agama. Diantara isi surah ini adalah perintah berdakwah, mengagungkan asma Allah, membersihkan pakaian dan meninggalkan sesembahan selain Allah. Setiap orang terikat oleh perbuatannya sendiri dan harus mempertanggungjawabkannya, baik tunduk pada Allah ataupun ketika menentang peringatan Nabi-Nya

Tema utamanya menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i adalah mendorong untuk bersungguh-sungguh dalam usaha memberi peringatan terhadap mereka yang angkuh sambil membuktikan keniscayaan Kebangkitan dan mengisyaratkan pula tentang balasan serta, ganjaran yang akan diperoleh yang durhaka atau yang taat. Tujuan ini sangat jelas bagi yang memperhatikan panggilan dan siapa yang dipanggil oleh awal surah ini serta sebab turunnya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya..


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top