Mukaddimah Qur’an Surah 41. Fussilat

Surah ini dinamakan Fussilat yang berarti ‘Yang Dijelaskan’, diambil dari permulaan surah ini. Surah ini merupakan surah ke 52 dari segi perurutan turunnya sesudah surah Ghafir dan sebelum surah az-Zukhruf, dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.  Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekah sebanyak 53 ayat, dan menurut ulama Kufah 54 ayat.

Surah ini mempunyai sekian banyak nama. Dua yang paling populer adalah surah Fussilat dan Ha mim as-Sajdah karena di antara surah-surah yang dimulai dengan huruf Ha Mim hanya surah ini yang terdapat ayat sajdah yakni anjuran bagi pembaca dan pendengamya untuk sujud kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Dinamai juga surah al-Aqwat karena kata tersebut ditemukan pada ayat 10, juga dinamai surah al-Mashabth karena pada ayat 12 kata tersebut ditemukan.

Surah ini menjelaskan bahwa al-Qur’an adalah petunjuk yang harus dipahami dan diikuti. Serta memperingatkan kepada mereka yang kafir bahwa Allah Maha Kuasa membangkitkan yang mati dan keingkaran manusia merupakan sumber petaka bagi mereka sendiri, yang dijelaskan melalui kisah kaum ‘Ad, dan Samud. Kelak di akhirat tangan dan kaki mereka sendiri yang menjadi saksi atas segala perbuatan.

Tema utamanya serupa dengan tema utama surah Makkiyah, pembuktian tentang kebenaran al-Qur’an, bantahan terhadap kepercayaan kaum musyrikin, serta ancaman terhadap mereka dan tuntunan kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam cara menghadapi mereka. Demikian pendapat banyak ulama.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat lain, menurutnya tujuan utama uraian surah ini adalah penjelasan bahwa tidak ada ilmu apapun kecuali ilmu yang dipilih oleh Allah yang kekuasaan dan ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sebagian kekuasaan dan ilmu-Nya kemudian dipilih untuk hamba-hamba-Nya dan yang disyariatkan-Nya untuk mereka. Ilmu itulah yang disampaikan oleh para rasul dan yang mendorong manusia untuk beriman disertai oleh konsistensi ketaatan kepada-Nya sebagaimana diuraikan dalam QS. 39. az- Zumar; 9.

Karena itu pula yang mengantar kepada tersingkapnya tabir pada seseorang yang dekat kepada Allah dianugerahi \”Menjadikannya mendengar dengan pendengaran llahi, melihat dengan penglihatan-Nya, menggenggam dengan tangan-Nya serta melangkab dengan kaki-Nya” (HR. Bukhari melalui Abu Hurairah). Ini menjelaskan bahwa kitab al-Qur’an telah dirinci dan dijelaskan ayat-ayatnya untuk kaum yang’mengetahui. Demikian juga as-Sajdah yang ayatnya mengisyaratkan kepatuhan dan sujud kepada-Nya, sujud merupakan cara yang paling tepat untuk mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah swt. Demikian penjelasan al-Biqa‘i.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top