Surah ini terdiri dari 37 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah, diturunkan sesudah surah ad-Dukhan. Surah ini dinamakan al-]atsiyah yang berarti ’yang berlutut’, diambil dari ayat 38, satu-satunya kata yang disebut dalam al-Qur’an. Merupakan surah yang ke 64 dari segi perurutan turunnya sesudah surah ad-Dukhan dan sebelum surah al-Ahqaf.
Surah ini dinamai surah al-Jatsiyah karena kata tersebut adalah Sebagaimana ia dinamai juga surah asy-Syari‘ah dengan alasan yang sama. Ia juga dinamai surah ad-Dahr karena adanya kata ad-dahr pada salah satu ayatnya, sedang kata tersebut tidak ditemukan pada surah-surah lain yang dimulai dengan huruf Ha, Mim.
Jumlah ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekah, Madinah dan Syam sebanyak 36 ayat dan menurut cara perhitungan ulama Kufah sebanyak 37 ayat. Ini karena ulama Kufah menilai Ha, Mim, satu ayat,sedang yang lain memasukkannya pada kalimat berikutnya, yakni yang dianggap sebagai ayat kedua oleh ulama Kufah.
Dalam Tafsir al-Qurthubi dikemukakan satu riwayat yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas Radiallahu Anhu menyatakan bahwa ayat ke 15 turun di Madinah sehubungan dengan keinginan Umar Ibn al-Khathab untuk membalas seorang musyrik yang pernah memakinya ketika mereka masih di Mekah.
Surah ini berisi tentang penjelasan al-Qur’an serta kejadian alam raya yang merupakan ayat kauniyah bagi orang beriman. Allah Subhanahu Wa Ta\’ala lah yang menundukkan segala makhluk untuk kepentingan manusia, Allah pula yang menghidpkan dan mematikan serta membangkitkan manusia. Kelak manusia akan tahu sesat dan jeleknya perbuatan mereka. Allah berfirman, “dahulu kamu melupakan Kami, kimi kamu juga terlupakan”
Tujuan utama uraiannya adalah tantangan terhadap yang meragukan al-Qur’an, pembuktian tentang Keesaan Allah serta ancaman terhadap yang mengingkari keniscayaan hari Kiamat. Juga bertujuan memantapkan hati Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berkaitan dengan syariat yang beliau sampaikan.
Menurut Sayyid Quthub, hal ini menggambarkan satu sisi dari sikap kaum musyrikin terhadap dakwah Islam dan cara mereka menghadapi argumentasi al-Qur’an. Serta kekeraskepalaan mereka menghadapi hakikat yang dipaparkan al-Qur’an.
Thabathaba’i menyatakan bahwa tujuan utama surah ini adalah ajakan umum yakni kepada semua pihak untuk memperhatikan peringatan A\’llah. Diuraikan tentang keesaan-Nya, dan syariat yang disampaikan oleh Nabi Muhammad serta keharusan mengikutinya, bagi yang mempercayai adanya hari Perhitungan.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah membuktikan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala yang menurunkan kitab suci adalah al-‘Aziz (Maha Mulia), tidak terkalahkan oleh siapa pun dan Dia Maha Kuasa mengalahkan siapa pun. Di samping itu Allah adalah aI-Hakim (Maha Bijaksana), karena Dia tidak menempatkan sesuatu kecuali pada tempatnya yang paling tepat. Ini antara lain terbukti dengan syariat yang ditetapkan-Nya serta balasan juga ganjaran yang akan diberikan-Nya di hari Kemudian. Karena itu surah ini bernama asy-Syari\’ah dan juga bernama al-]atsiyah.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.