Surah ini terdiri dari 29 ayat, Surah ini dinamakan al-Hadid yang berarti ‘Besi’, diambil dari ayat 25. Memang dalam surah al-Kahfi (ayat 96) juga disebut kata ini, tetapi karena lebih fokus kepada kisah ashabul Kahfi di sana, maka dinamai al-Kahfi.
Surah ini diperselisihkan secara sangat tajam oleh para ulama menyangkut masa turunnya. Apakah sebelum atau sesudah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah. Akan tetapi, sebagian besar ulama menilainya Madaniyah.
Ada riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Nabi, Ibnu Mas\’ud yang menyatakan baru saja empat tahun dari keislaman kami, namun Allah menurunkan ayat yang mengecam kami yaitu: “Belumkah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ hati mereka karena dzikrullah dan apa yang telah turun (kepada mereka) dari kebenaran, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang diberi al-Kitab sebelumnya, lalu berlalulah atas mereka masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik ” (ayat 16) (HR. Muslim, an-Nasa’i dan Ibn Majah). Ini berarti ayat tersebut Makkiyah.
Tetapi ada juga riwayat yang bersumber dari kedua sahabat Nabi, Ibnu \’Abbas dan Anas Ibn Malik yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun setelah 13 atau 14 tahun dari turunnya al-Qur’an (HR. Ibn Mardawaih). Ini berarti ayat tersebut adalah Madaniyah. Memang riwayat Muslim lebih kuat sanadnya, dan Ibnu Mas\’ud sendiri lebih dahulu memeluk Islam dari Anas dan Ibnu Abbas, namun demikian pembicaraan ayat tersebut yang menyinggung Ahl al-Kitab, yakni orang Yahudi dan Nasrani mengesankan pula bahwa ia adalah Madaniyah.
Prof M. Quraish Shihab kemudian mengambil jalan tengah dengan menganggap bahwa sebagian ayat-ayat surah ini Makkiyah dan sebagian lainnya Madaniyah. Jika kita menyatakan Madaniyah, Surah ini berarti merupakan surah ke 95 dari segi perurutan turunnya. Sebagian ulama berpendapat bahwa ia turun sesudah surah az-Zalzalah dan sebelum surah al-Qital. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekah, Madinah dan Syam sebanyak 28 ayat, dan menurut ulama Bashrah dan Kufah sebanyak 29 ayat.
Surah ini menjelaskan bahwa seluruh yang ada di alam semesta bertasbih dan tunduk pada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala ,dansegala kekuasaan yang ada kembali kepada-Nya, lalu mengapa manusia bersifat kikir padahal segalanya milik Allah. Surah ini menekankan tentang pentingnya berinfak di jalan Allah dan menjauhi kekerasan hati yang menjadi ciri orang-orang Yahudi. Bersifat khusyuk dan berpegang erat pada yang haq. Karunia Allah yang terbesar adalah keridaan-Nya kepada mereka yang beriman.
Thabathaba’i hanya menekankan bahwa tema surah ini adalah perintah berinfak. Sayyid Quthub berpendapat bahwa tema surah ini adalah ajakan kepada umat Islam untuk mewujudkan dalam kepribadiannya hakikat keimanan yang utuh. Sehingga seluruh totalitas diri manusia mengarah secara tulus kepada Allah. Tidak kikir atau menahan sesuatu selain demi karena Allah baik jiwa maupun harta benda, Tolak ukurnya adalah Ilahi, dan nilai-nilai yang dijunjungnya adalah nilai-nilai yang sesuai menurut tolak ukur itu. Hakikat itulah yang menjadikan seseorang menjadi rabbani, kendati dia berpijak di bumi.
Berbeda dengan yang lain, Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menegaskan bahwa tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang keumuman risalah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam untuk seluruh manusia, yang dalam Surah al-Waqi’ah telah dibagi menjadi tiga kelompok. Dan untuk itu diperlukan jihad yang membutuhkan harta benda guna meninggikan kalimat Allah sebagai upaya menghindar dari siksa pada hari Kemudian.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.