Surah al-Fatihah yang berarti pembukaan terdiri dari 7 ayat. karena dengan surah inilah dibuka dan dimulainya al-Qur’an. Banyak yang menyebut surah al-Fatihah adalah “Mahkota Tuntunan Ilahi” . Dia adalah “Ummul Qur’an” atau “Induk al-Qur’an”. Tidak heran jika doa dianjurkan agar ditutup dengan surah ini.
Menurut Prof. M. Quraish Shihab , dari sekian banyak nama yang disandangnya, ada empat nama yang diperkenalkan atau dikenal pada masa Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam, yaitu al-Fatihah, Ummul Kitab atau Ummul Qur’an dan as-Sab‘ al-Matsani.
Banyak hadits Nabi saw. yang menyebut nama al-Fatihah, antara lain:
“Tidak ada (tidak sah) shalat bagi yang tidak membaca Fatihah al-Kitab” (HR. Bukhari, Muslim dan perawi lainnya).
Prof. M. Quraish Shihab kemudian menjelaskan bahwa, kata fath yang merupakan akar kata nama ini berarti menyingkirkan sesuatu yang terdapat pada satu tempat yang akan dimasuki. Tentu saja bukan makna harfiah itu yang dimaksud. Penamaannya dengan al-Fatihah karena ia terletak pada awal al-Qur’an, dan, karena biasanya yang pertama memasuki sesuatu adalah yang membukanya, maka kata fatihah di sini berarti awal al-Qur’an, awal dari segi penempatannya pada susunan al-Qur’an.
Adapun penamaannya dengan as-Sab‘ al-Matsani, bersumber dari sekian banyak hadits antara lain yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi bahwa Rasulullah bersabda:
“Demi Tuhan Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, Allah tidak menurunkan di dalam Taurat, Injil, maupun Zabur dan al-Qur’an suatu surah seperti ‘as-Sab‘ al-Matsani’. ”
Dari segi bahasa kata as-Sab‘ berarti tujuh. Ini karena surah tersebut terdiri dari tujuh ayat, sedang kata matsani merupakan bentuk jamak dari kata mutsanna atau matsna yang secara harfiah berarti dua-dua. Yang dimaksud dengan dua-dua adalah bahwa ia dibaca dua kali setiap rakaat shalat. Jika makna ini yang dimaksud, maka penamaan tersebut lahir pada awal masa Islam, ketika setiap shalat baru terdiri dari dua rakaat, atau karena surah ini turun dua kali, sekali di Mekah dan sekali di Madinah. Bisa juga kata dua-dua dipahami dalam arti berulang-ulang, sehingga surah ini dinamai demikian, karena ia dibaca berulang-ulang dalam shalat atau di luar shalat. Atau karena kandungan pesan setiap ayatnya terulang-ulang dalam ayat-ayat al-Qur’an yang lain.
Penamaannya dengan Ummul Kitab atau Ummul Qur\’an, juga bersumber dari Nabi saw. yang bersabda: “Siapa yang shalat tanpa membaca Ummu al- Qur’an maka shalatnya khidaj (kurang atau tidak sah).”
Kata Umm dari segi bahasa berarti induk. Penamaan surah ini dengan Induk al-Qur’an boleh jadi karena ia terdapat pada awal al-Qur’an, sehingga ia bagaikan asal dan sumber, serupa dengan ibu yang datang mendahului anak serta merupakan sumber kelahirannya.
Boleh jadi penamaannya sebagai umm/induk karena kandungan ayat-ayat al-Fatihah mencakup kandungan tema-tema pokok pada semua ayat al-Qur’an. Al-Qur’an turun menguraikan persoalan-persoalan 1) Tauhid, 2) Janji dan ancaman, 3) Ibadah yang menghidupkan tauhid, 4) Penjelasan tentang jalan kebahagiaan di dunia dan di akhirat dan cara mencapainya serta 5) Pemberitaan atau kisah generasi terdahulu.
Kelima pokok persoalan di atas, tercermin dalam ketujuh ayat surah al-Fatihah. Tauhid pada ayat kedua dan kelima; janji dan ancaman pada ayat pertama, ketiga dan ketujuh, ibadah juga pada ayat kelima dan ketujuh, sedang sejarah masa lampau diisyaratkan oleh ayat terakhir.
Kita dapat berkata bahwa surah ini Makkiyah (turun sebelum Nabi berhijrah ke Madinah), apalagi nama as-Sab\’ al-Matsani telah disinggung oleh al-Qur’an melalui firman-Nya dalam QS. 15. al-Hijr; 87: \”Sesungguhnya\’Kami telah menganugerahkan kepadamu as-Sab‘ al-Matsani dan al-Qur’an al-Karim.” Disepakati oleh ulama bahwa surah al-Hijr turun ketika Nabi saw. Masih bermukim di Mekah. Ditambah lagi bahwa shalat telah diwajibkan sejak di Mekah, sedang Nabi saw. bersabda bahwa tidak sah shalat tanpa membaca surah al-Fatihah.
Abu al-Hasan al-Harrali seorang sufi dan ulama, pakar bahasa, teologi dan logika (w. 698 H) dalam bukunya Miftah al-Bab al-Muqaffal Li Fahm al-Qur’an al-Munazzal ketika menafsirkan surah ini antara lain mengatakan: “Al-Fatihah adalah induk al-Qur’an, karena ayat-ayat al-Qur’an seluruhnya terinci melalui kesimpulan yang ditemukan pada ayat-ayat al-Fatihah. Tiga ayat pertama surah al-Fatihah mencakup makna-makna yang dikandung oleh al-Asma’ al-Husna (nama-nama Allah yang indah). Semua rincian yang terdapat dalam al-Qur’an menyangkut Allah bersumber dari ketiga ayat pertama itu. Ketiga ayat terakhir dari firman-Nya: Ihdina as-shirath al-Mustaqim mencakup segala yang meliputi urusan makluk dalam mencapai Allah dan menoleh untuk meraih rahmat-Nya, serta mengesampingkan selain-Nya. Semua rincian yang terdapat dalam al-Qur’an bermuara pada ketiga ayat itu. Sedang segala sesuatu yang menjadi penghubung antara makhluk dengan khaliq terinci dalam firman-Nya: Iyyaka na\’budu wa iyyaka nasta\’in. ’’Demikian lebih kurang kesimpulan Abu al-Hasan al-Harrali yang dikutip oleh Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i.
Al-Biqa‘i pengarang tafsir Nazhm ad-Durar fi Tanasuq al-Ayat wa as-Suwar itu menguraikan lebih lanjut tulisannya dengan menjelaskan alasan mengapa Basmalah yang membuka al-Fatihah dan mengapa al-Fatihah yang memulai Mushaf al-Qur’an: “Kedudukan Basmalah terhadap al-Fatihah serupa dengan kedudukan al-Fatihah terhadap al-Qur’an. Segala persoalan kembali kepada Allah semata. Itulah kesimpulan Basmalah dan itu pula yang terinci dalam surah al-Fatihah.” Selanjutnya ayat-ayat al-Qur’an yang lain merupakan rincian dari ketujuh ayat al-Fatihah.
Dalam konteks ini, al-Biqa\’i memerinci dengan memberi contoh ayat al-Hamdu lillah yang dibaca setelah basmalah pada surah al-Fatihah. “Ada empat surah yang dimulai — setelah Basmalah — dengan al-Hamdu lillah. Setiap surah mengisyaratkan nikmat-nikmat Allah sesuai perurutannya.” Demikian al-Biqa‘i. Keempat surah dimaksud adalah:
1). QS. 6. al-An‘am; 1 yang dimulai dengan Firman-Nya:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمٰتِ وَالنُّوْرَ ەۗ ثُمَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُوْنَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang. ”
Ayat ini mengisyaratkan nikmat wujud di dunia dan segala potensi yang dianugerahkan Allah di langit dan di bumi serta yang dapat diperoleh melalui gelap dan terang.
2). QS. 18. al-Kahfi; 1 yang dimulai dengan:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتٰبَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَّهٗ عِوَجًا ۜ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak membuat kebengkokan (kekurangan) di dalamnya. ”
Di sini yang diisyaratkan adalah nikmat-nikmat pemeliharaan Allah yang dianugerahkan-Nya secara aktual dalam kehidupan dunia ini, yang puncaknya adalah al-Qur’an sekaligus penyebutannya mewakili nikmat-nikmat pemeliharaan yang lain.
3). QS. 34. Saba’; 1 yang dimulai dengan:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ وَلَهُ الْحَمْدُ فِى الْاٰخِرَةِۗ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
“Segala puji bagi Allah yang memiliki apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; dan bagi-Nya pula pujian di akhirat. Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. ”
Ayat ini mengisyaratkan nikmat-nikmat Allah di akhirat kelak, yakni kehidupan baru, di mana, manusia yang taat memperoleh kenikmatan abadi setelah seluruh makhluk mengalami kematian.
4). QS. 35. Fathir; 1 yang menyatakan:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ فَاطِرِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ جَاعِلِ الْمَلٰۤىِٕكَةِ رُسُلًاۙ اُولِيْٓ اَجْنِحَةٍ مَّثْنٰى وَثُلٰثَ وَرُبٰعَۗ
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi yang menjadikan malaikat-malaikat utusan-utusan yang mengurus berbagai macam urusan (di dunia dan di akhirat). Mempunyai sayap-sayap, dua, tiga dan empat,. . . ”
Ayat ini adalah isyarat tentang nikmat-nikmat abadi yang akan dianugerahkan Allah kelak ketika mengalami hidup baru di akhirat.
Setiap rincian nikmat yang dicakup oleh masing-masing ayat pada empat awal surah di atas, adalah rincian dari keseluruhan nikmat Allah, dan keempat kelompok itu dicakup oleh kandungan al-Hamdu lillah pada surah al-Fatihah itu. itulah agaknya yang menjadi sebab mengapa al-Hamdu lillah pada surah al-Fatihah tidak dibarengi dengan kalimat yang mengisyaratkan nikmat tertentu, sebagaimana halnya keempat surah yang disebut di atas.
Surah al-Fatihah mengandung pujian dan pengajaran bagaimana memuji Allah yakni dengan mengkhususkan segala macam pujian kepada-Nya dan dengan menyebut nama-nama-Nya yang paling dominan yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Surah ini juga memuat pengakuan akan kemutlakan kekuasaan dan pembalasan-Nya di hari Kemudian serta petunjuk bagi manusia bagaimana bermohon dan apa yang seharusnya ia mohonkan, yakni agar diantar menuju jalan luas dan lurus yang pernah ditempuh oleh mereka yang sukses, bukan jalan orang orang yang sesat, karena tidak mengetahui kebenaran dan tentu bukan juga cara hidup mereka yang telah mengetahui kebenaran tetapi enggan menelusurinya. Dengan demikian, jika kita bermaksud mengelompokkan ayat-ayat al-Fatihah ini, maka kita dapat berkata bahwa kelompok pertama berbicara tentang Allah dan sifat-Nya, sedang kelompok kedua merupakaan permohonan yang diajarkan Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sejalan juga dengan hadits qudsi yang menyatakan bahwa Allah membagi al-Fatihah setengah buat diri-Nya dan setengah buat hamba-Nya.
Al-Biqa‘i menerapkan kaidahnya yang menyatakan bahwa “Nama setiap surah menjelaskan tujuan serta tema umum surah itu.” Untuk itu ulama ini menjelaskan nama-nama surah al-Fatihah. Al-Fatihah nama-namanya antara lain adalah Ummu al-kitab (Induk al-Qur’an), al-Asas (asas segala sesuatu), al-Matsani (yang diulang-ulang), al-Kanz (Perbendaharaan), asy-Syafiyah (penyembuh), al-Kafiyah (yang mencukupi), al-Waqiyah (yang melindungi), ar-Ruqyah (bacaan), al-Hamd (pujian), asy-Syukr (syukur) ad-Du‘d dan ash-Shalat (doa). Kesemua nama itu mengandung serta berkisar atas sesuatu yang tersembunyi yang dapat mencukupi segala kebutuhan, yaitu pengawasan melekat. Segala sesuatu yang tidak dibuka dengannya tidak akan memiliki nilai. Dia adalah pembuka segala kebaikan, asas segala makruf, tidak dinilai sah, kecuali bila diulang-ulang.
Dia adalah perbendaharaan menyangkut segala sesuatu. Dia menyembuhkan segala macam penyakit, serta mencukupi manusia dalam mengatasi segala keresahan, serta melindunginya dari segala keburukan dan menjadi mantera dalam menghadapi segala kesulitan. Surah inilah yang merupakan ketetapan bagi pujian yang mencakup segala sifat kesempurnaan, serta kesyukuran yang mengandung pengagungan terhadap Allah, Pemberi nikmat, dan dia pula yang merupakan inti doa karena doa adalah menghadapkan diri kepada-Nya, sedang doa yang teragung tersimpul di dalam hakikat shalat. Jika demikian, tujuan utama dari surah al-Fatihah adalah menetapkan kewajaran Allah swt. untuk dihadapkan kepada-Nya segala pujian dan sifat-sifat kesempurnaan, dan meyakini kepemilikan-Nya atas dunia dan akhirat serta kewajaran-Nya untuk disembah dan dimohonkankan dari-Nya pertolongan, dan nikmat menempuh jalan lurus sambil memohon keterhindaran dari jalan orang yang binasa. Inilah tujuan utama dan tema pokok surah al-Fatihah, sedang selainnya adalah cara-cara untuk mencapainya.” Demikian penjelasan al-Biqa‘i.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama : Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. — Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.