Surah ini dinamakan “al-Kahfi/Gua atau ashabul Kahfi/Penghuni-penghuni Gua”, diambil dari kisah pada ayat 9 sampai 26, kisah sekelompok pemuda yang menyingkir dari gangguan penguasa pada zamannya, lalu tertidur di dalam gua selama tiga ratus tahun lebih sembilan tahun
Nama tersebut dikenal sejak masa Rasulullah, bahkan beliau sendiri menamainya demikian. Beliau bersabda: “Siapa yang menghafal sepuluh ayat dari awal surah al-Kahfi maka dia terpelihara dari fitnah ad-Dajjal.” (HR. Muslim dan Abu Daud melalui Abu ad-Darda’).
Surah ini merupakan wahyu al-Qur’an yang ke 68 yang turun sesudah surah al-Ghasyiah dan sebelum surah asy-Syura. Surah ini terdiri atas 110 ayat yang menurut mayoritas ulama, kesemuanya turun sekaligus sebelum Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam berhijrah ke Madinah (Makkiyah). Memang ada sebagian ulama yang mengecualikan beberapa ayat, yakni dari ayat 1 sampai 8. Ada yang mengecualikan ayat 28 dan 29. pendapat lain menyatakan ayat 107 sampai dengan 110. Ada juga yang mengatakan ayat 28, 83 sampai 101.
Surah ini merupakan pertengahan al-Qur’an, yakni akhir dari juz XV dan awal juz XVI. Didalamnya terdapat juga pertengahan dari huruf-huruf al-Qur’an yaitu huruf (تَ) ta’ pada firman-Nya: (وَلْيَتَلَطَّفْ) wal yatalatthaf (ayat 19). Ada juga yang menyatakan bahwa pertengahan huruf al-Qur’an adalah huruf (نُّ) nun pada firman-Nya: (لَقَدْ جِئْتَ شَيْـًٔا نُّكْرًا) laqad ji’ta syai’an nukran (ayat 74).
Thabathaba’i berpendapat bahwa surah ini mengandung ajakan menuju kepercayaan yang haq dan beramal saleh melalui pemberitaan yang menggembirakan dan peringatan.
Sayyid Quthub menggarisbawahi bahwa ‘kisah’ adalah unsur yang terpokok pada surah ini. Pada awalnya terdapat kisah Ashab al-Kahf, sesudahnya disebutkan kisah dua pemilik kebun, selanjutnya terdapat isyarat tentang kisah Nabi Adam Alaihis Salam dan iblis. Pada pertengahan surah, diuraikan kisah Nabi Musa Alaihis Salam dengan seorang hamba Allah yang saleh, bayak yang mengatakan bahwa hamba yang saleh itu adalah Nabi Khidir . Serta pada akhirnya adalah kisah Dzulqarnain yang pergi ke ujung Timur dan Barat.
Sebagian besar dari sisa ayat-ayatnya adalah komentar menyangkut kisah-kisah itu. Dijelaskan pula beberapa ayat yang menggambarkan peristiwa Kiamat. Benang merah dan tema utama yang menghubungkan kisah-kisah surah ini adalah pelurusan akidah tauhid dan kepercayaan yang benar. Pelurusan akidah itu, menurut Sayyid Quthub seperti juga Thabathaba’i, diisyaratkan oleh awal ayat surah ini dan akhirnya.
Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah menggambarkan betapa al-Qur’an adalah satu kitab yang sangat agung, karena al-Qur’an mencegah manusia dari mempersekutukan Allah. Mempersekutukan Allah bertentangan dengan keesaan-Nya yang telah terbukti dengan jelas pada uraian surah yang lalu, yang dimulai dengan (سُبْحٰنَ) subhana, yakni menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan sekutu.
Surah ini juga menceritakan secara haq dan benar berita sekelompok manusia yang telah dianugerahi keutamaan pada masanya, sebagaimana diuraikan oleh surah al-Isra’ yang menyatakan bahwa Allah memberi keutamaan siapa yang dikehendaki-Nya, dan melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya. Hal yang paling menunjukkan tema tersebut adalah kisah Ahl al-Kahf (Penghuni Gua), karena berita tentang mereka demikian rahasia sebab kepergian mereka meninggalkan masyarakat kaumnya didorong oleh keengganan mengakui syirik, dan keadaan mereka membuktikan, setelah tertidur sedemikian lama, bahwa memang Yang Maha Kuasa itu adalah Maha Esa.Kkebangkitan mereka pun dinilai sebagai kemudahan Allah saat membangkitkan manusia di hari Kemudian.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Sumber utama :
Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.
Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.
dan sumber lainnya.
Eksplorasi konten lain dari hasanah.info
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.