Surah al-Mu’minun termasuk golongan surah-surah Makkiyah, terdiri atas 118 ayat. Nama al-Mu’minun atau al-Mu’minin dikenal sejak masa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Dinamakan al-Mu’minun karena permulaan surah ini menerangkan bagaimana seharusnya sifat-sifat orang mu’min yang menyebabkan keberuntungan mereka di akhirat dan ketentraman jiwa mereka di dunia.
Imam an-Nasa’i meriwayatkan bahwa sahabat Nabi, yakni Abdullah Ibn Sa’ib mengatakan, “Pada hari pembukaan kota Mekah, aku shalat bersama Rasulullah. Beliau shalat dengan menghadap ke Ka‘bah, setelah membuka alas kaki beliau dan meletakkannya di sebelah kiri beliau. Sewaktu itu, beliau membaca surah al-Mu’minun, dan ketika tiba pada ayat yang berbicara tentang Musa atau ‘Isa, beliau terbatuk-batuk, dan beliau pun ruku‘.”
Memang ada juga segelintir kecil ulama yang menduga sebagian ayatnya turun di Madinah. Misalnya ada yang menduga bahwa ayat 75, 76, 77 surah ini adalah Madaniyah. Tetapi pendapat tersebut dinilai serupa dengan kelemahan pendapat yang menduga ayat 4 surah ini berbicara tentang kewajiban zakat yang baru disyariatkan di Madinah.
Ada juga yang menamai surah ini dengan surah Qad Aflaha, terambil dari kata yang terdapat pada awal ayat surah ini. Surah ini merupakan surah yang ke-76 jika ditinjau dari perurutan turunnya surah. Ia turun sebelum surah al-Mulk/Tabarak, dan sesudah surah ath-Thur. Jumlah ayat-ayatnya sebanyak 117 ayat. Ada juga yang menghitungnya sebanyak 118 atau 119 ayat. Mereka yang berpendapat 118, menghitung firman-Nya: (اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْوٰرِثُوْنَ ۙ ) ula’ika hum al-waritsun (ayat 10) satu ayat, dan (الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ) alladzina yaritsuna al-firdaus hum fiha khalidun (ayat 11) satu ayat lagi. Berbeda dengan ulama yang menggabung kedua kalimat itu dan menjadikannya satu ayat saja.
Tujuan dan tema utama surah ini adalah uraian tentang kebahagiaan dan kemenangan yang akan diraih secara khusus untuk orang-orang mukmin, sebagaimana jelas dipahami dari namanya. Demikian penjelasan Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i. Thabathaba’I pun berpendapat serupa, walaupun ulama ini menambahkan bahwa surah ini merupakan ajakan beriman kepada Allah dan hari Kemudian serta menjelaskan sifat-sifat orang mukmin dan orang-orang kafir.
Menurut Sayyid Quthub, Nama surah ini menunjuk dan menetapkan tujuannya. Dimulai dengan uraian tentang sifat orang-orang mukmin, lalu dilanjutkan dengan bukti keimanan dalam diri manusia dan alam raya, kemudian uraian tentang hakikat iman sebagaimana dipaparkan oleh para rasul Allah sejak Nabi Nuh Alaihis Salam sampai dengan Nabi dan Rasul terakhir Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam sebagai satu kesatuan risalah. Kemudian dipaparkan dalih para pengingkar dan keberatan-keberatan mereka serta pembangkangan mereka, sampai dengan kebinasaan para pengingkar dan kemenangan orang-orang mukmin. Dengan demikian surah ini adalah surah al-Mu’minun atau surah al-Iman dalam seluruh aspek, dalil-dalil dan sifat-sifatnya.
Surah ini diakhiri dengan tuntunan doa yang baik bagi orang yang beriman.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.