Mukaddimah Qur’an Surah 2. al Baqarah

Surah ini turun setelah Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam hijrah ke Madinah (Madaniyah). Dengan jumlah 286 ayat. Begitu banyak persoalan yang dibicarakannya. Tidak heran, karena kondisi masyarakat Madinah ketika itu sangat heterogen, baik dalam suku, agama, maupun kecenderungan. Di sisi lain, ayat-ayat surah ini berbicara menyangkut peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa yang cukup panjang (secara keseluruhan turun dalam masa sepuluh tahun) -Hal ini jika dihitung sejak peristiwa pengalihan kiblat (ayat 142) sekitar 18 bulan setelah Nabi berada di Madinah atau perintah berpuasa (ayat 183-184), dan terakhir ayat 281 sebagai akhir ayat al-Qur’an yang diterima Nabi turun beberapa saat, atau beberapa hari sebelum beliau wafat, tanggal 12 Rabiul Awal tahun 13 Hijrah-.

Surah ini dinamai al-Baqarah (seekor sapi) karena tema pokoknya adalah kisah Bani Isra’il dengan seekor sapi. (ayat 67-74) Yaitu, ada seseorang yang terbunuh dan masyarakat Bani Isra’il tidak mengetahui siapa pembunuhnya. Setiap orang saling curigai bahkan tuduh menuduh sebagai pelaku pembunuhan tanpa adanya bukti.  Menghadapi hal tersebut mereka memohon kepada Nabi Musa Alaihis Salam. meminta beliau berdoa agar Allah dapat menunjukkan siapa pembunuhnya.

Maka Allah memerintahkan kepada mereka agar menyembelih seekor sapi. Dari sinilah dimulai kisah al-Baqarah. Akhir dari kisah itu adalah, mereka menyembelihnya – setelah terjadi dialog tentang kriteria sapi yang berkepanjangan — dan dengan memukulkan bagian sapi itu kepada mayat yang terbunuh. Maka atas kudrat Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, Korban pembunuhan dapat hidup kembali dan menyampaikan siapa orang yang telah membunuhnya.

Melalui kisah al-Baqarah, kita dapat menemukan bukti kebenaran petunjuk-petunjuk Allah. Kekuasaan-Nya menghidupkan kembali yang telah mati, serta menjatuhkan sanksi dan murka-Nya bagi siapa yang bersalah walau ia melakukan kejahatannya dengan cara sembunyi-sembunyi, yang menunjukkan bahwa Allah Maha Melihat dan Mengetahui.

Di Samping itu, surah ini menjelaskan pula tentang tiga kelompok manusia: mukmin, kafir dan munafik. Ada juga tentang kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam dan Nabi Ismail Alaihis Salam serta perannya dalam membangun Ka’bah, ke-tahuid-an, perilaku syirik, makanan yang halal dan haram, wasiat dan larangan ‘memakan’ harta anak yatim, qisas, perang, haji, dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan berkeluarga, bersosial, serta pinjam-meminjam.

Dari sini kemudian disimpulkan bahwa uraian surah ini berkisar pada penjelasan dan pembuktian tentang betapa haq dan benarnya kitab suci dan betapa wajar petunjuk-petunjuknya untuk diikuti dan dijadikan pedoman. Kepercayaan akan kekuasaan Allah menghidupkan kembali siapa yang telah wafat sebagaimana yang diuraikan, merupakan salah satu faktor dan pendorong utama untuk kita berupaya beramal saleh dan menghindari kejahatan. Ganjaran dan balasan itu kelak akan diterima secara utuh di akhirat setelah manusia dibangkitkan dari kematiannya.

Surah ini juga dinamai as-sinaam yang berarti puncak, karena tiada lagi puncak petunjuk setelah Kitab suci ini, dan tiada puncak setelah kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa dan keniscayaan hari Kiamat. Ia dinamai juga az-zahra yakni terang benderang, karena kandungan surah ini menjadi sumber petunjuk yang menerangi jalan menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menjadi penyebab bersinarnya wajah siapa yang yang dapat mengikuti petunjuk-petunjuk al-Qur’an kelak di kemudian hari.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :                                                   

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top