Mukaddimah Qur’an Surah 33. al Ahzab

Surah ini termasuk golongan surah-surah Madaniyah yang terdiri dari 73 ayat. Dinamakan al Ahzab yang berarti ‘Golongan yang Bersekutu ‘,karena dalam surah ini terdapat beberapa ayat yang menceritakan perang al-Ahzab. Surah ke 90 dari segi perurutan turunnya, sebelum surah al-Ma’idah dan sesudah surah al-Anfal

Surah ini turun pada akhir tahun V Hijrah, yaitu tahun terjadinya Gazwat/Perang al-Ahzab yang dinamai juga Perang Khandaq karena ketika itu atas usul sahabat Nabi, Salman al-Farisi Radiallahu Anhu, Rasulullah bersama sahabat-sahabat beliau menggali parit (Khandaq) pada arah utara kota Madinah, tempat yang ketika itu di duga keras akan menjadi arah serangan kaum musyrikin. Ini terjadi pada bulan Syawal tahun V Hijrah.

Sepakat para ulama dalam cara menghitung ayat-ayatnya dan semua menyatakan bahwa jumlahnya sebanyak 73 ayat. Memang ada riwayat bahwa istri Nabi, ‘Aisyah Radiallahu Anha. menyatakan bahwa: “Tadinya surah ini berjumlah sekitar 200 ayat.” Sahabat Nabi, Ubayy Ibn Kaab mengatakan bahwa panjangnya sebanding dengan surah al-Baqarah (286 ayat) namun sebagian besar di antaranya telah mansukh yakni telah dihapus hukum dan bacaannya, sehingga tidak lagi tercantum dalam Mushhaf. Riwayat-riwayat itu amat lemah. Demikian pendapat banyak ulama. Yang pasti adalah kaum muslimin— sejak masa sahabat hingga kini — bahkan orientalis yang obyektif pun mengakui bahwa al-Qur’an yang ada sekarang tidak ada bedanya dengan al-Qur’an yang dibaca pada masa Rasulullah.

Penamaan itu lahir dari uraian surah ini yang menyebutkan koalisi sekian banyak kelompok suku kaum musyrikin di bawah pimpinan suku Quraisy di Mekah untuk menyerang Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam beserta kaum muslimin di Madinah. Surah ini menjelaskan pula tentang keharusan Nabi untuk berpegang pada petunjuk wahyu, kedudukan Nabi dalam keluarga dan masyarakat. Penegasan bahwa Rasul adalah contoh teladan yang harus diikuti. Serta tugas mulia manusia sebagai pembawa amanat Allah di dunia, salah satunya dalam menjaga kehormatan diri , serta dalam hubungan perkawinan.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama dan tujuan pokok surah ini adalah anjuran untuk memantapkan keikhlasan kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Cukuplah Allah sebagai Pelindung. Allah Maha Mengetahui kemaslahatan manusia, Maha Bijaksana dalam semua perbuatan-Nya. Dia yang meninggikan siapa yang dikehendaki-Nya, walau yang bersangkutan dianggap lemah, Dia juga yang merendahkan siapa yang Dia kehendaki walaupun secara kondisi mata manusia dianggap kuat. Dengan memperhatikan nama surah ini dan kisah yang diuraikannya akan jelas tujuan itu.

Thahir Ibn ‘Asyur setelah memperhatikan awal surah yang menyeru Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam dengan gelar kenabian, berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah uraian tentang Muhammad selaku Nabi yang bertugas menyampaikan ajaran Ilahi serta melaksanakan kehendak-Nya dalam bentuk sesempurna mungkin, tanpa dikeruhkan oleh ulah musuh-musuh agama.

Menurut Prof M. Quraish Shihab, Surah ini dapat dikatakan berbicara tentang Nabi Muhammad khususnya kehidupan beliau dengan masyarakat Islam, sejak Perang Badr (tahun II H) sampai menjelang Perjanjian Hudaibiyah (tahun VI H). Sekian banyak persoalan yang muncul, dan sekian banyak petunjuk yang dikandung surah ini, sekaligus sekian banyak kecaman yang ditujukan kepada orang-orang munafik yang pada masa itu telah mulai muncul di Madinah.

Salah satu bukti tentang pembicaraan surah ini menyangkut Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah banyaknya kata-kata yang menunjuk diri beliau melalui ayat-ayatnya. Panggilan Ya Ayyuhart Nabiy terulang sebanyak lima kali (ayat 1, 28, 45, 50 dan 59). Kata Khataman Nabiyyin sekali (ayat 40), kata an-Nabiyy terulang 15 kali, Rasul terulang 13 kali. Selanjutnya kata-kata Syahid, Mubasyir, Nadzir, Da\’iyan lla Allah dan Sirajan Muniran yang kesemuanya menunjuk Nabi Muhammad itu, terdapat sekali.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top