Mukaddimah Qur’an Surah 42. asy Syura

Surah ini terdiri dari 53 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamakan asy-Syura yang berarti ‘Musyawarah’, kata tersebut hanya ditemukan sekali dalam al-Qur’an pada ayat 38. Ada juga yang menamainya Ha Mim, ‘Ain Sin Qaf karena rangkaian huruf-huruf itu hanya ditemukan pada surah ini, kemudian nama tersebut dipersingkat menjadi surah ‘Ain Sin Qaf.

Ada yang mengecualikan beberapa ayat yaitu ayat 23, 24, 25, 26. Ada lagi ayat 27 yakni firman-Nya: “Dan jikalau Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi,” yang menurut riwayat turunnya, menyangkut Ahl ash-Shuffah yaitu sekelompok sahabat Nabi yang miskin yang bertempat tinggal di beranda Masjid Nabawi, Madinah. Tetapi pengecualian tersebut ditolak oleh mayoritas ulama.

Merupakan surah ke enam puluh sembilan yang diterima Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, turun sesudah surah al-Kahfi dan sebelum surah Ibrahim. Ada riwayat yang menyatakan bahwa firman-Nya: “Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa” (ayat 28), turun berkaitan dengan masa paceklik yang dialami masyarakat Mekah pada tahun VIII masa kenabian. Atas dasar itu sebagian ulama berpendapat bahwa surah ini turun pada masa tersebut dan berangsur turunnya hingga tahun IX masa kenabian. Karena firman-Nya: “Dan (bagi) orang-orang yang mematuhi seruan Tuhannya dan melaksanakan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka” (ayat 38), turun pada malam al-‘Aqabah, pada tahun IX dari kenabian, menyangkut sahabat-sahabat yang kemudian menjadi cikal bakal lahimya kelompok Anshar di Madinah.

Surah ini diawali dengan penegasan tentang al-Qur’an sebagai wahyu Allah, dan hendaknya segala yang diperselisihkan dikembalikan keputusannya kepada Allah. Kemudian penjelasan bahwa Agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah sama dengan yang turun kepada Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa, dan agar kita selalu berpegang teguh tidak tercerai berai. Allah menciptakan sesuatu berpasang-pasangan. Allah lah yang memberi rezeki dalam berbagai bentuk, ada yang sempit ada yang longgar, dan bagi yang mementingkan dunia tidak akan mendapat bagian di akhirat, Allah Maha Penerima Taubat . Serta bahwa kesepakatan hendaknya dijadikan dasar pergaulan hidup. Ditutup dengan ketentuan bahwa tidak ada hambanya yang berbicara langsung dengan Allah kecuali melalui wahyu dan dibelakang tabir.

Thahir Ibn ‘Asyur menilai bahwa tujuan utamanya adalah tantangan kepada kaum musyrikin yang meragukan kebenaran al-Qur’an untuk membuat semacamnya, sebagaimana halnya surah-surah lain yang dimulai dengan huruf alfabet bahasa Arab. Allah Subhanahu Wa Ta\’ala tidak dapat dibendung kodrat-Nya, tidak juga diragukan hikmah kebijaksanaan-Nya, kepada-Nya tunduk semua makhluk, Dialah Sang Pencipta serta Dia pula memilih siapa yang menyampaikan risalah-Nya. Karena itu bukan hal yang aneh jika Dia menetapkan agama bagi umat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Sebagaimana telah ditetapkan-Nya kepada umat-umat yang lalu melalui rasul yang diutus kepada mereka, yang kesemuanya adalah manusia bukan malaikat.

Thabathaba’i menjadikan persoalan wahyu sebagai tema utama surah ini. Hal itu dipahami dari awal uraian surah ini (ayat 3) dan akhir uraiannya (ayat 51). Serta diulang-ulangnya uraian tentang wahyu dan apa yang berkaitan dengannya seperti pada ayat 3, 7 juga tentang turunnya al- Kitab (ayat 17), sebagaimana terulang pula uraian tentang penganugerahan rezeki. Dengan demikian persoalan pokok yang dibicarakan adalah persoalan wahyu yang kemudian mengundang uraian tentang keesaan Allah, serta sifat-sifat orang-orang mukmin dan yang kafir dan apa yang menanti mereka di hari Kemudian.

Sayyid Quthub berpendapat serupa, surah ini menurutnya menguraikan persoalan akidah seperti halnya surah-surah Makkiyyah yang lain. Tetapi uraiannya itu menitikberatkan secara khusus menyangkut hakikat wahyu dan risalah, sedang uraian-uraian selanjutnya hanya mengikut pada tema tersebut. Di balik penekanan pada hakikat wahyu dan risalah kenabian,  tujuan khususnya adalah menetapkan pimpinan baru dari para nabi, yang tecermin pada risalah kenabian terakhir, yaitu Rasulullah serta umatnya yang mengikuti tuntunan Ilahi itu.

Hal itu diisyaratkan oleh awal surah: “Demikianlah Dia mewahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu. Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”(ayat 3). Menegaskan bahwa Allah adalah Pemberi wahyu semua risalah kenabian untuk semua rasul, dan bahwa risalah yang terakhir adalah kelanjutan dari satu ketetapan yang pasti lagi mantap. Lalu datang isyarat yang kedua pada firman-Nya: “Demikianlah Kami telah wahyukan kepadamu bacaan dalam bahasa Arab supaya engkau memberi peringatan kepada ummul  Qura dan siapa yang disekelilingnya”(ayat 7). Sebagai penetapan pusat kepemimpinan yang baru. Kemudian isyarat ketiga adalah firman-Nya: “Dia telah mensyariatkan buat kamu dari agama, apa yang telah pernah diwasiatkan-Nya kepada Nuh …”(ayat 13). Sebagai kesatuan ajaran agama setelah isyarat pertama yang menetapkan kesatuan sumbernya. Demikian uraian Sayyid Quthub.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menjadikan tema utama dan tujuan pokok surah ini adalah uraian tentang persatuan dalam menganut agama yang dasarnya adalah keimanan dan tiang pokoknya adalah shalat. Sedang jiwa dan seluruh persoalannya adalah keharmonisan hubungan. Musyawarah pada gilirannya mengantar semua orang menyatu sebagaimana persamaan dan penyatuan diri dalam pengabdian kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top