Surah ini terdiri dari 52 ayat, termasuk golongan surah Makkiyah. Dinamakan al-Qalam yang berarti ‘Kalam’, diambil dari ayat pertama. Nama lainnya adalah Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu yakni Surah Nun Wal Qalam.
Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat. Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Nabi, Ibn ‘Abbas Radiallahu Anhu, menyatakan bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai dengan ayat 33 adalah Madaniyah, selanjutnya ayat 34 sampai dengan 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.
Thabathaba’i berpendapat bahwa surah ini bertujuan menghibur Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, setelah beliau dicerca oleh kaum musyrikin sebagai orang gila. Dengan surah ini Allah Subhanahu Wa Ta\’ala menenangkan hati beliau melalui janji serta pujian atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap saat menghadapi mereka.
Tema utama surah ini menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i adalah menampakkan apa yang tersembunyi serta menjelaskan apa yang samar pada firman-Nya dalam surah al-Mulk yang lalu (ayat 26) yakni: “Maka kelak kamu akan mengetahui siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata” yaitu dengan menegaskan siapa yang memperoleh petunjuk dengan menyandang ilmu yang merupakan cahaya yang sangat jelas dan yang tidak mungkin tersesat melalui penerimaannya atas petunjuk al-Qur’an. Bukti yang paling jelas tentang tujuan ini adalah namanya yakni Nun dan al-Qalam.
Sahabat Nabi, Jabir Ibn Abdillah Radiallahu Anhu menyatakan bahwa surah al-Qalam adalah surah kedua yang diterima Rasulullah, sesudahnya adalah surah al-Muzzammil baru kemudian al-Muddatsir. Tetapi riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah pertama yang diterima awal ayat-ayatnya oleh Nabi adalah Iqra’, kemudian terhenti wahyu sekian lama lalu turunlah surah al-Muddatsir.
Sayyid Quthub berpendapat lain. Menurutnya, tidak dapat ditentukan kapan persis surah ini turun, baik awal maupun akhirnya. Tidak juga dapat dipastikan bahwa awalnya turun lebih dahulu dan selebihnya turun kemudian. Memang banyak riwayat-riwayat yang menyatakan bahwa surah ini adalah surah kedua turun sesudah surah Iqra’ dan disepakati dari segi perurutan aneka mushhaf bahwa surah ini adalah yang kedua. Tetapi tema surah dan uslub (gayanya) menjadikan Sayyid Quthub mengukuhkan selain itu, bahkan hampir dapat dikatakan bahwa ia turun setelah sekian lama dari masa dakwah Nabi yang bersifat umum yakni setelah tiga tahun dari dakwah beliau yang diarahkan kepada orang perorang. Ia turun pada saat kaum musyrikin Mekah menolak dan memerangi dakwah Nabi itu, sehingga menuduh Nabi dengan tuduhan yang sangat buruk (gila), maka al-Qur’an membantah dan menafikan serta mengancam mereka yang menghalangi dakwah sebagaimana terbaca pada awal surah.
Sebagian ulama menyatakan bahwa penafian kegilaan itu bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrikin, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itu yang dinafikan sehingga sangat wajar jika surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima. Pendapat semacam ini pun ditolak oleh Sayyid Quthub, bukan saja karena tidak adanya riwayat yang pasti tentang hal tersebut, tetapi juga karena konteks ayat-ayat surah ini demikian menyatu yang
menunjukkan bahwa akhir surah yang menyatakan: Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkanmu dengan pandangan mereka tatkala mereka mendengar adz-Dzikr dan mereka berkata: “Sesungguhnya dia benar-benar orang yang gila”. Inilah menurut Sayyid Quthub yang dinafikan oleh awal surahnya.
Di sisi lain kandungan surah ini yang menggambarkan keinginan kaum musyrikin untuk bertemu dengan Nabi “di pertengahan jalan” yakni berusaha agar saling melunak, menunjukkan bahwa ia tidak turun pada masa dakwah perorangan, tetapi ketika Nabi telah memasuki dakwah yang bersifat umum dan setelah kaum musyrikin menyadari bahaya dakwah nabi terhadap kepercayaan mereka. Demikian jelas Sayyid Quthub.
Jadilah orang yang bertaqwa yang kelak akan mendiami surga penuh kenikmatan, dan bersabar, tabah dan tekun dalam melaksanakan perintah-Nya. Semua kejadian yang berlalu sangat baik untuk diambil sebagai pelajaran.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.