Mukaddimah Qur’an Surah 39. az Zumar

Surah ini termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Dinamakan az-Zumar yang berarti ‘Rombongan-rombongan’ (ayat 71 dan 73) dan hanya pada surah ini kata tersebut ditemukan. Ada juga yang menamainya surah al-Ghuraf karena kata tersebut ditemukan pada ayat 20 surah ini, sedang di tempat lain digunakan kata al- Ghurufat.  Istri Nabi, ‘Aisyah Radiallahu Anha berkata: “Nabi Muhammad  Sallallahu Alaihi Wasalam tidak tidur sebelum membaca surah az-Zumar dan Bani Isra\’il.”

Surah ini merupakan surah yang ke 59 dari segi perurutan turunnya, sebelum surah Ghafir dan sesudah surah Saba’. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Mekah dan Madinah sebanyak 72 ayat, dan menurut ulama Syam 73 ayat, sedang ulama Kufah menghitung ayat sebanyak 75 ayat.

Ada riwayat yang mengecualikan tiga ayat bahwa ayat 53, 54 dan 55. Penganut pendapat ini menyatakan bahwa ayat-ayat tersebut turun berkaitan dengan Wahsyi yaitu seorang budak yang pandai memanah dan telah membunuh Sayyidina Hamzah Radiallahu Anhu, paman Nabi, dalam peperangan Uhud. Tetapi riwayat ini dinilai lemah. Ada juga riwayat yang bersumber dari sahabat Nabi, Ibnu Abbas, yang menyatakan bahwa ayat 23 turun di Madinah. Riwayat ini pun tidak didukung oleh banyak ulama.

Surah ini dimulai dengan penegasan al-Qur’an adalah haq yang bersumber dari Allah Yang Maha Kuasa lagi Bijaksana, seraya membantah bahwa Nabi Isa adalah anak Allah. Serta orang yang ingkar akan digiring ke neraka secara berkelompok dengan penuh duka dan hina, sedang yang beriman akan diterima dengan gembira oleh malaikat penjaga surga.

Tema utama surah ini serupa dengan tema utama surah-surah Makkiyah. Kandungannya berkisar pada pembuktian keesaan Allah, serta bantahan terhadap keyakinan syirik dan dalih-dalih kaum musyrikin. Demikian kesimpulan banyak ulama. Sayyid Quthub bahkan menyatakan bahwa hampir dapat dikatakan bahwa tujuan surah ini adalah uraian tentang Tauhid, sejak awal sampai akhirnya.

Perintah untuk menyembah Allah secara rnurni, ada yang tersurah seperti pada ayat 2: (فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ  …) maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ini terulang dalam berbagai bentuk redaksi yang kesemuanya menekankan pentingnya keikhlasan dan kemurnian itu. Ada juga dalam bentuk tersirat seperti pada ayat 29 atau ayat 36. Itu semua disertai dengan menghidupkan kalbu agar menerima hakikat tersebut.

Thabathaba’i berpendapat serupa. Ulama ini menulis bahwa terlihat dari ayat-ayat surah ini bahwa kaum musyrikin Mekah meminta kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. agar meninggalkan ajaran Tauhid, menghentikan dakwahnya serta tidak membicarakan secara buruk sembahan-sembahan mereka, sambil menakut-nakuti Rasulullah. Surah ini menekankan perlunya memurnikan agama dan mempercayai Tauhid tanpa menghiraukan ancaman kaum musyrikin itu, sambil mengingatkan bahwa beliau dan juga semua makhluk akan mati (ayat 30) dan bahwa cukup Allah sajalah yang menjadi Pelindung hamba-hamba-Nya (ayat 36).

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah pembuktian tentang janji Allah Subhanahu Wa Ta\’ala dan bahwa Dia pasti mengalahkan segala sesuatu, dan karena itu Dia tidak tergesa-gesa sebab tidak ada yang dapat luput dari-Nya. Dia meletakkan segala sesuatu pada tempatnya yang wajar. Ini diketahui oleh Ulul Albab yaitu orang-orang yang dapat memisahkan antara kulit dan inti sesuatu.

Penamaan az-Zumar karena ini mengisyaratkan bahwa Allah kelak menempatkan semua yang dihimpun-Nya di Padang Mahsyar pada tempat yang tersedia dan wajar bagi masing-masing, setelah memberi kesempatan dan peringatan. Demikian juga dengan namanya yang lain yaitu at-Tanzil serta al-Ghuraf karena itu pun menunjukkan ketetapan Allah bagi penghuni naungan api neraka dan ghuraf yakni kamar-kamar yang bercurah cahaya. Demikian jelas al-Biqa’i.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top