Surah ini terdiri dari 59 ayat, diturunkan sesudah surah az-Zukhruf dan sebelum surah al-Jatsiyah. Dinamai ad-Dukhan yang berarti ‘Kabut’.
Memang, kata dukhan disebut juga pada surah lain, tetapi tidak memiliki makna kabut yang akan terjadi atau asap yang berbeda dengan asap lainnya, sebagai salah satu bukti kebenaran Rasulullah, seperti pada ayat 10 surah ini. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 56 ayat menurut perhitungan ulama Mekah, Madinah dan Syam.
Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa ayat 15 turun di Madinah. Tetapi pendapat tersebut tidak didukung oleh banyak ulama. Pendeknya, ayat-ayat surah ini serta kandungannya yang tegas adalah ciri ayat-ayat Makkiyah.
Surah ini diawali dengan penjelasan tentang al-Qur’an sebagai wahyu haq dari Allah yang turun pertamakali saat Lailatul Qadar. Lalu berbicara tentang Nabi Musa dan Fir’aun serta hari Kebangkitan. Hari Kiamat adalah hari kebinasaan bagi orang kafir. Kemudian ditutup dengan peringatan bagi yang menentang al-Qur’an bahwa mereka harus siap menghadapi balasan yang kelak akan mereka terima.
Tema utama surah ini menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i adalah peringatan dan ancaman keras terhadap siapa yang tidak menerima apa yang dihidangkan oleh kitab suci al-Qur’an berupa keberkahan serta rahmat kepada semua makhluk, dan itulah yang diisyaratkan oleh namanya. Memang surah ini menurut Sayyid Quthub bagaikan palu yang mengetuk dengan keras hati kalbu manusia.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.