Mukaddimah Qur’an Surah 31. Luqman

Surah Luqman termasuk ke dalam golongan surah-surah Makkiyah. Surah ini terdiri dari 33 ayat menurut perhitungan ulama Mekah dan Madinah, dan 34 ayat menurut ulama Syam, Kufah dan Bashrah. Perbedaan itu, hanya perbedaan dalam cara menghitung.Bukan berarti ada ayat yang tidak diakui oleh yang menilainya hanya 33 ayat.

Ada sementara ulama yang mengecualikan tiga ayat yaitu ayat 27, 28, 29, atau dua ayat yakni ayat 27-28, dengan alasan bahwa ayat-ayat ini turun didasari atas peristiwa diskusi dengan orang-orangYahudi, yang ketika itu banyak bermukim di Madinah. Pendapat ini, di samping jalur sanadnya lemah, juga kalaupun itu dipahami sebagai diskusi dengan orang Yahudi, maka tidak tertutup kemungkinan terjadi di Mekah. Karena telah terjalin hubungan dagang antara masyarakat Mekah dengan Yahudi

Ada lagi yang mengecualikan satu ayat saja yaitu ayat 4, atas dasar bahwa ayat itu berbicara tentang shalat dan zakat. Tetapi semua pendapat ini lagi-lagi sangat lemah. Pakar tafsir Abu Hayyan mengemukakan bahwa ayat-ayat surah ini turun menyangkut pertanyaan kaum musyrikin Mekah tentang tokoh Luqman, yang memang sangat populer di kalangan masyarakat Jahiliah ketika itu.

Penamaan surah ini dengan surah Luqman sangat wajar, karena namanya hanya disebut dalam surah ini (ayat 12).dan nasihat beliau yang sangat menyentuh diuraikan di sini (ayat 13-19). Isi surat ini antara lain mengemukakan fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk sekaligus rahmat bagi orang beriman dan yang memperhatikan tanda-tanda alam sebagai keagungan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. Amal yang didasari iman kelak bermanfaat di hari Kemudian, serta hendaknya setiaporang bersiap menghadapi hari tersebut dimana tidak ada yang bisa saling tolong-menolong.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah membuktikan betapa kitab al-Qur’an mengandung hikmah yang sangat dalam, Yang Menurunkannya adalah Dia Yang Maha Bijaksana dalam firman-firman dan perbuatan-perbuatan-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta\’ala telah memulai kitab-Nya dengan menafikan segala keraguan atasnya dan memberi petunjuk untuk orang-orang yang bertakwa (QS. 2. al-Baqarah; 2). Ini dibuktikan-Nya dengan uraian surah-surah sesudahnya hingga surah Bara’ah. Lalu dimulai lagi dengan surah Yunus dengan menegaskan hikmah kebijaksanaan-Nya, dan ini pun disusul dengan bukti-buktinya pada surah-surah berikut sampai dengan surah ar-Rum yang lalu. Di sini, dimulai lagi tahap penjelasan yang baru, yang lebih hebat dari sebelumnya. Kitab suci al-Qur’an disifati dengan sifat yang melebihi sebelumnya yaitu bahwa dia adalah petunjuk dan hidayah untuk al-muhsinin. Al-muhsinin adalah orang-orang yang mencapai puncak, sedang al-muttaqin adalah para pemula. Uraian itu sejalan dengan nama tokoh yang dipilih menjadi nama surah ini yakni Luqman Alaihis Salam.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top