Nadham Aqîdatul ‘Awâm yang dikarang oleh al-Imam al-‘Allâmah Ahmad bin Muhammad Ramadhân bin Manshûr al-Makki al-Marzûki al-Mâliki al-Husaini al-Hasan (Ahmad Al-Marzuqi Al-Maliki Al-Makki), merupakan pegangan awal kajian para santri, ustadz-ustadz, para kiai di hampir seluruh pondok pesantren dan madrasah.
Nadham ini menjelaskan tentang dasar-dasar ilmu tauhid yang dikemas dalam bentuk syair yang indah. Nadham ini memiliki banyak penjelasan atau syarh, di antaranya kitab Tahshil Nail al-Maram Libayani Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam yang beliau karang sendiri, Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam karya Syekh Nawawi al-Bantani, Tashil al-Maram li Daarisil Aqidatil Awam gubahan Syekh Ahmad al-Qaththa’aniy al-‘Aysawiy, juga Jala’u al-Afham Syarh Aqidatul Awam yang dikumpulkan oleh kiai Muhammad Ihya Ulumuddin asal Malang dan masih banyak lagi syarh lain yang membahasnya.
Dalam Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam karya Syekh Nawawi al-Bantani, dijelaskan bahwa ada kisah dibalik penyusunan nadham ini, yaitu :
Ketahuilah! Sesungguhnya asal usul penyusunan nadham-nadham Aqidatul Awam adalah bahwa Syeh Ahmad al-Marzuki memimpikan Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam saat tidur pada malam Jumat bulan Rojab tanggal 6 (enam) tahun 1258 H. Dalam mimpinya, para sahabat sedang berdiri di sekitar Rasulullah.
Rasulullah berkata kepada Syeh Ahmad, “Bacalah nadham-nadham ilmu tauhid yang barang siapa menghafalnya maka ia masuk surga dan memperoleh kebaikan yang dijanjikan oleh al-Quran dan al-Hadis!”
Syeh Ahmad bertanya, “Nadham-nadham yang bagaimana itu? Wahai Rasulullah!”
Para sahabat berkata, “Dengarkan apa yang Rasulullah akan katakan!” Kemudian Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam berkata, “Ucapkan ’! أبدأ باسم الله و الرحمن ‘ “
Kemudian Syeh Ahmad mengatakan, ’ أبدأ باسم الله و الرحمن ‘ (sampai akhir nadham,
\’ وصحف الخليل والكليم # فيها كلام الحكم العليم \’ sambil didengarkan oleh Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam).”
Ketika Syeh Ahmad telah sadar dari tidurnya maka ia membaca nadham-nadham yang ia mimpikan. Ia langsung menghafalnya dari awal sampai akhir. Kemudian ketika pada waktu sahur malam Jumat tanggal 28 bulan Dzulqo’dah, ia memimpikan lagi Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam.
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam berkata kepadanya, “Bacakan nadham-nadham yang telah kamu hafal!” Kemudian Syeh Ahmad membacakan nadham-nadham tersebut dari awal sampai akhir. Dalam mimpinya ia membacakannya sambil berdiri di depan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasalam dan di depan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum yang berdiri di sekitar Rasulullah sambil mereka mengucapkan ‘Amin’ setiap kali Syeh Ahmad membacakan satu bait dari nadham-nadham.
Ketika Syeh Ahmad telah selesai membacakannya maka Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berkata kepadanya, “Semoga Allah memberimu taufik dengan perantara nadham-nadham yang telah Dia ridhoi. Semoga Dia menerima amalmu. Semoga Dia memberkahimu dan orang-orang mukmin. Semoga Dia memberikan manfaat kepada mereka dengan nadham-nadham itu. Aamin.”
Setelah itu, Syeh Ahmad memperlihatkan nadham-nadham itu kepada orang-orang. Mereka pun memintanya. Kemudian ia memenuhi permintaan mereka dan menambahinya dengan nadham lain dari,
وكل ما أتى به الرسول # فحقه التسليم والقبول
sampai akhir kitab.
Begitulah kisah dibalik penyusunan nadham Aqîdatul ‘Awâm. Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama : Nurudh Dhalam ‘alaa Mandhumah ‘Aqidah al-‘Awam / Syekh Nawawi al-Bantani
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.