Mukaddimah Qur’an Surah 35. Fathir

Surah ini termasuk golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini dinamakan Fathir yang berarti  ‘Pencipta’, diambil dari ayat pertama, dan kata itu tidak disebut pada awal surah yang lain. Ia dikenal juga dengan surah ‘al-Malaikat’ karena pada ayat pertamanya disebut sekelumit tentang sifat malaikat yang tidak disebut pada surah yang lain.

Surah ini merupakan surah yang ke 43 dari segi perurutan turunnya, sebelum surah Maryam dan sesudah surah al-Furqan. Jumlah ayat-ayatnya menurut cara perhitungan ulama Madinah dan Syam sebanyak 46 ayat dan menurut perhitungan ulama Mekah dan Kufah sebanyak 45 ayat.

Surah ini diawali dengan penegasan bahwa Allah sang pencipta segala yang tampak dan yang gaib, Orang yang selalu menggunakan potensi akalnya akan dituntun menjadi orang yang paling taat kepada Allah. Mereka yang kafir, setelah mati, harta yang telah mereka kumpulkan semasa hidup tidak berguna sama sekali dan hanya bisa berharap kembali pada dunia untuk memperbaiki amalnya. Dijelaskan pula bahwa setiap amal dan dosa sekecil apapun akan dibalas dengan sempurna dan bahwa setiap orang akan bertanggung jawab pada dirinya masing masing,

Thabathaba’i menilai tujuan utama surah ini adalah penjelasan tentang tiga prinsip pokok ajaran Islam, yaitu Keesaan Allah, Risalah kerasulan dan hari Kebangkitan, sambil menguraikan bukti-buktinya. Itu dipaparkan setelah menguraikan sejumlah nikmat-nikmat-Nya yang demikian besar, baik yang terbentang di langit maupun yang terhampar di bumi, sambil menekankan tentang pengaturan-Nya yang demikian teliti menyangkut alam raya, khususnya manusia. Sedangkan Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I menegaskan bahwa tema utama surah ini adalah membuktikan qudrat dan kuasa Allah swt. dalam membangkitkan manusia setelah kematiannya.

Sayyid Quthub menilai bahwa surah ini hampir serupa dengan surah ar-Ra’d dari segi gaya dan tekanan-tekanannya terhadap kalbu manusia. Ia mengajak manusia bangkit dari kelengahannya untuk memandang keagungan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, melalui keindahan alam raya ciptaan-Nya agar mereka mengingat segala nikmat yang diperoleh dari-Nya, serta rahmat dan pemeliharaan-Nya. Surah ini merupakan satu kesatuan yang utuh. Kesemuanya terkait melalui satu ‘tangan’.  Allahlah yang mencurahkan rahmat sehingga tidak dapat dibendung dan Allah juga yang menutupnya sehingga tidak dapat menetes. Karena Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, tanpa ada satu kekuatan pun yang terlibat bersama-Nya atau menghalangi-Nya.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top