Surah ini merupakan surah ke 69 dari perurutan turunnya, sesudah surah al-Hadid dan sebelum surah ar-Ra‘d. Jumlah ayat-ayatnya terdiri dari 38 ayat, termasuk golongan surah-surah Madaniyah. Dinamakan Muhammad yang diambil dari ayat 2. Memang dalam surah Al ‘Imran nama beliau pun disebut, tetapi karena surah ini turun lebih dulu sebelum surah Al ‘Imran, maka lebih wajar dinamai demikian.
Nama lain dari surah ini adalah surah al-Qital, karena di sini diuraikan tentang peperangan yang diizinkan Allah dan karena melalui ayat-ayatnya disebut secara tegas kata al-qital serta diajarkan cara membunuh yang paling cepat. Ada juga yang menamainya surah Alladzina Kafaru, karena ayat ini dimulai dengan kata tersebut, dan tidak ada surah selainnya yang dimulai dengan kata itu.
Ada sebagian ulama yang menduga ayat ke 13 adalah Makkiyah, berdasarkan riwayat yang menyatakan bahwa ia turun setelah Nabi melaksanakan Haji Wada’, meninggalkan kota Mekah sambil menangis. Jika riwayat ini diterima pun tidak membatalkan pendapat yang menyatakan surah ini Madaniyyah. Karena istilah Madaniyah dipahami oleh mayoritas ulama dalam arti ‘Ayat yang turun sesudah Nabi berhijrah’ walaupun ayat tersebut turun di Mekah.
Surah ini diawali dengan perbandingan antara umat muslim dan yang ingkar, serta balasan yang kelak akan didapat. Dengan penegasan bahwa siapapun yang berjuang untuk Allah, Allah pasti menjadi pembelanya sehingga tidak perlu berkecil hati. Namun, siapapun yang kikir dalam berjuang di jalan Allah, Allah bisa menggantinya dengan kelompok yang lebih baik.
Thabathaba’i memandang surah ini lebih banyak berbicara tentang sifat-sifat buruk kaum kafir sambil menguraikan sifat-sifat terpuji orang-orang beriman, yang disusul dengan uraian tentang balasan dan ganjaran kedua belah pihak, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Pendapat ini berbeda dengan pendapat Sayyid Quthub yang menekankan pada namanya yakni surah al-Qital karena peperangan adalah tema utama pada uraiannya. Begitu juga dengan Thahir Ibn ‘Asyur yang menurutnya adalah anjuran untuk berjuang menghadapi kaum musyrikin.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah ajakan kepada kaum beriman untuk memelihara kesucian agama dengan melaksanakan jihad terhadap orang-orang kafir secara bersinambung. Namanya Alladzina Kafaru menunjuk kepada tujuan tersebut, karena siapa yang menghalangi jalan Anda, maka Anda akan menentangnya, bila tidak maka Anda dianggap merestui dan menjadi seperti mereka yang menghalangi. Namanya yang lain yakni surah Muhammad juga mengisyaratkan jihad itu, karena berjihad/berjuang adalah sifat utama Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam hingga ajal menjemput beliau.
Menurut Prof. M. Quraish Shihab, padangan para ulama di atas, berbeda pada penekanannya,boleh jadi dipengaruhi oleh kepribadian mereka masing masing atau kondisi sosial yang sedang mereka hadapi. Namun demikian, mereka sepakat bahwa peperangan yang dibicarakan ayat-ayat surah ini adalah peperangan dalam rangka membela kebenaran dan mencegah penganiayaan. Anjuran berperang di sini hanya ditujukan kepada orang-orang kafir yang menganiaya kaum muslimin, mengusir mereka dari tanah kehidupannya dan tidak memberi mereka kebebasan melaksanakan agama.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.