Surah al-’Imran, dinamai demikian karena di dalamnya dikemukakan kisah keluarga ‘Imran dengan rinci; yaitu Nabi ‘Isa, Nabi Yahya, Maryam dan juga ‘Imran beserta istrinya yang merupakan orang tua Maryam. Surah ini terdiri dari 200 ayat yang turun di Madinah (Madaniyah) pada tahun ketiga hijrah setelah perang Uhud.
Sekitar 80 ayat pertama berkaitan dengan kedatangan serombongan pendeta Kristen dari Najran (sebuah lembah di perbatasan Yaman dan Saudi Arabia), pada tahun IX Hijriah untuk berdiskusi dengan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. di masjid Madinah menyangkut Nabi ‘Isa Alaihis Salam, dalam kaitannya dengan keesaan Tuhan. Walau telah berlangsung beberapa hari, diskusi tidak mencapai kata sepakat, sehingga akhirnya Nabi Muhammad saw. mengajak mereka ber-mubahalah (bersumpah untuk menentukan siapa yang benar, dan yang salah akan terkena azab).
Dalam kesempatan kehadiran para pendeta itu ke masjid Rasulullah di Madinah, mereka melaksanakan salat sesuai dengan ajaran agama Kristen yang mereka anut, di dalam masjid Nabawi di Madinah. Nabi saw. yang melihat hal tersebut, membiarkan mereka. Demikian diuraikan oleh Abu \’Abdullah al-Qurthubi dalam tafsirnya dan dikutip oleh Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, Pemimpin Tertinggi al-Azhar, dalam tafsirnya.
Nama surah ini ada banyak, antara lain surah al-aman (keamanan), al-kanz (simpanan), at-thayyibah (kebaikan), az-zahrawain (dua yang cemerlang) karena surah al-Baqarah dan al-’Imran bagaikan cahaya yang menerangi, tetapi yang populer adalah al-’Imran. Tujuan utama surah al-’Imran (keluarga ‘Imran) adalah pembuktian tentang Tauhid. Keesaan dan kekuasaan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, serta penegasan bahwa dunia, kekuasaan, harta dan anak-anak yang terlepas dari nilai-nilai Ilahiyah, tidak akan bermanfaat di akhirat kelak.
Hukum-hukum alam (sunnah Allah) yang melahirkan kebiasaan-kebiasaan, pada hakikatnya ditetapkan dan diatur oleh Allah Yang Maha Hidup dan Qayyum (Maha Menguasai dan Mengelola segala sesuatu) sehingga kita perlu untuk selalu mengingat Allah dengan memperhatikan ciptaan-Nya, sebagaimana terlihat dari peristiwa-peristiwa yang dialami oleh keluarga ‘Imran begitu juga dengan Nabi Zakaria. Melalui merekalah Allah menunjukkan keesaan, kekuasaan dan penguasaan-Nya atas alam raya, serta terlihat pula bagaimana keluarga itu tunduk patuh dan percaya kepada Allah Yang Maha Esa.
Tujuan ini sungguh pada tempatnya, karena al-Fatihah yang merupakan surah pertama merangkum seluruh ajaran Islam secara singkat, dan al-Baqarah menjelaskan secara lebih rinci tuntunan-tuntunan agama. Surah al-‘Imran kemudian datang untuk menekankan sesuatu yang menjadi dasar dan sendi utama tuntunan tersebut, yakni tauhid. Karena tanpa tauhid, maka pengamalan tuntunan lainnya akan dianggap tidak bernilai di sisi-Nya.
Ditegaskan pula bahwa Islam merupakan agama yang diridhoi Allah, serta agar umat islam tidak berteman secara akrab tanpa batasan dengan orang kafir. Dikisahkan pula tentang perang Badr dan Uhud yang dapat dijadikan sebagai ibrah (pelajaran), kedudukan para syuhada pada hari kiamat, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki nilai yang sama dihadapan Allah. Surah ini diakhiri dengan pesan kepada umat Islam agar selalu meningkatkan takwa dan kesabarannya.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999. dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.