Surah ini terdiri dari 85 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Merupakan surah yang ke 59 atau menurut pendapat lain ke 60 dari segi perurutan turunnya sesudah surah az-Zumar dan sebelum surah Fussilat.
Surah ini dinamakan Ghafir yang berarti ‘Yang Mengampuni’, diambil dari ayat 3. Dinamai juga surah Ha Mim al-Mu’min, nama ini telah dikenal sejak masa Rasulullah, dan biasa dipersingkat dengan al-Mu’min, penamaan tersebut lahir dari uraian tentang seorang mukmin dari keluarga Fir\’aun yang menyembunyikan imannya (ayat 28). Serta ath-Thaul/Pemilik Karunia yang juga diambil dari ayat 3.
Memang ada yang menyatakan bahwa ayat 55 yang memerintahkan menyucikan Allah pada pagi dan petang turun di Madinah, karena mereka menduga bahwa perintah tersebut merupakan perintah melaksanakan shalat lima waktu yang baru diwajibkan di sana. Tetapi pendapat ini lemah, bukankah shalat lima waktu diwajibkan melalui peristiwa Isra’, sedang peristiwa itu terjadi di Mekah sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah ke Madinah? Ayat di atas juga tidak harus dipahami dalam arti berbicara tentang waktu-waktu shalat.
Thahir Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa surah ini menguraikan tema-tema pokok menyangkut prinsip-prinsip ajakan iman, karena itu ia dimulai dengan tantangan terhadap kaum musyrikin untuk menyusun semacam al-Qur’an sebagaimana dipahami dari pembukaan surah ini dengan huruf Ha, Mim. Disamping itu disebutkan beberapa sifat Allah Subhanahu Wa Ta\’ala yang mengandung sindiran agar kaum musyrikin meninggalkan kepercayaan mereka yang mempersekutukan-Nya.
Surah ini diawali dengan penegasan bahwa Allah Maha Pengampun, tetapi siksa-Nya sangat dahsyat kepada mereka yang ingkar dan melecehkan, dan para malaikat tunduk patuh kepada Allah. Sebetulnya akal dan hati para pengingkar dapat menerima al-Qur’an, tetapi keangkuhanlah yang menjadikan mereka makin menjauh dari petunjuk. Ketika mereka ditanya diakhirat dimana sesembahan mereka, mereka akan menjawab bahwa pujaan mereka meninggalkan mereka, dan segala amal perbuatan mereka menjadi tidak berguna, itulah orang yang merugi.
Surah ini menurut Thabathaba’i berbicara tentang keangkuhan kaum musyrikin dan dalih-dalih mereka menentang kebenaran, karena itu berkali-kali ditemukan di celah surah ini kata yudadil/mendebat, dan karena itu pula surah ini mematahkan keangkuhan mereka dengan menyebut siksa Allah yang dijatuhkan-Nya kepada para pendurhaka umat-umat yang lalu sambil membuktikan kesalahan dan kesesatan mereka dengan berbagai argumentasi tentang keesaan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala
Sayyid Quthub menekankan bahwa surah ini menguraikan tentang persoalan-persoalan haq dan batil, iman dan kufur, dakwah dan penolakan, keangkuhan kaum musyrikin serta siksa Allah yang dijatuhkan-Nya kepada para pendurhaka yang angkuh. Lalu di celah itu diuraikan sikap kaum mukminin dan pertolongan Allah kepada mereka serta istighfar malaikat untuk mereka. Karena itu suasana surah ini bagaikan suasana perang antara kebenaran dan kebatilan, antara keimanan dan keangkuhan, serta antara mereka yang angkuh dan sombong di pentas dunia ini dengan siksa Allah yang dijatuhkan-Nya kepada mereka, walau dalam saat yang sama ditemukan hembusan-hembusan rahmat saat surah ini berbicara tentang kaum muslimin.
Menurut Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i, tema utama surah ini adalah pembuktian tentang apa yang diuraikan oleh akhir surah yang lalu, yakni terbaginya manusia di akhirat nanti menjadi dua kelompok, dan masing-masing akan menerima balasan yang adil. Dia telah menjelaskan secara sangat gamblang apa yang Dia ridhai dan apa pula yang Dia murkai. Siapa yang tidak menyerahkan diri secara utuh kepada-Nya, atau menentang bukti-bukti keberadaan-Nya, baik dengan ucapan maupun perbuatannya, maka Allah akan menyiksa dan mencelakakan mereka untuk menunjukkan sifat keperkasaan-Nya yang sempurna serta pengetahuan-Nya yang menyeluruh.
Inilah yang ditunjukkan oleh penamaannya dengan Ghafir (Maha Pengampun), karena tidak ada yang dapat mengampuni siapa yang dia kehendaki kecuali siapa yang menyandang sifat keperkasaan yang sempurna, dan tidak ada juga yang mengetahui semua dosa sehingga di namai Ghafir kecuali siapa yang sangat dalam pengetahuannya. Surah ini dinamai juga surah ath-Thaul, juga mengisyaratkan tujuan di atas, karena tidak ada yang menganugerahkan aneka anugerah, kecuali yang menyandang sifat di atas, karena siapa yang tidak sempurna keperkasaannya pastilah akan terhalangi untuk melakukannya dan pasti juga tidak sempurna pengetahuannya. Nama al-Mu’min juga mengandung pembuktian yang sama. Kisah mukmin keluarga Fir\’aun yang diuraikannya pun membuktikan tema surah yang disebut di atas, khususnya menyangkut hari Kiamat. Demikian penjelasan al-Biqa‘i.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.