Surah ini termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Kufah dan Syam sebanyak 49 ayat, sedang menurut cara ulama Bashrah 48 ayat. Merupakan surah ke 75 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah Nuh dan sebelum surah al-Mu’minun. Ada juga yang menyatakan turun sesudah as Sajdah.
Dinamakan ath-Thur yang berarti ‘Bukit’, diambil dari ayat pertama. Surah Ini merupakan salah satu surah yang sering di baca Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam dalam shalat. Jubair Ibn Muth\’im berkata: “Aku mendengar Nabi membaca pada shalat Maghrib surah ath-Thur dan aku tidak pernah mendengar Seorang yang lebih bagus suara dan bacaannya dari pada beliau” (HR. Bukhari dan Muslim). Ummu Salamah Radiallahu Anha. istri Nabi, juga meriwayatkan bahwa ketika ia thawaf, ia mendengar Nabi membaca Surah ath-Thur dalam shalatnya di samping Ka‘bah (HR. Bukhari).
Surah ini diawali dengan lima kali sumpah sebagai sesuatu yang harus dperhatikan, ialah ancaman datangnya siksa Allah kepada mereka yang ingkar. Lali diceritakan nikmat yang kelak diterima orang beriman beserta keluarga mereka. Surah ini juga memuji ketabahan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam dalam menghadapi orang kafir, serta perintah agar beliau tidak risau dan berkecil hati.
Tema utama surah ini menurut Thabathaba’i adalah peringatan dan ancaman kepada para pembangkang terhadap ayat-ayat Allah. Di sini dijelaskan tentang kepastian jatuhnya siksa sekaligus diuraikan sedikit sifat dan ragam siksa itu.
Sedang menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I temanya adalah penegasan tentang jatuhnya siksa yang merupakan kandungan ancaman yang telah disampaikan Allah dengan bersumpah melalui surah adz-Dzariyat sebelumnya dan juga kebenaran surah Qaf. Kepastian terjadinya lebih mantap dari gunung-gunung yang diberitakan Allah tentang perjalanannya, dan yang kehancurannya dijadikan sebagai bukti tentang hal tersebut.
Sayyid Quthub menilai surah ini sebagai satu surah yang merupakan serangan sangat dalam pengaruhnya terhadap jiwa manusia (yang ingkar). Bantahan terhadap setiap dalih serta alasan yang dapat digunakan untuk menyimpang dari kebenaran dan keimanan, yang ada pada bisikan juga keraguan hati yang bergelora dan tersembunyi di balik relung-relung jiwa mereka. Ia adalah serangan yang tidak ada jiwa dapat bertahan menghadapinya kecuali mengantarnya untuk tunduk dan menyerah. Serangan yang tergabung di dalamnya, lafal dan redaksi ayat, gambaran dan naungannya, ritme, bagian-bagian serta fashilah(penutup ayat-ayat)nya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.