Mukaddimah Qur’an Surah 17. al Isra’

Surah ini dinamakan Al-Isra’ yang berarti Memperjalankan di Malam Hari, surah ini juga dinamakan dengan bani Isra’il/Keturunan Israil. Sebagian ulama menilai surah ini merupakan wahyu al-Qur’an yang kelima puluh, turun sesudah surah al-Qashash dan sebelum surah Yunus. Jumlah ayat-ayat surah ini adalah 111 ayat menurut perhitungan ulama Kufah dan 110 menurut perhitungan Ulama Madinah.

Dinamai al-Isra’ karena awal ayatnya berbicara tentang al-Isra’ yang tidak diuraikan di surah lain. Demikian juga dengan nama Bani Isra’Il, karena hanya di sini diuraikan tentang pembinasaan dan penghancuran Bani Isra’Il. Ia dinamai juga dengan surah Subhana karena awal ayatnya dimulai dengan kata tersebut. Nama yang popular bagi kumpulan ayat-ayat ini pada masa Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam adalah Surah Bani Isra’Il. Pakar hadits at-Tirmidzi meriwayatkan melalui ‘Aisyah Radiallahu Anha, bahwa Nabi tidak tidur sebelum membaca surah az-Zumar dan Bani Isra’Il.

Surah ini menurut mayoritas ulama termasuk golongan surah Makkiyah. Ada yang mengecualikan dua ayat, yaitu ayat 73 dan 74, dan ada yang menambahkan ayat 60 dan 80, ada juga yang mengatakan ayat 73 sampai 80. Masih ada pendapat lain menyangkut pengecualian beberapa ayat Makkiyah. Pengecualian itu, agaknya disebabkan karena ayat-ayat yang dimaksud dipahami membicarakan tentang keadaan yang diduga terjadi pada periode Madinah.

Memang peristiwa hijrah terjadi tidak lama setelah peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wasalam yakni sekitar setahun lima bulan dan ini berarti surah ini turun pada tahun XII kenabian. Walau harus diakui bahwa dibukanya surah ini dengan uraian tentang peristiwa Isra’ tidak merupakan bukti bahwa surah ini langsung turun sesudah peristiwa itu. Bisa saja ada ayat-ayatnya yang turun sebelum kejadian dan ada juga yang turun sesudahnya.

Ibrahim Ibn Umar al-Biqa‘i berpendapat bahwa tema utama surah ini adalah ajakan menuju ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta\’ala dan meninggalkan selain-Nya, karena hanya Allah Pemilik rincian segala sesuatu dan yang mengutamakan sesuatu atas lainnya. Itulah yang dinamai taqwa yang batas minimalnya adalah pengakuan akan Tauhid/Keesaan Allah swt. yang juga menjadi pembuka surah yang lalu (an-Nahl) dan puncaknya adalah ihsan yang merupakan penutup uraian surah an-Nahl.

Nama Subhana yang mengandung makna penyucian Allah, karena sangat wajar apabila kita menyerahkan pengabdian sepenuhnya kepada Yang Tidak Memiliki Kekurangan sedikitpun. Demikian juga nama Bani Isra’il. Siapa yang mengetahui rincian keadaan mereka dan perjalanan mereka menuju negeri suci, Bait al-Maqdis yang mengandung makna Isra’ yakni perjalanan malam, akan menyadari bahwa hanya Allah yang harus dituju. Dengan demikian, semua nama surah ini, mengarah kepada tema utama yang disebut di atas. Demikian penjelasan al-Biqa‘i.

Menurut Prof M. Quraish Shihab, penamaannya dengan Bani Isra’il dapat terlihat dengan jelas pada awal uraian surah ini. Sembilan ayat pertama merupakan uraian pendahuluan tentang Bani Isra’il menyangkut anugerah Allah kepada mereka, khususnya janji Allah kepada mereka tentang Bumi Kan‘an sebagaimana termaktub dalam Perjanjian Lama, Keluaran VI5-6. Akan tetapi janji itu bukanlah tidak bersyarat, mereka dituntut untuk mengamalkan syariat Taurat, karena itu pada ayat kedua ketiga surah ini mereka diingatkan tentang wasiat dan tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala kepada Nabi Musa Alaihis Salam yang merupakan Nabi yang sangat mereka agungkan.

Sedang pada ayat empat dan lima mereka diingatkan tentang siksa pertama yang menimpa mereka, lalu pada ayat keenam mereka diingatkan tentang pengampunan Ilahi. Ayat ketujuh diuraikan tentang penyiksaan yang mereka alami sebagai bukti kebenaran ancaman Allah. Hingga pada ayat kedelapan dan kesembilan uraian tentang apa yang akan mereka alami di masa mendatang.

Lalu berlanjut surah ini silih berganti, menguraikan tentang ajaran al-Qur’an serta peringatan Allah terhadap kaum muslimin. Bila tidak mengamalkan tuntunan- Nya maka bisa saja akan mengalami nasib yang sama seperti yang dialami oleh BanI Isra’Il itu.

Dijelaskan pula tentang kegagalan orang musyrik untuk membelokkan nabi Muhammad dari petunjuk wahyu yang beliau terima. Ditekankan tentang penghormatan kepada orang tua, kedudukan malaikat dan bahwa pengetahuan ruh tidak mungkin untuk dijamah manusia. Karena ruh adalah kewenangan Tuhan, sebagaimana al-Qur’an yang tidak mungkin ditiru siapapun. Al-Qur’an mengandung haq yang harus diikuti oleh mereka yang rindu pada Tuhannya.

Thabathaba’i berpendapat bahwa surah ini memaparkan tentang Keesaan Allah Subhanahu Wa Ta\’ala dari segala macam persekutuan. Menekankan pada sisi penyucian dan pujian kepada-Nya, karena itu berulang-ulang disebut kata Subhana (Maha Suci). Ini terlihat pada ayat 1, ayat 43, 93, 108, bahkan penutup surah ini memuji-Nya dalam konteks bahwa Allah tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak hina sehingga memerlukan penolong lain.

Wallahu a‘lam bish-shawab.

Sumber utama :

Tafsir Al-Mishbah : pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an / M. Quraish Shihab. Jakarta : Lentera Hati, 2002.

Qur’an Karim dan terjemahan artinya / H. Zaini Dahlan, Ahmad Bahauddin Noersalim (Gus Baha). Yogyakarta : UII Press, 1999.

dan sumber lainnya.


Eksplorasi konten lain dari hasanah.info

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.

Tinggalkan Balasan

Scroll to Top