Mukaddimah Qur’an Surah 67. al Mulk

Surah ini disepakati oleh ulama sebagai surah Makkiyah. Dinamakan al-Mulk yang berarti ‘Kerajaan’, diambil dari ayat pertama. Surah ini merupakan surah yang ke 76 dari segi perurutan turunnya surah-surah al-Qur’an, sebelum surah al-Haqqah dan sesudah surah al-Mu’minun. Jumlah ayat-ayatnya 30, dan ada juga yang menghitungnya sebanyak 31 ayat.

Sebagian ulama menilai keseluruhan surah yang terdapat dalam Juz 29 al-Qur’an adalah Makkiyah. Sebagaimana keseluruhan surah yang terdapat dalam Juz ke 28 adalah Madaniyah.

Namanya cukup banyak. Pakar hadits at-Tirmidzi meriwayatkan melalui Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menamainya Surah Tabaraka alladzi biyadihi al-Mulk, demikian dalam bentuk satu kalimat ayat pertama. Dalam riwayat at-Tirmidzi yang lain melalui Ibn ‘Abbas ditemukan juga nama Tabaraka al-Mulk. Ada juga riwayat yang menyatakan bahwa Nabi menyifatinya dengan al-Munjiyah/Penyelamat, dan al-Mani’ah/Penghalang. Tetapi namanya yang paling popular adalah Tabarak dan al-Mulk.

Diawali dengan penjelasan keagungan dan kekuasaan Allah, hidup dan mati adalah ujian bagi manusia, siapa yang paling baik amalnya. Mereka yang menggunakan akalnya kemudian beriman dan mensyukuri rahmat-Nya akan mendapat ampunan dan pahala, sedangkan orang kafir menyesal di akhirat.

Surah ini menurut Sayyid Quthub bertujuan menciptakan pandangan baru bagi masyarakat muslim tentang wujud dan hubungan-Nya dengan Tuhan Sang Pencipta wujud. Gambaran menyeluruh, melampaui alam bumi yang sempit dan ruang dunia yang terbatas menuju alam langit bahkan menuju kepada kehidupan akhirat. Kepada makhluk lain selain manusia, baik yang hidup di dunia seperti jin dan hewan, maupun di alam akhirat seperti neraka Jahannam dan penjaga-penjaganya hingga mencapai alam-alam gaib yang berbeda dengan alam nyata, yakni yang berkaitan dengan hati manusia dan perasaannya.

Tema dan tujuan utama surah ini menurut Thabathaba’i adalah penjelasan tentang ketercakupan segala sesuatu oleh rububiyyah (pemeliharaan, pengendalian dan pengaturan) Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Bertolak belakang dengan pandangan kaum musyrikin yang beranggapan bahwa setiap bagian dari alam raya ada tuhan pengatur dan pengendalinya, apakah pengatur malaikat atau selainnya. Karena Tuhan menurut musyrikin hanya berfungsi sebagai Tuhannya segala tuhan. Wewenang pengaturan telah beralih kepada tuhan-tuhan yang lain. Atas dasar tujuan itu, maka dalam surah ini disebut-sebut aneka nikmat Allah menyangkut penciptaan dan pengaturan yang merupakan salah salah satu argumentasi tentang rububiyyah-Nya, sebagaimana berulang-ulang pula disebut sifat-Nya sebagai ar-Rahman, Pelimpah rahmat yakni anugerah hingga uraiannya diakhiri dengan menyebut tentang Kebangkitan pada hari Kiamat.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah ketundukan mutlak kepada Allah Yang Maha Sempurna kekuasaan-Nya. Namanya surah al-Mulk membuktikan hal tersebut karena kekuasaan mengantar kepada ketundukan; demikian juga namaya Tabaraka karena yang demikian itu halnya tentulah mantap dan bersinambung keadaannya lagi melimpah anugerahnya yang kesemuanya mengantar kepada ketundukan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top