Surat al-Ma’idah turun di Madinah (Madaniyah) dengan jumlah 120 ayat, yang berarti hidangan, karena dalam rangkaian ayat-ayatnya terdapat uraian tentang hidangan yang diturunkan atas permintaan Ahl al-Kitab sebagai mukjizat dari Nabi ‘Isa Alaihis Salam (ayat 112-115). Nama lainnya adalah surat Uqud atau akad-akad perjanjian, karena ayat pertama surat ini memerintahkan kaum beriman agar memenuhi ketentuan aneka akad yang dilakukan. Ada juga yang menamakan surat al-Akhyar yaitu orang-orang baik, karena yang memenuhi tuntunannya menyangkut ikatan perjanjian pastilah orang baik. Surat ini dinamai juga surat al-Munqidzah artinya penyelamat. Diriwayatkan bahwa Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam bersabda: “Surat al-Ma’idah dinamai malakut as-samawat (kerajaan Allah yang Maha Tinggi) dengan nama surat al-Munqidzah, karena ia menyelamatkan pembaca dan pengamal tuntunannya dari malaikat penyiksa.”
Ada juga tentang perintah berwudhu dan bertayamum, makanan yang halal dan haram, dan tata cara berhaji. Surat ini memuat pula teguran kepada mukmin yan mengharamkan makanan yang halan dan menegaskan keharaman khamr. Dijelaskan pula bahwa orang Yahudi telah mengubah kitab yang diturunkan kepada mereka.
Ibrahim Ibn Umar al-Surah‘i berpendapat bahwa tujuan utama uraian surat ini adalah mengajak untuk mengakui keesaan Allah sebagai sang Pencipta, serta limpahan rahmat-Nya terhadap kita sebagai makhluk dengan memenuhi tuntunan Ilahi yang termaktub dalam kitab suci dan didukung oleh perjanjian yang dikukuhkan oleh nalar, sebagai tanda syukur atas nikmat-Nya, dan juga memohon agar dapat terhindar dari murka-Nya.
Kisah al-Ma’idah yang menjadi latar belakang penamaan surat ini, merupakan bukti yang sangat jelas tentang tujuan tersebut. Kandungan kisah ini juga memperingatkan bahwa siapa yang menyimpang setelah turunnya penjelasan yang nyata tentang keberadaan Allah dan tuntunannya melalui al-Qur’an dan Nabi-Nya, maka dia akan dihadapkan kepada tuntutan pertanggungjawaban serta terancam oleh siksa. Penamaannya dengan surat al-Uqud merupakan bukti yang nyata tentang tujuan utama uraian surat ini. Demikian penjelasan al-Surah‘i.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.