Surah ini terdiri dari 35 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah, Surah ini dinamakan al-Ahqaf yang berarti ‘Bukit- Bukit Pasir’, diambil dari ayat 21 karena lafal tersebut hanya ditemukan sekali dalam al-Qur’an.
Surah ini merupakan surah ke 65 dari segi perurutan turun surah-surah al-Qur’an, sesudah surah al-Jatsiyah dan sebelum surah adz-Dzariyat. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 34 atau 35 ayat. Tergantung, apakah Ha, Mim dihitung sebagai ayat yang berdiri sendiri atau digabung dengan lanjutannya menjadi satu ayat secara bersamaan.
Penafsir Ibn ‘Athiyah mengecualikan ayat 10 yang menurutnya turun menyangkut keislaman Abdullah Ibn Sallam, salah seorang tokoh Yahudi di Madinah. Demikian dengan ayat 35, dan ada juga yang mengecualikan ayat 15.
Surah ini berisi penjelasan bahwa orang yang paling sesat adalah orang yang menyembah selain Allah, lagi sombong dan mengatakan kalau al-Qur’an benar tentu mereka sudah lebih dulu beriman. Disebutkan pula nasib kaum ‘Ad yang musnah. Allah pun berpesan agar berbakti kepada kedua orang tua yang memelihara pribadi kita hingga dewasa. Kemudian ditutup dengan pesan Allah kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam agar bersikap tabah seperti para rasul terdahulu.
Tema utamanya menurut Thabathaba’i adalah peringatan terhadap kaum musyrikin yang menolak ajakan untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya dan hari Kemudian. Karena itu surah ini dimulai dengan pembuktian tentang keniscayaan kiamat melalui penegasan bahwa alam raya tidak diciptakan kecuali dengan haq (ayat 3). Uraian tentang hal ini ditemukan berkali-kali seperti pada ayat 6 dan 17-20 serta penutup surah yang mengurai tentang dihadapkannya orang kafir ke neraka Jahannam.
Sayyid Quthub berpendapat bahwa surah ini berbicara tentang persoalan akidah yakni kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa yang menciptakan dan mengendalikan secara mutlak seluruh wujud. Kepercayaan kepada wahyu, risalah, serta bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah utusan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Kepada beliau diturunkan al-Qur’an yang membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya. Demikian juga uraian tentang hari Kemudian dengan ganjaran yang ditetapkan-Nya berdasarkan sikap dan perbuatan seseorang di dunia.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i juga berpendapat bahwa tujuan surah ini adalah peringatan kepada orang-orang kafir dengan cara membuktikan kebenaran janji Allah menyangkut kehadiran hari Kiamat. Antara lain dibuktikan oleh kebenaran ancaman-Nya untuk membinasakan para pembangkang dan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menghalangi kehendak-Nya. Inilah yang ditunjuk oleh nama surah ini al-Ahqaf/tumpukan pasir yang menunjukkan ketenangan angin dan kecerahan cuaca sebagaimana yang terjadi pada kisah kaum Hud.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.