Mukaddimah Qur’an Surah 20. Thaha

Surah ini terdiri atas 135 ayat, surah ke 45 yang turun setelah turunnya surah Maryam. Surah ini dinamakan “Thaha” yang diambil dari perkataan yang berasal dari ayat pertama surah ini.

Keseluruhan ayat-ayatnya Makkiyyah, demikian pendapat mayoritas pakar al-Qur’an. Ada juga yang mengecualikan ayat 130 dan 131, tetapi pendapat ini dilemahkan oleh banyak ulama. Memang ada riwayat yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam memerintahkan sahabatnya Abu Rafi‘ untuk meminjam gandum kepada seorang Yahudi karena beliau kedatangan tamu. Tapi sang Yahudi enggan kecuali jika diberi jaminan, maka ketika hal ini disampaikan kepada Nabi, beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah yang terpercaya di bumi dan di langit,” Abu Rafi‘ berkata: “Aku tidak meninggalkan beliau hingga turun ayat 131 tersebut” (HR. Abu Ya‘la dan al-Bazzar melalui Abu Rafi).

Riwayat ini bila benar, maka itu tidak membuktikan bahwa ayat 131 yang menyatakan “ Janganlah engkau tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami coba mereka dengannya. Karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal” bahwa ayat ini dan ayat sebelumnya turun di Madinah, di mana terdapat masyarakat Yahudi. Akan tetapi bisa saja Rasulullah sekadar membaca ayat tersebut untuk mengukuhkan kandungan petunjuk Ilahi yang sebelum ini telah beliau terima. Rupanya bacaan Nabi itu menjadikan Abu Rafi’ menduga bahwa baru ketika itulah ayat tersebut turun, demikian jelas Prof M. Quraish Shihab

Menurut cara perhitungan banyak ulama, surah Thaha berjumlah 135 ayat, ada juga yang menghitungnya sebanyak 134 ayat. Para ulama sepakat menyatakan bahwa surah ini turun pada tahun-tahun pertama kenabian, yakni sebelum Sayyidina ‘Umar Radiallahu Anhu memeluk Islam. Karena beliau memeluk Islam setelah mendengar awal surah ini, ketika saudara perempuan dan iparnya yang sedang mempelajari surah ini bersama sahabat Nabi, al-Khabbab Ibn al-Arat. Kisah ini terjadi pada tahun ke lima dari kenabian beberapa waktu sebelumnya terjadinya hijrah ke Habasyah.

Surah ini dinamai surah Thaha, nama yang telah dikenal sejak awal masa Islam. Ada juga yang menamainya surah al-Kalim, mitra bicara. Yaitu kisah Nabi Musa Alaihis Salam  yang menerima wahyu dan mendengar firman-firman Allah secara langsung tanpa perantara malaikat, saat dalam perjalanan bersama keluarganya dari Madyan menuju ke Mesir.  

Didalamnya juga dijelaskan tentang perjuangan Nabi Musa dan Nabi Harun dalam melawan Fir’aun, menyebrangi Laut Merah, hingga ulah Bani Isra\’il yang akhirnya menimbulkan kesalahpahaman antara Nabi Musa dan Harun. Kisah Nabi Adam yang terkena bujuk rayu Iblis. Serta perintah untuk senantiasa menegakkan shalat, serta bersabar agar mendapat petunjuk Allah Subhanahu Wa Ta\’ala.

Thabathaba’i menjadikan tujuan utama uraian surah ini adalah peringatan tentang jatuhnya ancaman Allah terhadap para pembangkang. Ini menurutnya karena ayat-ayat yang berbicara tentang ancaman jauh lebih banyak daripada ayat-ayatnya yang menguraikan janji yang menggembirakan.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i menjadikan tujuan utama surah ini adalah penyampaian tentang penangguhan jatuhnya ancaman terhadap masyarakat Mekah yang diajak beriman oleh Rasulullah. Ini sebagai tambahan penghormatan kepada beliau guna menunjukkan betapa kasih Allah diberikan bagi siapa saja yang bertakwa. Sejalan dengan apa yang diisyaratkan oleh uraian akhir surah yang lalu yang berbicara tentang janji Allah melimpahkan dan menanamkan kasih sayang kepada siapa yang bertakwa.

al-Biqa‘I menjelaskan bahwa tempat pengucapan kedua huruf Tha dan Ha sebagai isyarat tentang makna-makna tersebut. Huruf Tha’ keluar dari ujung lidah dan penekanan pada gigi seri bagian atas di mana tempat keluar itu merupakan tempat keluar huruf-huruf yang terbanyak sekaligus memerlukan kekuatan dan mengandung makna penyebaran. Dari sini al-Biqa‘i memahami bahwa itu mengisyaratkan kekuatan serta penyebaran dakwah Rasul dengan banyaknya pengikut-pengikut beliau. Demikian sekelumit dari uraian al-Biqa‘i yang jelas mengandung subjektivitas yang sangat tinggi.

Pandangan al-Biqa‘i di atas ini dikukuhkan juga dengan makna lain yang dipahaminya, bersama sekian banyak ulama lain tentang arti Thaha yaitu berarti wahai pria/tokoh sehingga menurutnya itu menunjukkan kebesaran kedudukan, popularitas, kekuasaan yang akan diraih oleh mitra bicara ayat ini, yakni Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top