Surah ini terdiri dari 14 ayat, merupakan surah yang ke 108 dari segi perurutan surah-surah al-Qur’an sesudah surah at-Taghabun dan sebelum surah al-Fath. Turunnya setelah peristiwa perang Uhud yang terjadi pada tahun ke 3 H. Dinamakan ash-Shaff yang berarti ‘Barisan’, diambil dari ayat 4.
Surah ini diperselisihkan masa turunnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa turun setelah Nabi berhijrah ke Madinah (Madaniyah). Memang menurut mereka ada ayat-ayatnya yang kandungannya sejalan dengan ayat-ayat Makkiyah.
Ulama juga berbeda pendapat menyangkut cara turun ayat-ayatnya. Apakah semua turun bersama-sama secara berurutan sekaligus atau dalam waktu yang berbeda-beda. At- Tirmidzi meriwayatkan, bahwa sebagian sahabat Nabi berbincang-bincang dan berkata: “Seandainya kita mengetahui amalan yang paling dicintai Allah, niscaya kami mengamalkannya.” Maka turunlah firman-Nya:
(…يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ ). Al-Hakim, Ahmad, Ibn Abi Hatim dan ad-Darimi menambahkan, bahwa “Rasulullah saw. membacanya ayat di atas kepada kami sampai pada akhirnya (akhir surah)”,dan dalam riwayat lain “semuanya”. Riwayat lain menyatakan bahwa ayat kedua surah ini yang mengecam sebagian kaum muslimin, turun setelah perbincangan yang disebut di atas.
Namanya sebagai Surah ash-Shaff telah dikenal sejak masa Nabi dan nama itu tercantum dalam sekian banyak kitab-kitab hadits antara lain Sbahih al-Bukhari. Sebagian ulama menyebutnya juga sebagai Surah ‘Isa karena nama Nabi mulia itu disebutkan dalam surah ini sebanyak dua kali, yakni pada ayat 6 dart 14. Ada juga yang menamainya Surah al-Hawariyyun, karena kata itu disebut pada ayat 14.
Surah ini berisi bahwa seluruh makhluk baik di langit maupun di bumi bertasbih kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Sangat tercela orang yang hanya bisa berkata tanpa berbuat. Keharusan kita bersikap tertib dalam segala perbuatan. Jadilah penolong dan pembela agama Allah yang akan mendatangkan keuntungan besar karena dibalas Allah dengan ampunan dan surga.
Tujuan pertama surah ini menurut Thahir Ibn ‘Asyur adalah peringatan jangan sampai mengingkari janji dan keharusan melaksanakan tuntunan agama serta anjuran untuk ber-jihad fi sabilillah, tidak goyah dan berusaha meneladani al-Hawariyyun (teman-teman setia Nabi ‘Isa Alaihis Salam).
Menurut Sayyid Quthub, surah ini mempunyai dua tujuan pokok yang sangat jelas. Tujuan pertama adalah menetapkan dalam jiwa setiap muslim bahwa ajaran agamanya merupakan sistem hidup yang terakhir yang ditetapkan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.
Sebelumnya telah hadir bentuk-bentuk lain yang sesuai dengan-perkembangan tertentu dalam sejarah kemanusiaan dan telah didahului pula oleh pengalaman dalam kehidupan para rasul dan masyarakat. Kesemuanya itu merupakan pengantar bagi bentuk terakhir dari satu-satunya agama yang dikehendaki Allah untuk menjadi penutup di pentas bumi ini. Karena itu pada surah ini disebutkan risalah Nabi Musa Alaihis Salam yang diganggu oleh kaumnya dan menyimpang dari risalah beliau sehingga mereka tidak wajar lagi dipercaya untuk menegakkan agama Allah di bumi ini (baca ayat 5). Di surah ini diuraikan juga risalah Nabi ‘Isa Alaihis Salam. yang ajarannya merupakan kelanjutan dari ajaran Nabi Musa, sekaligus pembuka jalan bagi kehadiran tuntunan Ilahi yang terakhir sambil menyampaikan berita gembira tentang kehadiran Rasul yang akan membawa tuntunan terakhir itu. Dengan demikian beliau adalah penghubung antara agama samawi yang lalu dan agama samawi yang terakhir (baca ayat 6). Menjadi sesuatu yang pasti dalam ilmu Allah serta takdir pengaturan- Nya bahwa langkah-langkah itu berakhir pada satu ketetapan yang pasti lagi langgeng dan bahwa agama-Nya akan mantap di bumi dalam bentuknya yang terakhir melalui Rasul-Nya yang terakhir (ayat 9).
Atas dasar tujuan pertama di atas yang demikian jelas, lahir tujuan yang kedua, karena perasaan seorang muslim tentang hakikat tersebut dan pengetahuannya tentang kisah akidah Ilahiah itu dan peranannya di pentas bumi ini mendorongnya untuk memantapkan niat untuk berjihad dalam memenangkan agama ini (sebagaimana yang dikehendaki Allah) serta tidak berada dalam kebimbangan antara ucapan dan tindakan. Sungguh buruk bagi seorang mukmin yang mengumandangkan niatnya untuk berjihad, lalu mundur enggan melaksanakannya (sebagaimana menurut beberapa riwayat terjadi pada sekian banyak kaum muslimin), karena itu surah ini setelah menegaskan penyucian Allah oleh seluruh jagat raya, mengecam mereka yang berucap lalu enggan melaksanakan apa yang diucapkannya (ayat 1-2). Demikian dua tujuan pokok yang menjadi tema surah ini. Demikian penjelasan Sayyid Quthub.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i secara singkat menyatakan bahwa tujuan utama surah ini adalah mendorong agar bersungguh-sungguh dan secara sempurna untuk bersatu dalam satu hati guna berjihad menghadapi mereka yang dalam surah al-Mumtahanah (surah yang lalu) diperintahkan agar setiap muslim melepaskan diri darinya. Berjihad mengajak mereka menganut agama yang benar, serta melumpuhkan mereka sebagai upaya menyucikan Allah dari kemusyrikan. Tujuan Ini menurut al-Biqa‘i jelas sekali dari namanya ash-Shaff sebagaimana terlihat pula dari namanya yang lain yaitu al-Hawariyyun.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.