Mukaddimah Qur’an Surah 21. al Anbiya

Surah ini terdiri atas 112 ayat, yang dinamai surah al-Anbiya/Nabi-Nabi, karena surah ini mengutarakan kisah beberapa orang Nabi. Nama tersebut telah dikenal sejak masa sahabat Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam. Tidak dikenal nama lain untuk surah ini selain nama tersebut.

Imam Bukhari meriwayatkan ucapan Ibnu Mas‘ud yang menyebut nama surah al-Anbiya’ bersama surah al-Isra’, al-Kahfi, Maryam dan Thaha dan menilainya sebagai surah-surah pertama yang turun (Makkiyah). Surah ini merupakan yang ke 71 dari segi perurutan turunnya, sesudah surah as-Sajdah dan sebelum surah an-Nahl.

Penamaan ini agaknya disebabkan karena surah ini menyebut nama enam belas orang nabi. Tidak ada satu surah dalam al-Qur’an selain surah al-An‘am yang menyebut nama nabi sebanyak itu. Surah al-An‘am menyebut delapan belas nama nabi, tetapi karena surah al-An‘am uraiannya lebih kepada persoalan ternak (al-an‘am) maka nama itu lebih populer baginya. Terlebih lagi surah ini, al Anbiya lebih dahulu turun daripada surah al-An‘am.

Thabathaba’i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah tentang kenabian. Hal itu sangat jelas dari uraiannya tentang Tauhid dan Kebangkitan. Diawali dengan uraian tentang dekatnya Kiamat serta kelengahan manusia tentang hal itu dan keberpalingan mereka menyambut ajakan kebenaran. Dari sini uraian surah beralih ke tema kenabian serta cemoohan kaum musyrikin kepada Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam dan aneka tuduhan mereka yang dilanjutkan dengan kisah para nabi.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tujuan utama surah ini adalah membuktikan keniscayaan dan kedekatan  Kiamat serta kepastian adanya perhitungan atas amal manusia hingga sekecil dan sedetail apapun pada hari Kemudian. Karena Pencipta hari Kiamat dan Pelaku perhitungan itu adalah Allah Subhanahu Wa Ta\’ala yang tiada sekutu bagi-Nya dan tiada juga yang dapat menghalangi kehendak-Nya. Kumpulan kisah para nabi yang diuraikan di sini membuktikan tujuan utama surah ini. Tidak ada satu kisah pun dari kisah para nabi yang diuraikan itu yang tidak memiliki sekelumit petunjuk tentang hal tersebut.

Salah satunya adalah kisah Nabi Ibrahim Alaihis Salam yang berdialog dengan ayahnya dalam usaha untuk menyadarkan akan kesesatan ayahnya tersebut.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top