Mukaddimah Qur’an Surah 51. adz Dzariyat

Surafi ini terdiri dari 60 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ke 66 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah al-Ahqaf dan sebelum surah al-Ghasyiah. Dinamakan wa adz-Dzariyat atau adz-Dzariyat yang berarti ‘Angin yang Menerbangkan’, diambil dari ayat pertama, dan tidak ditemukan kata tersebut pada surah-surah yang lain.

Thabathaba’i menulis bahwa ajakan yang disampaikan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam kepada masyarakat adalah mengakui keesaan Allah (Tauhid Rububiyyah).Bahwa hanya Allah yang mengatur dan mengendalikan segala sesuatu. Ajakan itu dilakukan dengan menyampaikan janji baik dan peringatan dengan ancaman. Ancamannya adalah siksa di dunia bagi para pembangkang yang sampai pada tingkat kepunahan dan siksa di akhirat hingga mencapai kekekalan di neraka. Inilah hal pokok yang merupakan andalan keberhasilan dakwah, karena tanpa peringatan akan jatuhnya hisab (perhitungan) serta ganjaran pada hari Kemudian, kepercayaan akan keesaan Allah tidak akan wujud dan berbekas di hati manusia.

Thabathaba’i melanjutkan bahwa kaum musyrikin sangat kuat menolak prinsip-prinsip ajaran agama yakni Tauhid, kenabian dan keniscayaan Kiamat. Mereka bersikeras menolak adanya hari Kebangkitan bahkan memperolok-olokkannya. Karena dengan tidak mempercayai adanya Kiamat, akan gugur menjadi tidak berarti kedua prinsip yang lain (Tauhid dan kenabian).

Maka surah ini menguraikan tentang keniscayaan hari Kiamat dan dalih penolakan mereka. Tetapi fokus bahasan dalam surat ini berkisar pada ganjaran yang akan diterima di hari kemudian. Balasan tersebut dijanjikan Allah, Tuhan Pengatur dan Pengendali mereka bahkan alam raya. Dengan demikian, janji-Nya pasti benar dan akan terbukti  dalam kenyataan. Karena itu surah ini menguraikan bukti-bukti keesaan-Nya di langit dan di bumi serta yang ada dalam diri manusia. Demikian penjelasan Thabathaba’i.

Sayyid Quthub menulis bahwa surah ini memiliki ciri tersendiri. Ia dimulai dengan menyebutkan 4 kekuatan yang berada di bawah kendali Allah, dalam lafal yang tidak jelas maknanya, sehingga menimbulkan kesan tentang adanya persoalan-persoalan yang memiliki kerahasiaan. Allah bersumpah dengan keempat hal itu. Dan begitu selesai 4 sumpah itu, tiba-tiba disusul lagi dengan sumpah tentang langit dengan peredaran yang dimilikinya. Surah ini bermaksud menguraikan sesuatu yang sangat gamblang yaitu menghubungkan hati manusia dengan langit, menggantungnya dengan gaib Allah yang tersembunyi, membebaskannya dari belenggu-belenggu duniawi dan melepaskannya dari segala aral yang menghambat antara dirinya sebagai manusia dengan keikhlasan kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Hal itu guna menuju kepada-Nya dengan seluruh totalitasnya, bersegera menghadap kepada-Nya sesuai dengan perintah-Nya (ayat 50).  Bahwa Dia tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Nya (ayat 56).

Selanjutnya karena upaya perolehan rezeki serta apa yang disembunyikan oleh takdir menyangkut hal ini merupakan aral penghalang yang sangat kuat, maka surah ini memberi penekanan yang sangat besar agar manusia terlepas dari belenggu perolehan rezeki. Sebagaimana surah ini menenangkan jiwa manusia agar tidak terlalu risau, karena rezeki berkaitan dengan langit dan tercurah dari sana, bukan dengan bumi serta faktor-faktor lahiriah yang terlihat di dunia ini. Hal ini berulang-ulang ditegaskan dalam surah ini, baik secara langsung seperti pada ayat 22 maupun tidak langsung seperti pujian-Nya kepada orang-orang yang menetapkan bagian dari hartanya untuk para peminta dan orang-orang yang butuh (ayat 19) dan juga dalam uraiannya tentang Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang bersegera menjamu tamu-tamu beliau (ayat 26). Alhasil, menurut Sayyid Quthub surah ini bertujuan membebaskan manusia dari belenggu debu tanah dan mengarahkannya ke langit menuju Allah. tanpa penghalang apapun, dan karena itu surah ini berkali-kali menyebut kata langit sambil menjelaskan keluasannya dan kuasa-Nya. Demikian lebih kurang uraian Sayyid Quthub , ulama yang syahid itu.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menulis bahwa tujuan utama surah ini adalah membuktikan kebenaran dari apa yang diperingatkan oleh surah yang lalu yakni surah Qaf. Yakni dengan memperhatikan tujuan sumpah yang dikemukakan oleh ayat 5 dan 6 “sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kamu pasti benar, dan sesungguhnya (hari) Pembalasan pasti terjad”i. Sedemikian erat kaitan ayat diatas dengan empat ayat sebelumnya sehingga ia bagaikan satu ayat.

Lebih lanjut al-Biqa‘i menulis bahwa penamaan angin dengan adz-Dzariyat /yang menerbangkan/mendorong merupakan isyarat yang paling jelas tentang tujuan tersebut. Penolakan mereka terhadap ancaman Ilahi disebabkan karena mereka tidak menyadari dan merasakan sebab-sebabnya walaupun sebabsebab itu terdapat pada diri mereka, serupa dengan awan yang membawa rahmat atau petaka. Sebab-sebabnya ada yakni angin, walaupun mereka tidak melihatnya. Angin berpotensi untuk menghembus dan memisahkan sesuatu. Angin menghembus berpotensi menghembuskan uap air. Jika Allah menghendaki ia terhimpun maka uap itu digiring oleh angin sehingga terhimpun dan berat, lalu terjadi sekian banyak hal seperti kilat, guntur, hujan yang lebat atau rintik. Sekali turun salju, atau batu-batu es dan lain-lain, yang dapat menghasilkan kegembiraan atau kesedihan.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top