Surah al-Ankabut berarti Laba-Laba (ayat 41) dengan jumlah 69 ayat. Surah yang ke 85 dari segi perurutan turunnya sebelum surah ar-Rum.
Surah ini merupakan salah satu surah yang diperselisihkan masa turunnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa semua ayat-ayatnya turun sebelum Nabi Muhammad berhijrah (Makkiyah). Ada juga riwayat dari Ibn ‘Abbas yang menyatakan bahwa seluruh ayatnya Madaniyah.
Pendapat ketiga menyatakan, sebagian Makkiyah dan sebagian lainnya Madaniyah. Ath-Thabari dan al-Wahidi mengemukakan riwayat yang menyatakan bahwa ayat 1, 2, 3 turun sesudah Rasulullah berhijrah, karena isinya menyangkut sekian orang yang telah memeluk Islam di Mekah dan belum mau berhijrah ke Madinah. Maka Nabi saw. menyurati mereka bahwa keislamannya tidak diterima kecuali jika mereka berhijrah. Mereka pun berangkat meninggalkan Mekah, tetapi dikejar oleh kaum musyrikin dan terpaksa kembali. .
Riwayat lain menyatakan bahwa ayat 10 turun di Mekah menyangkut sekelompok kaum muslimin yang lemah, yang terpaksa berpura-pura ketika hendak dianiaya oleh kaum musyrikin. Selanjutnya ada lagi riwayat yang memasukkan ayat 60 sebagai ayat yang turun di Madinah. Bahkan ada pendapat lain yang menyatakan bahwa awal surah ini sampai ayat 11 adalah ayat-ayat yang turun setelah hijrah.
Sebagian ulama berpendapat bahwa surah al-Ankabut merupakan surah Makkiyyah yang terakhir. Ada juga yang berpendapat bahwa yang terakhir adalah surah al-Muthaffifin. Ibn ‘Asyur mengambil jalan tengah dengan menyatakan bahwa permulaan surah al-‘Ankabut turun sebelum turunnya awal surah al-Muthaffifin, lalu setelah rampungnya surah al-Muthaffifin baru disusul lagi dengan sisa ayat-ayat surah al-‘Ankabut. Sedangkan Prof. M. Quraish Shihab cenderung sepakat dengan pandangan mayoritas ulama yang menyatakan bahwa seluruh ayat-ayatnya adalah Makkiyah setelah memperhatikan keserasian ayat-ayatnya serta mengamati riwayat-riwayat tersebut.
Thahir Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah tantangan kepada kaum musyrikin untuk membuat semacam al-Qur’an, sebagaimana terkesan dari awal surah yang menyebut huruf-huruf Alif, Lam Mim. Persoalan pokok yang menjadi perdebatan dan perbedaan pendapat antara kaum muslimin dan kaum musyrikin adalah tentang al-Qur’an, apakah dia bersumber dari Allah atau tidak. Inilah yang diistilahkankan oleh surah ini dengan fitnah/yuftanun (ayat 2) dan dengan tujuan utamanya adalah meneguhkan hati kaum muslimin yang difitnah, yakni dianiaya, dirayu, dan digoda oleh kaum musyrikin guna menghalangi mereka memeluk Islam atau berhijrah.
Thabathaba’i setelah mengamati kandungan ayat-ayat pertama dan terakhir surah ini serta konteks-konteksnya, berkesimpulan bahwa tujuannya adalah menjelaskan bahwa Allah Subhanahu Wa Ta\’ala. menghendaki dari keimanan bukan sekadar mengucapkan: “Kami telah beriman kepada Allah”, tetapi yang dikehendaki-Nya adalah hakikat iman yang tecermin pada keteguhan menghadapi gelombang fitnah dan penganiayaan, tidak tergoyah oleh perubahan keadaan dan situasi, tetapi terus menerus teguh bertahan kendati penganiayaan silih berganti. Ini karena manusia tidak akan dibiarkan mengucapkan “Kami telah beriman” tanpa diuji untuk diketahui hakikat iman yang bersemai dalam hati mereka. Fitnah yakni penganiayaan, ujian dan godaan merupakan sunnatullah yang berlaku terhadap manusia kini dan sejak dahulu kala. Di sana terbukti ada yang berhasil dan ada juga yang gagal.
Pendapat serupa dikemukakan Sayyid Quthub. Ulama ini menulis bahwa surah ini memulai uraiannya tentang keimanan yang haq yang sumbernya di dalam hati. Iman bukanlah kalimat yang diucapkan, tetapi ia adalah kesabaran menghadapi kesulitan, serta kewajiban yang merupakan konsekuensi dari pengucapannya. Hampir seluruh ayat-ayat surah ini berkisar pada tema tersebut. Kisah-kisah yang dipaparkannya, kisah Nuh, Ibrahim, Luth, Syuaib, demikian juga kisah ‘Ad, Samud, Qarun, Fir‘aun dan Haman, yang dipaparkannya secara sekilas kesemuanya menggambarkan aneka rintangan, ujian dan penganiayaan yang terbentang di jalan dakwah menuju keimanan, yang terjadi pada setiap masa.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah perintah untuk bersungguh-sungguh melaksanakan amar ma‘ruf dan nahi munkar serta ajakan menuju jalan Allah dan pujian atas-Nya tanpa jemu, sebagaimana penutup surah al-Qashash dan tanpa berpaling kepada selain Allah, sehingga tidak menjadi seperti laba-laba. Surah ini adalah surah yang menggambarkan kelemahan kaum kafir dan kekuatan kaum beriman, dan dari sini diketahui mengapa ia dinamai surah al-‘Ankabut (laba-laba).
Dijelaskan pula keharusan orang beriman untuk berlaku baik kepada ibu bapak (orang tua) kecuali kalau mereka mengajak pada kesyirikan. Pada akhirnya semua orang pasti mati dan Allah yang akan memberi keputusan yang adil. Kehidupan dunia sering mengecoh sedangkan kehidupan akhirat lebih baik dan langgeng.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.