Surah ini terdiri dari 227 ayat, termasuk golongan surah-surah makkiyah. Surah ini dinamakan asy-Syuara, bentuk jamak dari kata asy-Sya \’ir yang berarti ‘para Penyair ‘. Karena kata ini hanya sekali itu ditemukan dalam al-Qur’an (ayat 224). Surah ini merupakan surah yang keempat puluh tujuh, jika ditinjau dari perurutan turunnya surah, sebelum surah an- Naml dan sesudah surah al-Waqi‘ah. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 226 ayat menurut perhitungan ulama qira’at Mekkah dan Madinah, dan 227 ayat menurut perhitungan ahli qira ’at Kufah dan Syam.
Surah ini pada masa Rasulullah popularitasnya menjadi sangat tinggi, karena ayat itu mengecam para penyair, yang oleh masyarakat Arab mendapat tempat yang sangat terhormat. Mereka ketika itu dapat diserupakan dengan media massa dewasa ini, yang dapat menyebarluaskan informasi, mengangkat derajat seseorang atau masyarakat tertentu, atau mendiskreditkannya. Nama yang lain dari surah ini adalah Tha’, Sin, Mim. Namun nama ini tidak terlalu populer karena awal surah ke 28 (al-Qashash) juga dimulai dengan ketiga huruf itu. Ada juga yang menamainya al-Jami‘ah yang secara harfiah berarti Yang Menghimpun. Boleh jadi karena surah ini adalah surah pertama yang menghimpun uraian tentang para rasul pembawa syariat sebagai satu kesatuan risalah.
Ada yang mengecualikan, beberapa ayat turun di Madinah seperti ayat 224 sampai 227 yang berbicara tentang para penyair. Boleh jadi mereka menduga demikian, karena ayat-ayat itu mengecam para penyair, kecuali mereka yang beriman. Dalam hai ini mereka menduga bahwa yang dimaksud adalah penyair-penyair muslim seperti Hassan Ibn Tsabit, Ka\’ab Ibn Malik dan Ibn Rawahah. Ada juga yang mengecualikan ayat 197 yang berbicara tentang ulama Bani Isra’il dengan alasan bahwa pergaulan umat Islam dengan para pemuka agama Bani Isra’il baru terjadi di Madinah.
Pendapat yang mengecualikan ini dinilai lemah, karena tidaklah mutlak uraian menyangkut sesuatu yang berada di satu kota otomatis dibicarakan di kota itu. Sekian banyak ayat al-Qur’an yang disepakati bahwa ia turun sebelum Rasulullah berhijrah kendati ayat tersebut berbicara tentang Bani Isra’il, seperti misalnya:
وَيَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَسْتَ مُرْسَلًا ۗ قُلْ كَفٰى بِاللّٰهِ شَهِيْدًاۢ بَيْنِيْ وَبَيْنَكُمْۙ وَمَنْ عِنْدَهٗ عِلْمُ الْكِتٰبِ ࣖ
Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul. ” Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antara aku dan kamu dan antara orangyang mempunyai ilmu al-Kitab” (QS. 13. ar-Ra‘d; 43).
Ini karena keberadaan orang-orang Yahudi serta hubungan dagang antara penduduk Mekah dengan mereka sudah terjalin jauh sebelum Nabi berhijrah ke Madinah. Bahkan beberapa riwayat menyatakan ada pertanyaan yang diajukan oleh kaum musyrikin Mekah yang sumbernya adalah orang Yahudi. Seperti pertanyaan tentang ruh dalam QS. 17. al-Isra’; 85. Di sisi lain, persoalan penentuan masa turun ayat bukanlah persoalan nalar, tetapi persoalan sejarah. Peranan akal dalam konteks itu, hanyalah menilai sampaiapakah riwayat tersebut benar atau tidak.
Diceritakan pula dalam surah ini tentang pertemuan Nabi Musa dan Harun dengan Fir’aun. Kisah Nabi Ibrahim, Nabi Nuh dengan kaum ‘Ad, Nabi Saleh dengan kaum Samud, Nabi Luth, dan juga Nabi Syuaib.
Menurut penjelasan Prof M. Quraish Shihab, tujuh kisah Nabi yang diuraikan di sini mencakup sekitar 180 ayat dengan ciri yang hampir sama. Ada pengantar dan ada penutupnya, sehingga masing-masing hampir merupakan berdiri sendiri. Uraian pada kisah-kisah itu jika dicermati, ditemukan bahwa keseluruhannya mengarah kepada satu tujuan yang mencerminkan kesatuan pokok-pokok dasar dakwah seluruh rasul yang diutus kepada umat manusia. Di sisi lain, dari kisah-kisah itu dapat dipetik satu pelajaran bahwa orang-orang kafir menggunakan cara yang praktis, sama ketika menolak risalah dan seruan para rasul, dan karena itu pulalah agaknya sehingga uraian tentang mereka selalu diakhiri dengan redaksi yang sama yaitu: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu ayat dan tidaklah kebanyakan mereka termasuk orang-orang mukmin. Dan sesungguhnya Tuhanmu, benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. ”
Tema utama surah ini adalah kisah para nabi itu. Thabathaba’I menjadikannya bertujuan menghibur Nabi atas pembangkangan kaum musyrikin dengan menguraikan kisah para nabi itu dan kesudahan para pembangkang. Sayyid Quthub berpendapat serupa. Ulama ini menggarisbawahi bahwa tema surah ini adalah tema surah-surah Makkiyah yakni yang berbicara tentang Tauhid, keniscayaan Kiamat, pembenaran wahyu, ancaman terhadap para pendurhaka, yang pada akhirnya merupakan pelipur lara bagi Nabi Muhammad saw. yang dihadapi oleh kaumnya dengan pembangkangan.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘I berpendapat bahwa tujuan surah ini adalah membuktikan bahwa al-Qur’an adalah mukjizat yang sangat jelas bersumber dari Allah swt. Dia menjelaskan segala sesuatu, antara lain merinci apa yang dikemukakan pada akhir surah yang lalu, al-Furqan. Penamaannya sebagai asy-Syu\’ara’ (para penyair) adalah bukti yang sangat jelas tentang tujuan tersebut, karena al-Qur’an sungguh berbeda dengan syair dari para penyair.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.