Surah ini merupakan surah ke 113 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah ash-Shaff dan sebelum surah at-Taubah. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 29 ayat. Dinamakan al-Fath yang berarti ‘Kemenangan’, diambil dari kata Fathan pada ayat pertama dan yang seakar dengannya terulang dua kali.
Surah ini diturunkan di satu tempat antara Mekah dan Madinah pada lokasi yang bernama Kura’ al-Hamim satu lembah yang dinilai termasuk daerah Mekah, atau dalam riwayat lain di Dhajnan yaitu gunung yang terletak tidak jauh dari kota Mekah. Akan tetapi mayoritas ulama mengatakan surah ini termasuk ke dalam golongan surah-surah Madaniyah,
Surah ini dinilai sebagai salah satu surah yang turun pada waktu malam hari. Ia turun pada tahun ke enam hijrah, sekembalinya Rasulullah dari Hudaibiyah. Umar Radiallahu Anhu meriwayatkan bahwa pada malam turunnya surah ini ia berjalan bersama Nabi dan menanyakan sesuatu kepada beliau, tetapi Nabi tidak menjawabnya. Umar kemudian bertanya kembali sampai tiga kali pun beliau tidak menjawab. Maka Umar Radiallahu Anhu berkata: “Aduhai Umar, menjanda ibu Umar; Aku menyapa Rasulullah tiga kali tetapi beliau tidak menjawab.” Lalu aku menggerakkan untaku menuju ke khalayak, dan aku takut jangan sampai ada ayat al-Qur’an yang turun (mengecamku). Lalu tidak lama kemudian, aku mendengar teriakan yang meneriakiku, dan aku berkata: “Demi Tuhan, aku takut jangan sampai telah turun al-Qur’an menyangkut diriku.” Aku kemudian menuju (berbalik kembali) kepada Rasulullah dan mengucapkan salam, lalu beliau bersabda: “Malam ini telah diturunkan kepadaku satu surah yang lebih kusukai dari segala apa yang disentuh oleh cahaya matahari.” Lalu beliau membaca Inna Fatahna laka fathan mubina (اِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِيْنًاۙ.)
Imam Muslim dan at-Tirmidzi meriwayatkan juga melalui Anas Ibn Malik bahwa turun kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Firman-Nya ‘Li yaghfira laka Allah ma taqaddama min dzanbika’ sampai ‘Fauzan Adziman’ di Hudaibiyah. Nabi ketika itu bersabda: “Telah diturunkan kepadaku ayat yang lebih kusukai dari segala apa yang terdapat di permukaan bumi,” lalu beliau membacanya. Demikian sahabat Nabi, Anas Ibn Malik Radiallahu Anhu meriwayatkan bahwa ayat-ayat surah ini sangat menyenangkan Nabi, karena di sana ditegaskan bahwa Allah mengampuni dosa beliau yang terdahulu dan yang kemudian (ayat 2).
Al-Fath merupakan kemenangan yang dijanjikan Allah kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Dijelaskan pula tentang tata cara berperang, berdamai, dan tawanan. Terhadap yang melanggar janji dikenakan sanksi sebagai pembangkang. Dijelaskan pula sifat pengikut Nabi Muhammad yang lembut dengan kawan tetapi tegas kepada para penghalang. Terhadap mereka itu, Allah menjanjikan pahala yang besar.
Tema utama surah ini adalah berita gembira kepada kaum muslimin tentang kemenangan yang mereka peroleh setelah Perjanjian Hudaibiyah serta kemenangan-kemenangan lain sesudahnya. Di sini ditemukan juga uraian tentang keutamaan yang dianugerahkan Allah kepada Nabi dan kaum beriman yang mengikuti dan mendukung beliau. Ada juga kecaman kepada sekelompok penduduk gunung yang bersangka buruk terhadap Allah. Demikian penjelasan Thahir Ibn ‘Asyur.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tema dan tujuan utama dari surah ini adalah uraian tentang kemenangan yang dijanjikan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam sehingga berhasil membuka (menguasai) kota Mekah dan kemenangan-kemenangan sebelumnya, antara lain di Hudaibiyah, Khaibar dan lain-lain. Beserta bukti kebenaran informasi yang disampaikan al-Qur’an tentang kemenangan Byzantium atas Persia, kemenangan menghadapi kaum yang murtad, bahkan kemenangan para sahabat Nabi di daerah-daerah di luar Jazirah Arab, yang kesemuanya tersimpul dalam penampakan agama ini atas agama semuanya. Hal tersebut sangat jelas melalui ayat-ayatnya sejak awal surah, pertengahan dan akhirnya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.