Surah ini terdiri dari 88 ayat, termasuk golongan surah-surah makkiyah. Dinamakan al-Qashash berarti ‘cerita’(ayat 25). Surah ini adalah surah ke 49 dari segi perurutan turunnya. Ia turun sesudah surah an-Naml dan sebelum surah al-Isra’. Dengan demikian, ketiga surah yang dimulai dengan huruf-huruf Tha dan Sin itu, turun secara berurut yaitu, asy-Syu‘ara’, an-Naml dan al-Qashash, dan demikian juga perurutan penempatannya dalam Mushhaf. Di sisi lain, masing-masing juga menguraikan pada awalnya salah satu bagian dari kisah Nabi Musa Alaihis Salam.
Ayat 85 yang berbunyi (… اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗ ) “Sesungguhnya (Allah)yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum) al-Qur’an benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali”, dinilai oleh sementara ulama turun di Juhfah, satu lokasi dekat Mekah arah Madinah dalam perjalanan Rasulullah berhijrah. Namun, karena ketika itu beliau belum tiba di tempat tujuan, maka ini masih dinilai ulama sebagai ayat Makkiyah. Ada juga pendapat bahwa ayat 52, 53, 54, dan 55 adalah Madaniyah.
Surah ini menurut Sayyid Quthub, turun pada saat kaum muslimin masih dalam kondisi lemah dan kaum musyrikin dalam kondisi amat kuat. Namun demikian, hanya ada satu kekuatan dalam wujud yaitu kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, dan hanya ada satu nilai yaitu nilai iman. Bila kekuatan Allah telah berpihak kepada sesuatu, maka dia tidak perlu khawatir ,walau sesuatu itu dianggap tidak memiliki tanda-tanda lahiriah dari kekuatan. Sebaliknya, siapa yang tidak mendapatkan kekuatan Allah, maka ia tidak akan merasakan ketenangan walau ia didukung oleh segala macam kekuatan (selain kekuatan Allah). Siapa yang memiliki nilai iman, maka semua kebajikan telah diraihnya, dan siapa yang luput dari iman, maka tidak ada lagi yang dapat memberi manfaat kepadanya.
Thabathaba’i berpendapat hampir serupa. Surah ini menurut beliau merupakan janji yang begitu indah untuk kaum mukminin yang ketika itu hidup di Mekah sebagai kelompok kecil yang ditindas oleh Fir\’aunnya umat Islam (Abu Jahal dan kawan-kawan). Allah berjanji akan melimpahkan kepada kelompok yang tertindas itu anugerah dan menjadikan mereka para pemimpin, pewaris-pewaris serta penguasa-penguasa, sedang musuh-musuh mereka akan mengalami apa yang mereka khawatirkan dan takutkan serupa dengan apa yang dialami oleh kaum Nabi Musa dan Fir\’aun.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i secara sangat singkat berpendapat bahwa tema dan tujuan utama pemaparan surah ini adalah “tawadhu\’”, yakni kerendahan hati yang mengantar kepada pengembalian segala sesuatu kepada Allah Subhanahu Wa Ta\’ala, yang dihasilkan oleh keimanan tentang kehidupan ukhrawi serta kepercayaan menyangkut kenabian Rasulullah Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam yang terbukti dengan kemukjizatan al-Qur’an. Hal ini dipahami dari penamaan surah ini dengan surah al-Qashash yang menguraikan kisah Musa dengan Syu\’aib. Baru pada saat pertemuan mereka — jauh sebelum kemenangan Nabi Musa as. — Nabi Syu\’aib Alaihis Salam telah menyatakan keunggulan Musa sang Nabi yang digelar al-Kalimullah (yang diajak berbicara oleh Allah) menghadapi siapa yang menentangnya serta menegaskan kekalahan musuh-musuhnya. Kenyataan kemudian membuktikan kebenaran hai itu.
Thahir Ibn ‘Asyur melihat surah ini menekankan keistimewaan al-Qur’an serta kelemahan sastrawan kaum musyrikin membuat walau satu surah semacamnya. Di samping itu, ia adalah rincian uraian surah asy-Syu‘ara’ (ayat 18-19) yang merekam ucapan Fir\’aun kepada Musa: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu engkau masih bayi”, sampai dengan firman-Nya: “engkau termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas budi”. Begitu pula rincian QS. 27. an-Naml; 7 “Sesungguhnya aku melihat api. ”
Ibn ‘Asyur berpendapat bahwa surah ini turun sebagai pemenuhan harapan kaum muslimin untuk mengetahui lebih banyak tentang Nabi Musa. Allah Subhanahu Wa Ta\’ala menguraikannya agar mereka menarik pelajaran dari pengalaman Nabi Musa dan kaumnya. Karena itu uraian surah ini lebih banyak tertuju kepada kaum muslimin, dan karena itu pula awal surah ini menegaskan bahwa “Kami membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir‘aun dengan benar untuk orang-orang yang beriman. ”
Diceritakan pula sebagian kisah dari Nabi Nuh. Serta sifat-sifat orang yang dikasihi Allah secara rinci sebagai arahan bagi orang yang beriman.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.