Surah ini terdiri dari 18 ayat, termasuk ke dalam kelompok Madaniyah. Merupakan surah yang ke-107 dari segi perurutan turunnya surah-surah al-Qur’an, sesudah surah al-Jumu‘ah dan sebelum surah ash-Shaff. Ada juga yang mengatakan turun setelah surah at-Tahrim. Dinamakan at-Taghabun yang berarti ‘Hari Kerugian atau Hari Dinampakkannya Kesalahan-Kesalahan’ (ayat 9), satu-satunya kata yang tidak ditemukan pada surah lain kecuali dalam surah ini.
Sebagian kecil ulama menduganya Makkiyah. At-Tirmidzi meriwayatkan yang dinisbahkan kepada Ibn \’Abbas Radiallahu Anhu, bahwa ayat-ayatnya turun menyangkut sebagian kaum muslimin yang bermukim di Mekah dan ingin berhijrah, tetapi istri dan anak-anak mereka menghalangi mereka.
Memang kalau kita memperhatikan uraian awal surah ini yang menyinggung tentang akidah, tentang kuasa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala menciptakan langit dan bumi, serta manusia, dan uraiannya tentang keniscayaan Kiamat, maka ia dapat dikatakan merupakan uraian ayat-ayat Makkiyah. Tetapi jika memperhatikan ayat-ayatnya yang terakhir, di mana ada panggilan kepada orang-orang beriman, serta penjelasan tentang makna takwa, maka ini mengesankan bahwa surah ini adalah Madaniyah.
Prof M. Quraish Shihab mengambil jalan tengah dengan berkata bahwa sebagian turun di Mekah dan sebagian turun di Madinah, atau bahwa ia adalah Madaniyah walaupun uraian awalnya berbicara tentang tema ayat-ayat Makkiyah. Karena tidak ada salahnya tema tersebut di bicarakan lagi dalam periode Madaniyah, karena memang persoalan tersebut harus selalu dihayati oleh kaum muslimin.
Surah ini berisi kekeraskepalaan orang kafir yang masih tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan kelak, padahal seluruh isi alam raya bertasbih kepada Allah. Juga peringatan kepada yang beriman untuk berhati-hati dalam mendidik istri dan anak, karena merekapun bisa menjadi musuh, dan kekayaan pun bisa menjadi fitnah. Karena itu bertakwalah dan nafkahkan dengan baik.
Thabathaba’i menilai surah ini mirip dengan surah al-Hadid, bagaikan ringkasan dari surah itu. Tujuannya adalah mendorong kaum beriman untuk berinfak di jalan Allah, serta\’ menyingkirkan keresahan dan kesedihan yang menyentuh benak dan hati mereka akibat aneka petaka yang menimpa mereka. Mengukuhkan jiwa mereka dengan memikul konsekuensi iman dan jihad serta infak, karena semua itu adalah atas izin Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i secara singkat menyatakan bahwa tema utama surah ini adalah penyampaian tentang peringatan yang dikandung oleh surah al-Munafiqun (surah yang lalu). Dengan mengemukakan bukti yang pasti tentang keniscayaan pertemuan dengan Tuhan yang akan menuntut pertanggungjawaban seluruh amal-amal manusia.
Kita dapat menilai bahwa ayat-ayat surah ini mengalir sedemikian rupa sehingga hanya merupakan satu kelompok pembahasan. Thabathaba’i pun yang menjadikan surah ini terdiri dari 2 kelompok, pertama dari ayat 1-10, dan kedua dari 11 hingga 18, menilai kelompok pertama sebagai pendahuluan untuk masuk pada uraian inti dan tujuan surah yakni keseluruhan ayat-ayat kelompok dua.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.