Surah ini dinamakan Maryam, terdiri atas 98 ayat. Nama tersebut telah dikenal sejak masa Rasulullah, bahkan beliaulah yang menamainya demikian, karena pada surah ini diuraikan dengan cukup panjang kisah Maryam, ibu dari Nabi ‘Isa Alaihis Salam.
Diriwayatkan oleh ath- Thabarani dan ad-Dailami bahwa salah seorang sahabat datang kepada Nabi Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam menyampaikan bahwa: “Semalam aku dianugerahi seorang anak perempuan.” Nabi saw. bersabda: “Semalam diturunkan kepadaku surah Maryam, maka namailah anak perempuanmu itu Maryam.” Sejak itu sahabat tadi dikenal juga dengan sebutan Abu Maryam, padahal namanya adalah Nadzir. Riwayat lain menyatakan bahwa sahabat Nabi, Ibnu ‘Abbas, menamai surah ini dengan surah Kaf, Ha’, Ya’, ‘Ain, Shad.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa surah ini Makkiyah. Surah ke 44 dari segi perurutan turunnya sesudah surah Fathir dan sebelum surah Thaha. Surah Thaha turun sebelum ‘Umar Radiallahu Anhu memeluk Islam, karena beliau memeluk Islam setelah membaca dan terkesan dengan ayat-ayat pada awal surah Thaha, sebagaimana dikenal luas dalam biografi beliau. Ini berart surah ini turun sekitar tahun keempat masa kenabian. Agaknya surah ini turun sebagai bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang bersikap sangat tidak wajar terhadap Maryam, yakni menuduh beliau dengan tuduhan yang sangat buruk, akibat kelahiran Nabi ‘Isa as. tanpa ayah.
Thabathaba’i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah peringatan dan berita gembira, sebagaimana diisyaratkan oleh ayat terakhirnya, yakni: “Maka sesungguhnya Kami telah memudahkannya (al-Qur’an ini) dengan bahasamu, agar engkau dapat memberi berita gembira dengannya kepada orang-orang bertakwa dan agar engkau memberi peringatan dengannya terhadap kaum pembangkang” (ayat 97).
Kisah ini ditampilkan dengan cara yang sangat indah mempesona, yakni dengan memaparkan terlebih dahulu kisah sekian banyak tokoh, dimulai dari Zakaria, Yahya, Maryam, Isa, Ibrahim, Ishak dan Yakub, serta Musa dan Harun, lalu Ismail, dan terakhir Idris, dengan menyebutkan aneka nikmat yang dilimpahkan Allah kepada mereka, dan mengingatkan Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam bahwa mereka itu adalah orang-orang yang tunduk dan patuh lagi tulus kepada Tuhan mereka.
Manusia yang berpaling dari tuntunan Ilahi dan mengikuti hawa nafsunya, pasti akan mendapat murka-Nya kecuali yang bertaubat. Setelah itu, surah ini menyinggung sekelumit dari kedurhakaan manusia beserta akibatnya, seperti pengingkaran hari Kebangkitan, penyembahan berhala, dan kepercayaan tentang adanya anak Tuhan.
Dengan demikian surah ini mirip dengan penjelasan penuntut umum dalam pengadilan yang menguraikan beberapa contoh. Beberapa orang yang taat kepada Allah serta tidak dipengaruhi oleh hawa nafsunya, tunduk dan patuh kepada-Nya mereka dianggap wajar mendapat anugerah. Sedangkan bagi yang bertolak belakang sifatnya dengan mereka itu, yakni yang menyimpang dari jalan tersebut dan enggan beramal saleh, kelak akan dihisab dan diminta pertanggung jawabannya pada hari Kemudian. Jelas Thabathaba’i.
Pada kesimpulannya, manusia terbagi dalam tiga kelompok besar. Pertama, mereka yang diberi nikmat oleh Allah (ayat 58); kedua, orang-orang yang sesat (ayat 59); dan ketiga, orang yang bertaubat dan beramal saleh (ayat 60)
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah penjelasan tentang cakupan rahmat dan limpahan karunia Allah Subhanahu Wa Ta\’ala atas semua makhluk, yang membuktikan bahwa Allah menyandang semua sifat sempurna serta berkuasa menciptakan hal-hal yang ajaib. Sehingga terbukti pula kekuasaan-Nya membangkitkan manusia setelah kematian mereka.
Di samping itu terbukti pula kemahasucian-Nya dari kepemilikan anak dan sekutu, karena dengan segala kesempurnaan sifat-sifat-Nya, maka Allah tentu saja tidak membutuhkan anak apalagi sekutu. Dari makna-makna itulah sehingga surah ini dinamai surah Maryam karena melalui kisahnya terbukti kemahakuasaan Allah serta kemahaluasan ilmu-Nya.
Ini karena makhluk yang dianggap paling sempurna dan menakjubkan dibanding makhluk lainnya adalah manusia. Serta yang paling menakjubkan di antara mereka adalah yang lahir dari seorang perempuan tanpa hubungan seks. Terlebih lagi bahwa anak yang lahir itu adalah anak sempurna lagi kuat, bukan saja fisiknya tetapi juga kemampuannya berbicara, serta pengetahuannya yang tampil ketika dia masih sangat kecil, yaitu Nabi Isa. Demikian penjelasan al-Biqa‘i.
Sayyid Quthub menilai surah ini berkisar uraiannya pada tauhid dan kemahasucian Allah dari anak dan sekutu, serta keniscayaan hari Kebangkitan. Kisah-kisah yang merupakan dua pertiga dari isi surah ini yang menjelaskan kisaran uraian itu, serta pemaparan peristiwa-peristiwa di hari Kiamat dan penolakan kaum musyrikin terhadap hakikat tersebut, memperkuat makna.
Naungan atau bayang-bayang yang paling menonjol dalam surah ini adalah tentang rahmat Ilahi, keridhaan dan hubungan dengan-Nya. Itu dimulai dengan menyebut rahmat-Nya kepada Nabi Zakariyya Alaihis Salam. Berulangulang kali juga kata rahmat dan maknanya terulang dalam surah ini. Kata rahman pun banyak disebut, sedang kenikmatan yang diperoleh kaum mukminin digambarkan dengan kata wud (yakni yang menggambarkan hubungan kasih antara Allah dan manusia).
Terasa juga nada dan iramanya yang khas dari kata-kata yang dipilihnya. Ditemukan dalam lafadz-lafadz dan fashilah, yakni akhir kata pada ayat-ayatnya kelemahlembutan dan kedalaman, seperti kata radhiyyan, sariyyan, hafyyan, najiyyan, sedang pada tempat-tempat di mana diperlukan adanya ketegasan dan sikap keras, maka fashilah yang digunakan umumnya adalah huruf (دَ) dal yang di –tasydid seperti maddan, dhiddan, huddan, atau menggunakan huruf (زَ) zaiy seperti ‘izzan, atau ‘azan.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.